MAKASSAR, BKM — Pandemi covid-19 yang masih terus berlangsung saat ini, memaksa masyarakat untuk lebih banyak berdiam diri di rumah agar terhindar dari penyakit mematikan tersebut. Tak terkecuali anak-anak.
Karena tak boleh terlalu banyak beraktifitas di luar rumah, termasuk tidak bisa bersekolah, banyak anak-anak merasa suntuk dan cenderung merasa stres. Kendati demikian, menurut psikolog Widyastuti, persoalan itu tidak sampai menyebabkan anak mengalami gangguan jiwa.
Dia mengaku, di awal-awal pandemi covid-19 terjadi, banyak orangtua yang curhat lepas kepada dirinya. Mereka menyampaikan bahwa anaknya suntuk dan bete berada di rumah terus.
Jadi, kata Widya, dia menyarankan agar orangtua pandai-pandai mencarikan alternatif kegiatan untuk sang anak agar tidak merasa bosan berada di rumah.
“Caranya dengan menyalurkan hobi sang anak. Misalnya memelihara hewan, bercocok tanam, dan kegiatan lain yang menyenangkan,” kata Widya.
Namun, lanjutnya, diskusi atau curhat-curhat orangtua tentang anaknya selama pandemi covid-19 tidak berlangsung lama.
“Keluhan-keluhan itu hanya berlangsung dua sampai tiga pekan pertama saat pandemi terjadi. Saat pembatasan sosial diterapkan. Tapi sejauh ini tidak ada yang sampai parah, seperti terkena gangguan mental yang saya ketahui,” jelasnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Makassar Tenri A Palallo menegaskan, pihaknya selama ini terbuka terhadap seluruh laporan yang masuk terkait anak. Namun, tidak ada spesifik yang masuk kriteria anak mengalami gangguan mental selama pandemi.
Kalaupun ada kecenderungan laporan kasus masuk yang mengarah ke hal itu, kata dia, pihaknya tidak berani menyimpulkan jika sang anak mengalami gangguan mental di era pandemi karena aktifitasnya dibatasi.
“Tidak bisaki kira-kira. Psikolog yang lebih berkompeten. Laporan soal kasus anak banyak, tapi tidak bisa dihubungkan dan dipaksa terkait dengan gangguan mental akibat pandemi,” ungkapnya.
Yang jelas, kata dia, selama masa pandemi, layanan perlindungan perempuan dan anak tidak pernah tertutup. Kasus banyak yang masuk. Khususnya terkait kekerasan terhadap anak seperti pencabulan, penelantaran, dan sebagainya.
Diakuinya, anak dan remaja rentan mengalami gangguan kesehatan jiwa selama masa pandemi virus corona atau covid-19. Salah satunya yakni muncul rasa takut yang berlebihan akibat banyaknya informasi negatif yang diterima.
Selain itu, anak dan remaja cenderung merasa bosan berdiam diri di rumah dan tidak bisa berinteraksi dengan teman-temannya, akibat pembatasan sosial yang diberlakukan pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran covid-19.
Tentu saja kebosanan terjadi ketika mereka harus berada di rumah dengan waktu yang sangat lama. Tidak bisa bertemu teman-temannya.
“Kita berharap akan banyak anak bisa pulih dan melihat kembali bagaimana mereka tidak terganggu situasinya dalam keadaan ini. Kembali untuk bisa bersekolah. Karena tidak semuanya paham dan mengerti cara belajar online. Kami tidak selalu punya uang untuk membeli paket data. Belajar online tidak membuat anak-anak kami mengerti materi pelajaran. Malah tambah malas, karena orangtuanyaji yang menjawab. Orangtuanya yang belajar,” ujar Nurmila, salah satu orangtua yang anaknya mesti belajar dari rumah akibat pandemi.
Hal senada dikatakan Erni. Kata dia, jika sekolah yang menjadi tempat anak untuk menuntut ilmu masih terus ditutup, dirinya akan kewalahan. Karena di rumah dirinya sebagai orangtua sudah direpotkan dengan pekerjaan rumah sehari-hari, masih lagi harus direpotkan mengajari anaknya saat belajar daring. (ita-rhm-jun)
Wahai Orangtua, Pandai-pandailah Cari Alternatif Kegiatan
