MAKASSAR, BKM — Musyawarah daerah (musda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Golkar Sulsel dijadwalkan dihelat Minggu hingga Senin (26-27/7). Menjelang pelaksanaan hajatan ini, dukungan kepada bakal calon ketua kian rumit. Kericuhan pun berpotensi terjadi.
Penyebabnya, para pemilik suara yang berasal dari DPD II tidak satu suara dalam memberikan dukungan. Banyak dari mereka yang tidak sejalan dengan sekretaris maupun wakil ketua Golkar kabupaten/kota.
Seperti yang disampaikan Sekretaris DPD II Golkar Jeneponto Suharto Rahman. Ada kesan, pernyataan Suharto tidak sejalan dengan apa yang dilakukan Sang Ketua DPD II H Iksan Iskandar.
“Itu calon jangan suka klaim-klaim suara bos. Jangan sampai dukungan suaranya hanya besar di media, sementara faktanya di lapangan tidak seberapa. Pelan-pelan saja. Jangan terlalu berambisi. Ini pemilihan ketua partai bos,” sindir Suharto yang disampaikan kepada BKM, Kamis (23/7).
Menurut Suharto, mengklaim dukungan suara juga harus rasional. Jangan terlalu mengikuti libodo politik untuk kemudian berambisi menjadi pimpinan partai.
Menurutnya, tidak semua DPD II mendukung calon tertentu hanya karena adanya rekomendasi diskresi dari DPP. Suharto menekankan bila rekomendasi DPP tidak sertamerta dijadikan sebagai alat untuk kemudian kriteria dalam konstitusi keorganisasian diabaikan.
Untuk itu, Suharto mengingatkan DPP agar perlu tahu bahwa keputusan Mahkamah Partai jangan dipolitisasi, serta dijadikan sebagai instrument mencari suara untuk menjadi pemenang di musda.
“Marwah partai ini harus kita jaga betul-betul,” tegasnya.
Sebelumnya, anggota Komisi III DPR RI Supriansa di Makassar, secara terang-terangan mendeklarasikan dukungan suaranya untuk maju di musda X Golkar Sulsel. Adapun dukungan suaranya dari DPD II diklaim berjumlah lebih sepuluh. Antara lain Golkar Bone, Soppeng, Wajo, Pinrang, Enrekang, Jeneponto, Sinjai, Gowa, Tana Toraja, serta Kosgoro dan Soksi.
Bantahan Golkar Selayar
Bantahan juga datang dari Ketua DPD II Golkar Selayar Muh Basli Ali. Basli membantah adanya pemberitaan yang menyebut Golkar Selayar telah memberikan dukungan suaranya untuk Supriansa.
“Itu bohong dan berita itu hoax. Suara Golkar Selayar aman,” tegas Basli Ali.
Basli yang juga bupati Selayar ini, menegaskan bahwa dalam pertemuan sejumlah ketua DPD II bersama Supriansa di Makassar, sama sekali tidak ada perwakilan Golkar Selayar.
Dia mengaku berita serta informasi yang tersebar di publik, itu hanya pengklaiman semata agar dukungan calon tersebut mencukupi 30 persen suara untuk maju di musda.
“Bagaimana caranya hadir sementara saya bersama Forkopimda di Selayar menghadiri peringatan Hari Bhakti Adhyaksa di Kejaksaan Negeri Selayar, kemarin. Jadi saya tegaskan kembali bahwa tidak ada perwakilan Golkar Selayar hadir di Makassar,” tandasnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD II Partai Golkar Takalar Annas GS Karaeng Jalling juga masih belum bersikap dan belum menyebut nama bakal calon yang dijagokannya.
“Saya belum bisa sebut nama siapa yang akan kami dukung. Karena sampai saat ini masih sebatas bakal calon. Hanya saja Golkar Takalar akan memilih dan mendukung yang memiliki kans kemenangan,” ujarnya.
Saat disinggung kehadiran sekretaris Golkar Takalar di acara Supriansa, Annas mengatakan itulah dinamika partai Golkar sebagai partai rakyat yang tidak ada pemegang rinciknya.
“Itulah dinamika Partai Golkar, meski ada perbedaan tetapi itu bukan sebuah prahara. Itulah demokrasi,” tandas mantan sekretaris KPU Sulsel ini.
Menurut Annas, suara Golkar ditentukan di hotel berbintang yang dibawa para pemilik suara. Apakah dilakukan secara aklamasi atau voting, terserah panitia.
“Yang pasti ketua Golkar Sulsel setelah NH harus memenangkan usungan Golkar di pilkada 2020 dan memenangkan pilgub 2024 mendatang,” jelas Annas yang pernah menjabat kepala Biro Humas Pemprov Sulsel.
Sekretaris Golkar Takalar H Nawir Rahman saat dikonfirmasi perihal kehadirannya di acara Supriansa, mengatakan bahwa dirinya mendukung penuh Supriansa. Karena balon ketua DPD I Golkar Sulsel itu berkomitmen untuk berinternalisasi nilai-nilai platform dan program partai yang lebih humanis dan berkeadilan.
“Insyaallah, bersama Pak Supriansa, Golkar Sulsel akan lebih besar. Selain itu, diskresi yang dipegang olehnya adalah sinyal kemenangan,” kata H Nawir Rahman.
Menurutnya, Supriansa adalah kartu as yang sangat mahal. Mampu menjaga marwah dan kewibawaan partai menjadi taruhan bagi seluruh kader dan pengurus partai beringin rindang.
Kontestasi Sangat Menarik
Pengamat komunikasi politik dari Unhas Dr Hasrullah, memberi apresiasi kepada Partai Golkar yang akan menggelar musda di Sulsel. Karena ia melihat, dari sembilan bakal calon ketua yang bakal bertarung, berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari legislator Senayan, wali kota, bupati, hingga pengurus DPD.
”Jadi kontestasinya sangat menarik. Golkar yang membuat acara tentu akan banyak peminatnya. Siapapun bisa masuk ke arena, yang penting kader partai,” kata Hasrullah di redaksi BKM, kemarin.
Terkait potensi chaos yang diperkirakan akan terjadi dalam pelaksanaan musda, Hasrullah menyebut itu sebagai sebuah dinamika. Namun, ia melihat Partai Golkar sudah semakin dewasa dan telah berevolusi.
Tentang siapa yang berpeluang besar memenangkan pertarungan, dosen Fisip Unhas itu melihat sudah ada kandidat yang memainkan opini publik. ”Memang harus begitu. Kader harus tampil dan berbicara di depan publik. Karena media mempunyai kekuatan untuk membentuk opini publik,” tandasnya.
Kontestasi wacana pun, diakui Hasrullah, kini telah terbantuk. Ada blok HAM Nurdin Halid yang pro status quo, dan ada pula kubu yang pro perubahan. Sekarang tinggal bagaimana bisa merebut pendukung dan pemilik suara yang jumlahnya 30. Masing-masing 24 DPD II, satu DPP, satu DPD I, serta empat kino-kino partai.
”Sekarang ini ada kader Golkar pusat yang jadi newsmaker. Bahkan sudah ada DPD II yang memberi dukungan. Mana yang paling kuat?,” terangnya.
Menurut Hasrullah, masyarakat kini disuguhkan dengan kontestasi yang begitu bagus. Semoga saja marwah Golkar yang cukup dinamis ini bisa berdampak untuk partai ke depan.
”Politik itu seni merakit kemungkinan. Supriansah sudah berhasil melakukan lobi di DPP. Baru berkiprah di Golkar sudah dapat perlakuan khusus,” imbuhnya.
Bagaimana dengan kandidat lain, seperti Wali Kota Parepare Taufan Pawe serta Bupati Pangkep Syamsuddin A Hamid? Secara diplomatis, Hasrullah langsung menyebut masih ada kandidat lain, seperti Syamsul Alam Mallarangeng, ataupun Kadir Halid.
”Orang-orang yang mengurus politik itu tidak hanya pintar bicara. Tapi juga harus tahu bagaimana caranya mengelola partai. Butuh manajer partai. Selain pintar bicara, juga bisa mengelola partai. Ibarat mobil, harus ada uang bensin dan modal politik. Bukan hanya kapasitas politik dan manajemen tapi juga kapasitas ekonomi yang bisa menggerakkan partai. Orang yang tidak bisa muncul di publik, bisa nyalib di musda. Karena punya modal seperti itu,” tandasnya. (krk-ira-rif)
