Site icon Berita Kota Makassar

Dorong Staf Jadi Owner, tak Khawatir dengan Persaingan

BISNIS katering tumbuh bak jamur di musim penghujan. Jumlahnya kian bertambah dari waktu ke waktu. Siapa sangka, usaha ini dulunya terkesan dipandang sebelah mata. Setidaknya begitu pengakuan H Lukman Abdul Rahim Gassing, pemilik Katering Melati.

TAMPIL di Podcast Bisnis Berita Kota Makassar yang tayang Sabtu (25/7), H Lukman bertutur dari awal merintis bisnisnya hingga besar seperti ini. Ia menceritakan pengalaman suka dan dukanya kepada Wakil Direktur BKM Muh Arsan Fitri yang mewawancarainay.
Mengenakan baju batik lengan panjang warna biru motif putih, H Lukman mengawali dengan menyebut tanggal 15 Juli 1993 sebagai awal memulai usaha kateringnya. Artinya, sudah 30-an tahun dirinya menggeluti bisnis jasa boga ini.
Kala itu belum ada yang mendirikan usaha sejenis. Sehingga bisa dikatakan Katering Melati menjadi pelopor bisnis jasa boga di Makassar.
”Di era itu banyak orang di Makassar yang bisa masak. Namun, belum ada yang mendirikan badan usaha khusus katering. Saya kemudian mendirikan CV Melati Abadi Jaya. bergerak di usaha jasa boga dan suplayer bahan makanan,” ujarnya.
Ketertarikan H Lukman terjun ke bisnis masak memasak ini bukan tanpa dasar. Ia memang memiliki turunan yang ahli masak, yaitu neneknya yang kemudian turun ke ibunya.
”Saya ini bungsu dari empat bersaudara. Bapak sudah meninggal ketika saya masih berusia 40 hari. Karena ibu ketika itu merawat tiga kakak saya yang masih kecil, nenek yang tinggal di Bone kemudian mengambil dan memelihara saya. Dari empat bersaudara, hanya saya yang bisa memasang,” kenangnya.
Masa kecil Lukman pun dilalui dengan kenangan yang tak akan pernah terlupakan. Dari situ pulalah jiwa bisnisnya di bidang kuliner terasah.
Ketika duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas V, Lukman sudah terbiasa berjualan. Ia menjajakan kue tradisional khas Bugis yang dibuat neneknya. Lakon itu dilakukannya sepulang dari sekolah. Berkeliling keluar masuk pasar yang ada di Kota Watampone. Pukul 5 sore barulah dirinya pulang ke rumah.
”Sejak kecil saya memang sudah dididik oleh nenek untuk berjualan. Menurut nenek hidup itu keras. Kalau mau hidup enak, harus usaha apa saja. Lebih baik berusaha daripada meminta,” tuturnya menirukan petuah sang nenek.
Dia pun menceritakan sebuah pengalaman yang paling membekas ketika berjualan aneka. ”Saya pernah berjualan di depan toko. Di situ ada anjing herdernya. Induknya bersama tiga ekor anaknya. Waktu melihat saya lewat, tiga anaknya langsung menggigit keranjang tempat kua yang saya bawa. Karena takut, saya langsung lari. Kue dan keranjangnya saya tinggalkan,” jelas H Lukman lagi.
Sesampainya di rumah, Lukman pun bercerita kepada neneknya tentang kejadian yang baru saja dialaminya. Marahkah sang nenek? Ternyata tidak. Sambil tertawa, dengan nada bijak ia berujar; ”Sudahlah, pasti akan ada gantinya yang lebih besar.”
Benar saja, tak sampai seminggu usai peristiwa itu, neneknya menerima pesanan kue dalam jumlah banyak.
Sadar akan pentingnya pendidikan, H Lukman kemudian melanjutkan kuliah. Jurusan yang dipilihnya tak jauh-jauh dari bisnis. Ia memilih Fakultas Ekonomi di Universitas Hasanuddin, Makassar dan tercatat sebagai alumni 1983.
Namun, sebelum menuntaskan proses perkuliahan, Lukman mencoba mencari pekerjaan. Dengan menggunakan ijazah SMA, dirinya diterima bekerja di Bosowa pada tahun 1991.
Bukan tanpa alasan pula ia bekerja sambil kuliah. Selama tujuh tahun di Bosowa, Lukman mengaku menggalang jaringan bisnis. Bekal ini pula yang kelak membantunya dalam memperluas jaringan bisnis.
”Saya memulai bisnis katering ini dari nol. Dalam prosesnya, saya selalu membekali diri dengan ilmu dan link. Basic S1 saya ekonomi bidang bisnis. Selain itu, juga mengambil kursus kilat di Balai Pariwisata Bandung. Belajar tentang manajemen katering slama enam bulan,” ungkapnya.
Rampung kuliah di Unhas, Lukman kembali melanjutkan pendidikan. Ia memilih kuliah jarak jauh S2 manajemen bisnis food and restaurant di Singapura. Selesai tahun 2003.
Usaha memang tak pernah mengkhianati hasil. Berkat usahanya membekali diri dengan ilmu serta relasi, empat bulan usaha kateringya berjalan, Lukman mendapat kontrak luar biasa. Salah satu biro perjalanan haji ONH Plus ternama ketika itu, yakni Tiga Utama menjalin kerja sama dengannya.
Tidak tanggung-tanggung, kerja sama ini selama periode lima tahun. Itu pun tempatnya bukan di Indonesia, melainkan di Arab Saudi.
”Katering Melati ditunjuk untuk menangani makanan jamaah haji ONH plus dari seluruh dunia. Karena Tiga Utama ONH plusnya bukan hanya di Indonesia, tapi juga Amerika, Singapura, dan Thailand. Mereka bekerja sama dengan travel di seluruh dunia,” bebernya.
Dalam rentang waktu kerja sama itu pula, kurang lebih 40 chef Katering Melati berhasil dihajikan. Mereka dibarangkat secara bergiliran ke Tanah Suci setiap tahun untuk melayani makanan para jamaah di sana. Antara 12-15 orang chef dibawa ke Arab Saudi dengan kontrak kurang lebih dua bulan. Mereka bertugas melayani kurang lebih 4.000 jamaah yang datang dari seluruh dunia. Terbanyak dari Indonesia
”Karena jamaahnya dari berbagai negara di dunia, jadi makanan yang disiapkan bukan hanya masakan Indonesia. Tidak ada kendala, karena chef yang kita rekrut memang sudah punya dasar meramu makanan dari banyak negara. Tinggal dipoles saja dengan belajar resep dari negara tersebut,” jelasnya lagi.
Diakuinya, keuntungan dalam bentuk rupiah yang diperoleh ketika itu tidaklah terlalu besar. Melainkan nilai ibadah dan berkah yang diperoleh. Chefnya bisa menunaikan ibadah haji, sekaligus melayani tamu-tamu Allah dari penjuru dunia.
H Lukman juga berbagi trik untuk bisa bertahan dalam rentang waktu puluhan tahun dengan usaha yang sama. Kata dia, bisnis makanan tidak ada matinya. Sesulit dan sesusah apapun orang, dia butuh makan. Harus buat acara pernikahan.
Ia kemudian merujuk di tahun 1998, yang ketika itu krisis ekonomi melanda. Di tengah kesulitan, Katering Melati masih mampu memberikan gaji 13 untuk karyawannya.
Di tahun 2000-an, semakin banyak usaha jasa boga yang muncul. Namun hal itu tak membuat gentar H Lukman. Ada tiga strategi yang selalu dipegangnya dengan teguh. Pertama, memperhatikan kualitas makanan. Kedua, pelayanan. Ketiga harga. ”Walaupun pendatang baru banyak, kita selalu mengikuti alur harga, pelayanan lebih ditingkatkan. Begitu pula dengan kualitas. Dengan cara seperti itu, otomatis pelanggan lama sulit untuk berpaling. Ada yang pindah sekadar untuk mencoba, namun kembali lagi,” terangnya.
Ia menekankan bahwa dalam bisnis katering, rasa menjadi hal yang utama. Secantik bagaimana pun dan sebagus apapun penampilan makanannya, kalau rasanya kurang oke di leher, jangan harap orang datang dua kali. ”Mereka mencari rasa terlebih dahulu,” tandasnya.
Walau sudah berhasil dengan usahanya, H Lukman tidak pelit untuk berbagai. Ia selalu berbagi dengan orang lain. Tak terkecuali bagi karyawan dan stafnya.
”Saya selalu mendorong mereka yang bekerja di saya untuk juga mendirikan usaha seperti saya. Alhamdulillah, sampai sekarang sudah ada kurang lebih 20 catering baru dan sudah jadi katering besar dulu pemiliknya bekerja di Katering Melati. Seperti Balqis dan Tonyamang. Jadi prinsipnya hangan selalu jadi staf. Harus bisa menjadi owner juga,” ujarnya.
Tidak takutkah usahanya tersaingi? H Lukman kembali bertutur bijak. ”Yang namanya rezeki itu tidak akan tertukar. Perbaiki kualitas dan layanan, rezeki akan datang,” imbuhnya.
Pandemi covid-19 yang melanda saat ini, ternyata juga berdampak pada bisnis katering. Mereka yang bergelut di bidang ini pun harus mencari celah agar bisa bertahan. Salah satunya dengan menjual makanan dalam bentuk beku. Atau bekerja sama dengan operator ojek daring untuk memasarkan kulinernya.
”Saya kembali kepada prinsip bahwa sesulit apapun orang, pasti mau makan. Pesanan pun tetap ada, walau jumlahnya tidak lagi seperti hari-hari biasa,” akunya.
Untuk menyiasati kondisi yang terjadi saat ini, H Lukman dengan terpaksa melakukan efisiensi. Dari 40 karyawan yang dipekerjakannya selama ini, ia telah merumahkan kurang lebih 18 orang. Yang bekerja tersisa 22 orang dengan cara digilir per pekan. Sehingga semuanya bisa mendapat pekerjaan, walaupun tidak seperti sebelumnya.
Namun, tetap ada hikmah dari sebuah bencana. Di tengah wabah yang berlangsung saat ini, pengusaha katering tetap mendapat pesanan dari Badan Penanggulangan Bencana. Mereka diminta menyiapkan makanan untuk pasien yang menjalani karantin serta yang dirawat di rumah sakit.
“Walaupun kecil, sudah ada pesanan yang masuk. Untuk acara-acara dengan batas 200-an itu sudah ada. Tapi untuk porsi 1.000 ke atas belum ada. Mulai bergerak dibanding dua bulan lalu,” jelas Lukman yang juga ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI) Sulsel.
Menjabat posisi ini kurang lebih tujuh tahun, APJI Sulsel kini telah memiliki 300 anggota. Mereka terdiri dari pengusaha katering, suplayer bahan makanan, serta UKM yang bergerak di bidang kuliner. Fungsi APJI membina dan memberikan ilmu orang yang bergerak di bidang kuliner. Termasuk bagaimana bekerja sesuai standar kesehatan. Juga tentang jenis makanan apa yang cocok dijual. Tentunya melalui pelatihan-pelatihan dengan bekerja sama Dinas Koperasi, Dinas Pariwisata, serta Dinas Kesehatan.
Di akhir pembicaraan, H Lukman berbagi tentang apa yang mesti dilakukan untuk membangun bisnis katering. ”Kalau modalnya tidak seberapa. Yang terpenting ada kemauan dan ulet. Gengsi dibuang jauh-jauh, karena pekerjaan ini oleh sebagian orang dianggap ‘hina’. Bahkan zaman dulu dicemooh. Dibilangi, belajar sampai jadi sarjana tapi kerjanya memasak. Biar tidak sekolah sudah bisa memasak,” cetusnya.
Mereka, lanjut Lukman, tidak pernah tahu dengan kondisi yang akan terjadi seperti sekarang. 80 persen chef saat ini dilakoni laki-laki. Bahkan mereka yang sudah mapan, banyak yang terjun ke bisnis jasa boga, seperti membukla restoran ataupun kafe. (*/rus)

Exit mobile version