MAKASSAR, BKM — Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulsel ke X rencananya digelar di Hotel Aston, Makassar pada Senin (277). Hanya saja, pelaksanaannya batal lantaran tidak mendapatkan izin dari kepolisian.
Musda akhirnya diusul untuk dihelat di Jakarta dengan menyurati Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar Airlangga Hartarto. Namun hingga kini hal tersebut belum direspons. Apalagi menurunkan jadwal kapan musda digelar di Jakarta.
Sekretaris Steering Commite (SC) Musda Golkar Irwan Muin mengaku belum menerima jawaban dari DPP. “Belum ada jadwal. Kami masih menunggu jadwal dari DPP,” ujar Irwan Muin, Minggu (26/7).
Ketua Organizing Commitee (OC) musda Muhammad Risman Pasigai, mengemukakan bahwa yang pasti musda digelar di Jakarta pada awal Agustus mendatang. “Waktu Agustus dan tempat di Jakarta,” katanya.
Molornya musda hingga lokasi berpindah terkesan ada pihak yang ingin ‘bermain’ bahkan ingin ambil keuntungan. Menurut pengamat politik dari Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto, musda Golkar memang semakin dinamis, bahkan berpotensi berakhir dramatis. Soal dukungan ganda di masa penjaringan calon, sebenarnya hal yang biasa saja. Tetap ada tahap verifikasi dukungan, sebelum sampai penetapan calon.
Meskipun sudah semakin kelihatan kutub rivalitas antara pro-status quo versus pro-perubahan, Syamsuddin Hamid dan Supriansa akan bertarung mewakili kelompok itu. Kandidat lain akan segera menentukan sikap. Dengan demikian, klaim dukungan yang dimiliki akan menjadi alat bargaining untuk merebut posisi-posisi strategis di kepengurusan baru.
“Pemilik suara yang bermain ”dua kaki” akan segera terdeteksi melalui proses verifikasi kepengurusan yang sah. Mereka yang bermain di “dukungan ganda” cenderung tidak memiliki bargaining yang kuat pada kandidat. Sikap oportunis menggandakan dukungan, lebih bersifat pragmatis dan berorientasi jangka pendek,” jelas Luhur.
Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Unibos Dr Arief Wicaksono, mengungkapkan bila yang paling diuntungkan oleh musda Golkar adalah para tokoh selain keluarga HAM Nurdin Halid (NH), terutama dari faksi pembaharu. “Itu terbukti dari mundurnya Kadir Halid dari pencalonan di musda. Berarti memang sudah ada hitung-hitungan secara detail di keluarga NH soal itu,” jelas Arief.
Dosen komunikasi politik dari UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad, mengemukakan bahwa penundaan musda itu tepat di tengah pandemi covid yang masih mewabah. Namun suhu politik Golkar makin memanas. Penundaan itu berdampak pada kader yang bakal maju.
Supriansa tergolong kurang diuntungkan karena konsolidasi yang dibangun dapat buyar atau bubar. Sebaliknya kader yang disiapkan lainnya, Taufan Pawe dan Syamsuddin Hamid juga berebut pengaruh NH, sehingga berpotensi lahir friksi-friksi baru.
“Tampaknya, arah musda masih dalam kendali NH. Baiknya Supriansa tidak “keluar” dari pengaruh NH sebagai pimpinan partai. Partai ini butuh estafet secara sehat, bukan perlawanan baru. Tokoh yang diuntungkan di antaranya Taufan Pawe, NH tetap memiliki pengaruh. Termasuk pada pilgub mendatang,” pungkas Firdaus.
Serahkan Dukungan
Sehari sebelumnya, Sabtu (25/7), empat dari sembilan bakal calon yang telah menyerahkan berkas dukungannya. Mereka adalah anggota DPR RI dua periode Hamka B Kady, anggota DPR RI Supriansa, Ketua DPD II Golkar yang juga Wali Kota Parepare Taufan Pawe dan Ketua DPD II Golkar yang juga Bupati Pangkep Syamsuddin A Hamid.
Taufan Pawe mengembalikan surat dukungan sebagai bentuk keseriusannya untuk maju di musda Golkar Sulsel. Saat menyerahkan berkas dukungan kepada steering committee musda di Sekretariat Golkar Sulsel, TP didampingi Sekretaris Golkar Sulsel Abdillah Natsir.
Abdillah Natsir juga merupakan plt ketua Golkar Luwu, dan salah satu bakal calon di musda. “Alhamdulillah, kita sudah memenuhi syarat dukungan. Berkahnya, saya didampingi salah satu rival saya Bapak Abdillah Natsir,” ucap TP.
Meski menguntungkan baginya karena adanya bakal calon dan pemilik suara di musda memilih bergabung dan mendukung, TP tetap merendah. Hanya saja, ia tidak menyebut berapa jumlah surat dukungan terhadap dirinya. “Saya tidak menyebut berapa jumlahnya. Insyaallah, saya tetap yakin sesuai dengan kouta yang ada,” tandasnya.
Saat ditanya bagaimana ia meyakinkan pemegang suara sampai mengeluarkan surat dukungan, TP mengatakan dia menawarkan konsep kebersamaan membesarkan Partai Golkar.
“Golkar ini adalah partai besar. Muatan-muatan kapal dan rumah besar ini adalah kader-kader yang cerdas. Nah, tentu kami menawarkan konsep utama bagaimana menghadapi perhelatan politik kedepan. Ini harus kita cepat bergerak dan menggunakan metodologi yang diyakini dan tentu diawali dengan sinergitas semua kader. Yang tidak kalah pentingnya adalah konsep kebersamaan,” terangnya.
Menurut TP, tanpa kebersamaan sulit untuk mengelolah sebuah partai besar seperti Golkar menuju sasaran jangka panjang. (mup-rif/c)
