GOWA, BKM — Jajaran Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Kabupaten Gowa bergerak aktif mengedukasi para pemilik rumah potong hewan yang masih enggan memanfaatkan RPH (rumah potong hewan) yang telah disiapkan Pemerintah Kabupaten Gowa di wilayah Bukit Tamarunang Indah, Kelurahan Tamarunang, Kecamatan Somba Opu.
Sejak terbangun, RPH Gowa tidak optimal dimanfaatkan para penjagal atau pemilik ternak hewan sapi yang ada di Gowa. Mereka lebih memilih memotong atau menyembelih sendiri di RPH buatannya yang dominan ditempatkan di rumah sendiri. Padahal, tidak memenuhi akses pengolahan limbah yang baik.
”Makanya, kami arahkan semua pemilik ternak yang melakukan usaha pemotongan agar memanfaatkan RPH milik pemerintah ini. Sehingga kualitas kebersihan daging potongnya terjamin. Namun sayang para pemilik ternak sepertinya enggan dengan alasan terlalu jauh dari rumahnya. Tidak ada alat transportasi untuk pengangkutan dan tempat pemotongan di RPH berskala kecil karena hanya bisa memotong 3 sampai 6 ekor sapi per hari,” jelas Kadis Nakbun Gowa, Suhriati kepada BKM, di kantornya, Jumat (24/7).
Dikatakan Suhriati, sejauh ini pihaknya terus menerus melakukan edukasi hingga door to door kepada para pemilik ternak di kawasan Somba Opu. Seperti dilakukan pada Kamis (23/7) di RPH swasta milik seorang warga bernama Ahmad Dg Lala, di Kelurahan Samata, Kecamatan Somba Opu. Tepatnya di wilayah perbatasan Gowa-Antang Kota Makassar.
Di penangkaran sapi milik Ahmad Dg Lala terdapat 120 ekor sapi jenis sapi bali. Penangkaran ini sekaligus sebagai stok untuk penjualan dan pemotongan jika pembeli menginginkan.
Selain sebagai rumah potong hewan, Ahmad Dg Lala juga membuka usaha industri kulit bahan baku krupuk kulit yang kemudian dikirim ke Surabaya dan Lombok.
Sayangnya, rumah potong Ahmad Dg Lala ini belum memiliki pengolahan limbah sehingga belum bisa dijadikan RPH yang memenuhi syarat potong.
Ahmad Dg Lala juga mengaku telah mengantongi sertifikasi halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia).
” Yang saya belum punya adalah dokter hewan dan pengolahan limbah. Itu yang tengah saya urus. Selama ini, saya hanya menggunakan tenaga kesehatan mantri peternakan. Saya punya penjagal (pemotong) lima orang. Dan yakin maki rumah potong saya mungkin yang terbaik dan terbersih (tidak berbau) di Sulsel. Saya sangat utamakan kebersihan rumah potong saya ini, mulai dari tempat penyembelihan, lalu pencacahan dan pembersihannya,” ungkap Ahmad Dg Lala yang masih berusia 40-an tahun dengan gaya nyentrik, berambut gondrong ini. (sar)
