Site icon Berita Kota Makassar

Selamat Berkat Rambut, yang Meninggal Atlet Porda

SOPPENG, BKM — Tragedi perahu terbalik di Danau Tempe Toddangsaloe, Kelurahan Limpomajang, Kecamatan Marioriawa pada Minggu (26/7), menyisakan duka mendalam. Terutama bagi keluarga tiga korban meninggal.

Mereka yang menjemput ajal dalam peristiwa itu masing-masing Rahmat Hidayat (17), Andi Dede Hardiyanugrah (26), dan Muh Rizaldi (23). Semuanya telah dimakamkan secara terpisah oleh pihak keluarga, Senin (27/7).
Sementara empat di antaranya selamat, masing-masing Burhanuddin (23), Ahmad Firdiyan (12), dan Anca Setiawan (12), serta Jumadi (20).
Kepada BKM kemarin, Ahmad Firdiyan, salah seorang korban yang lolos dari maut menuturkan perjuangannya hingga bisa selamat. Menurutnya, perahu yang ditumpanginya terbalik setelah dihantam ombak. ”Kira-kira 50 meter perahu berhalan, tiba-tiba ombak besar menghantam perahu hingga oleng. Air pun mulai masuk. Saya langsung melepas tas dan langsung lompat turun dari perahu lalu berenang,” ujarnya.
Saat kejadian, lanjut Ahmad, perahu mengangkut tujuh orang penumpang. Satu lainnya adalah pemegang kemudi bernama Jumaldi.
”Waktu melompat, saya tidak perhatikan lagi teman-temanku yang lain. Yang ada dalam pikiran saya, pasti saya meninggal karena sayalah yang paling kecil. Pasti mereka semua bisa menyelamatkan dirinya,” terang Ahmad.
Akhirnya, tanpa pikir panjang dia pun langsung melompat ke danau. Apalagi dari kejauhan ia melihat pohon lontar. Ahmad kemudian berusaha sekuat tenaga untuk bisa sampai dan merangkul pohon tersebut.
”Saya berupaya berenang sekuat tenaga. Namun belum seperdua perjalanan, saya sudah mulai kehabisan tenaga. Saat itu saya antara sadar dan tidak. Tiba-tiba ada nelayan lewat dan langsung menarik rambut saya dan menaikkan di perahunya. Selanjutnya saya dibawa ke daratan,” jelasnya.
Sementara Jufri, nelayan yang menolong Ahmad, mengatakan saat itu dirinya dari kejauhan melihat ada anak yang tengah berenang. Ia tampak kehabisan tenaga. ”Sayang langsung menolongnya. Saat itu dia sudah hampir tenggelam. Beruntung saya masih sempat pegang rambutnya,” kata Jufri.

Dimakamkan Terpisah

Rahmat Hidayat, siswa kelas XII SMA Negeri 6 Soppeng, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa yang meninggal akibat tenggelamnya perahu di danau Tempe, telah dimakamkan pihak keluarganya, Senin (27/7) pukul 09.00 Wita. Ia dikebumikan di Pekuburan Islam Galungkalunge, Desa Bulue.

Duka masih menyelimuti kedua orangtuanya, Rasidi dan Nasma. Mereka sangat kehilangan anak bungsunya dari lima bersaudara.
Pantauan BKM di rumah duka menjelang siang, kemarin sejumlah kerabat dan rekan korban masih berdatangan untuk memberi dukungan moril. Mereka berharap keluarga yang ditinggalkan, tabah menerima takdir ilahi.
Tak terkecuali guru pelatih Rahmat Hidayat. Almarhum merupakan salah satu atlet yang tergabung dalam Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBSI) Kabupaten Soppeng. Ia sudah sering mewakili Soppeng di ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda) pada cabang bola voli.
Sekretaris Umum PBVSI Soppeng Rustam, didampingi pelatih Aris menuturkan, Rahmat Hidayat merupakan pemain andalan PBVSI. Ia bersama timnya baru-baru ini berhasil meraih juara III voli pasir Smanko Makassar.
Hasbi Rasidi, kakak kandung almarhum mengatakan adiknya sedari kecil punya cita-cita ingin jadi polisi dan pemain voli andalan. ”Kak, saya nanti mau jadi polisi dan mau jadi pemain voli terhebat, seperti Imam, pemain voli yang selalu ikut PON,” kata Hasbi menirukan kata-kata adiknya semasa hidupnya.
Hasbi menguraikan bahwa adiknya merupakan adalah sosok penurut dan banyak temannya. Selain voli, Rahmat Hidayat juga menguasai hampir semua cabang olahraga. Seperti sepak takraw, tenis meja, bola voli, dan sepak bola.
”Tapi inilah jalan takdir adikku. Dia tidak makan ikan, tapi kenapa tiba-tiba mau ke danau makan ikan bersama teman-temannya. Padahal sejak lahir dia tidak pernah makan ikan. Ternyata dia sudah mau pergi dan tidak akan pernah kembali lagi,” tutur Hasbi dengan air mata berlinang.
Hal serupa dirasakan keluarga Andi Dede Hardianugrah. Kepergiannya untuk selama-selamanya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya pada keluarga dan kedua orangtuanya. Namun juga sangat dirasakan oleh teman-teman di organisasi Ikatan Mahasiswa Pelajar Soppeng (IMPS) Rayon Marioriawa.
Seperti diungkapkan Reski Hasan, demisioner IMPS rayon Marioriawa. Kata dia, secara pribadi dan organisasi dirinya merasa kehilangan atas kepergian Andi Dede.
”Beliau adalah senior kami. Ia cukup bijak dan penuh dedikasi kepada semua teman. Selain kami sudah anggap seperti teman, dia juga sudah seperti keluarga kami. Bersama-sama tinggal di sekertariat IMPS di Makassar,” terang Reski Hasan
Andi Dede Hardianugrah merupakan salah satu dewan senior IMPS Rayon Marioriawa. Bersama senior lainnya, ia mengaktifkan kembali IMPS Rayon Marioriawa pada tahun 2012 . Dede juga menjabat sebagai pengurus pusat IMPS hingga mengembuskan napas terakhirnya. Ia dimakamkan di TPU Padali, Desa Tellulimpoe, Kecamatan Marioriawa pukul 11.00 Wita.
Begitu pula almarhum Muh Risaldi. Kesan bersamanya tak bisa dilupakan oleh teman-temannya. Ical –begitu ia karib disapa–, kesehariannya sebagai guru honorer di SDN 200 Bulue, Desa Bulue, Kecamatan Marioriawa.
Almarhum merupakan anak bungsu dari pasangan H Kadir dengan Hj Norma. Salah satu rekannya bernama Ancu menuturkan, bahwa Ical selain ramah, juga tak pernah berkata tidak bila orang meminta tolong kepadanya. ”Dia hormat kepada setiap orang, baik orangtua maupun sesama teman dan rekannya. Kepribadian yang sangat baik,” jelas Ancu.
Pemakamannya dilakukan di Pekuburan Islam Lejja, Desa Bulue, Kecamatan Marioriawa pukul 13.00 Wita. (ono/b)

Exit mobile version