PANDEMI covid-19 telah mengubah banyak hal pada berbagai bidang. Tak terkecuali di sektor pendidikan. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan sistem daring (dalam jaringan) alias online menjadi pilihan ketika peserta didik tak bisa hadir di sekolah. Hal ini menuntut para guru untuk melahirkan inovasi pada model pengajarannya.
BHAKTI Pandi Hasin sehari-hari ini adalah guru kelas VI di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sudirman III, Makassar. Di tengah mewabahnya covid-19, ia tak bisa bertemu secara langsung dengan murid-muridnya. Namun hal itu tak menyurutkan tanggung jawabnya dalam proses mencerdaskan anak-anak bangsa.
Upaya mengupgrade diri terus ia lakukan. Terutama dalam menggunakan serta mengoperasikan beberapa aplikasi pembelajaran daring agar belajar mengajar tetap berjalan.
Belum lama ini, ayah dua anak ini mengikuti sebuah pelatihan pembelajaran daring berskala nasional. Diikuti sebanyak 200 peserta. Hingga di akhir pelatihan, yang bertahan dan dinyatakan lulus hanya 39 orang. Dari jumlah itu, dua di antaranya dari Makassar. Salah satunya Bhakti. Sementara satu lainnya adalah guru dari SD Paccinang.
Tidak mudah bagi Bhakti untuk bisa sampai di tahapan akhir. Ia mesti menciptakan sebuah identitas tersendiri melalui inovasi pembelajaran. Ia memilih aplikasi kuizzis. Apa itu?
”Secara umum saya menerapkan aplikasi google classroom. Ini salah satu aplikasi belajar daring yang tengah marak dan banyak digunakan para guru,” ujar Bhakti, kemarin.
Di sini google mencoba untuk memindahkan ruangan kelas ke ranah daring. Jadi seorang guru masih bisa bertemu dengan para murid. Hanya saja kini melalui layar gawai serta laptop masing-masing sehingga lebih praktis.
Pada aplikasi tersebut, fitur-fitur yang tersedia cukup sederhana namun mampu mengcover semua kegiatan dalam pembelajaran di kelas pada umumnya. Sehingga dapat memudahkan seorang guru dalam membuat, membagikan, dan menggolongkan setiap penugasan tanpa kertas. Bahkan guru juga bisa berinteraksi secara langsung dengan siswa.
Di dalam google classroom, sebut Bhakti, terdapat aplikasi forum komunikasi arah antara guru dan siswa. Penyampaian materi disertai proses tanya jawab bisa dilaksanakan. Hanya saja, kendalanya karena hanya dalam bentuk komentar berupa tulisan.
Selain itu, ada pula fitur tugas kelas. Melalui aplikasi ini guru memberikan tugas dan menyampaikan tugas melalui fitur tersebut dan terjadi interaksi.
Ada juga fitur anggota. Di sini ada gambaran beberapa orang peserta dalam google classroom. Bisa terkoneksi ke beberapa aplikasi. Guru bisa langsung terhubung ke link Youtube.
Aplikasi classroom disediakan juga pada saat anak-anak akan melaksanakan ulangan harian serta ujian semester. Bisa dilaksanakan di google dengan cara membuat link google form, dibagikan untuk mengakses ulangan tersebut di dalam classroom.
Aplikasi google meet bisa mempertemukan secara langsung guru dan siswa untuk penjelasan materi dan sangat simpel. Guru hanya membagikan link meeting melalui WA. Selanjutnya anak-anak bisa langsung join ke dalam pembelajaran secara tatap muka melalui daring.
Untuk menciptakan suasana pembelajaran lebih menarik, Bhakti memilih satu aplikasi lagi yang bernama kuizzis. Ini bisa dipakai untuk membuat gim bagi peserta didik. Di sini anak-anak berkompetisi dalam menyelesaikan kuis atau soal yang diberikan. Selanjutnya mereka berlomba mengumpulkan jawaban yang paling tepat.
”Tolok ukurnya di sini adalah kemampuan murid dalam menyelesaikan soal dalam kuizzis. Ada poin-poin penilaian yang diberikan. Durasinya juga sudah ditentukan di aplikasi. Misalnya, satu soal waktunya 30 detik. Kalau sudah habis waktunya, selesai atau tidak selesai dikerjakan, akan beralih ke soal berikutnya,” papar Bhakti.
Diakuinya, pembelajaran dengan memanfaatkan aplikasi kuizzis ini cukup diminati para peserta didik. ”Biasanya, saya sampaikan bahwa kuis akan dilakukan pukul 8 pagi. Sebelum sampai di jam itu, mereka sudah bertanya kapan dimulainya. Dengan aplikasi kuizzis ini bisa langsung dilihat hasilnya dan dibagikan ke email orangtua,” terangnya lagi. (*/rus)
