BANTAENG, BKM — Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, berdampak pada dunia pendidikan di Bantaeng. Para orang tua mengaku sangat terbebani. Selain karena harus merangkap sebagai guru, mereka juga mengeluhkan biaya internet.
Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Bantaeng, H Muhammad Haris mengatakan akibat pandemi Covid-19, bukan hanya ditiadakannya pembelajaran tatap muka tapi juga berdampak pada masalah perekonomian.
Kesulitan belajar jelas Kadis memaksa para orang tua dan guru bekerja keras membawa bahan ajar ke rumah-rumah anak didik.
Dikemukakan Kadis, jumlah peserta didik di Bantaeng diatas angka 30 ribu. “Saya lupa berapa jumlah persisnya tapi yang pasti diatas 30 ribu”, katanya.
Dari angka tersebut, hanya 20 persen yang Daring (dalam jaringan). Sisanya berada di Luring (luar jaringan). ” Cuma 20 persen yang Daring’, imbuhnya.
Orang tua murid Hasanuddin, Selasa (11/8) mengaku dirinya yang sehari-hari berjualan harus mengeluarkan biaya tambahan Rp 210 ribu membeli kuota internet untuk dua anaknya.
Jamaluddin, pekerja serabutan, mengatakan tiga orang anaknya menumpang di rumah tetangganya yang punya jaringan wifi. Itu pun, kata dia, ketiga anaknya bergantian menggunakan sebuah ponsel yang dibeli secara kredit.
Keluhan miris diungkapkan Daeng Kama, warga Kecamatan Bissappu. Kata dia, jangankan membeli HP dan kuota internet, untuk makan sehari-hari saja sangat sulit sejak penetapan pandemi corona.
“Pekerjaan saya tukang batu. Anak saya dua orang yang masih sekolah. Sejak pandemi, orderan pekerjaan tidak ada yang menyebabkan anak saya tidak bisa belajar”, lirihnya. (wam/C)
Kadis Prihatin Cuma 20 Persen Daring
