ALAT musik yang sangat mirip dengan gitar, ukulele juga merupakan salah satu alat musik petik yang sering dipakai untuk mengiringi berbagai lagu. Biasanya, alat musik ini sering digunakan untuk mengiringi musik berjenis keroncong, reggae, dan hawaian. Hanya saja, terasa asing jika alat ini dimainkan oleh gadis cilik seperti Lady Valeska Kristian.
Seperti di saat pembukaan Pameran Festival Aksara Lontaraq 2020, akhir Agustus lalu, Lady Valeska Kristian siap memetik ukulelenya. Bahkan tamu undangan yang hadir di festival tersebut begitu menikmati suara merdu Lady yang menyanyikan lagu Anging Mammiri dan Alla Massea-sea, diiringi petikan gitar dari jemari gadis berusia 11 tahun itu.
Sementara pelukis tanah liat, Zaenal Beta berada di sisi kanan panggung menghadap ke kanvas seukuran 1 m × 80 cm langsung beraksi melukis dengan tangannya tanpa kuas saat Lady mulai menyanyikan lagu Anging Mammiri. Tanah liat warna-warni tak lama kemudian membentuk sosok yang dilukisnya: Lady. Hanya dalam hitungan sekira 8 menit, lukisan yang menjadi penanda pembukaan pameran itu pun rampung.
Kolaborasi dua generasi berbeda itu, yakni pelukis tanah liat berumur 60 tahun, Zaenal Beta dan pemain ukulele cilik, Lady merupakan kolaborasi yang sangat apik.
Bagi Zaenal Beta, tampil berkolaborasi dengan seniman lain sudah menjadi hal biasa. Zaenal Beta, misalnya, pernah berkolaborasi dengan musisi Cucut dan penulis Rusdin Tompo, saat peluncurun buku Sehimpun Puisi Mantra Cinta, tahun 2016. Tapi bagi Lady, panggilan murid kelas VI SDN Percontohan PAM Makassar itu, merupakan pengalaman baru baginya.
Meski begitu, Lady terlihat yakin dengan penampilannya. Dalam balutan busana bernuansa etnik, dia terlihat cantik. Apalagi dia mendapat dukungan dari ayahnya, Kristian Charles Ulaan, dan ibunya, Indira Trimaya, yang hari itu ikut menemaninya. Bahkan neneknya,
Wiwiek Soemaryo, juga berada di deretan tamu undangan.
Tibalah nama Zaenal Beta dan Lady Valeska Kristian disebut oleh duo MC Muhammad Idris “Baba Ong” dan Rezky Amelia Syafiin. Kedua penampil beda generasi ini merupakan bagian dari acara pembukaan pameran dalam rangka Festival Aksara Lontaraq 2020, dengan tema “Mengembalikan Kejayaan Aksara dan Budaya Lontaraq Sulawesi Selatan”.
Andi Ina Kartika Sari, Ketua DPRD Provinsi Sulsel, diundang ke panggung untuk membubuhkan tanda tangannya pada lukisan itu. Perempuan pertama yang terpilih sebagai Ketua DPRD Sulsel tersebut, memberikan apresiasi atas perhelatan festival yang digagas oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulsel, KabarMakassar.com, KGI Group dan sejumlah seniman dan penggiat literasi itu. Sedangkan Kepala DPK Provinsi Sulsel, Moh Hasan Sijaya, menyatakan terbuka pada ide-ide para seniman, budayawan dan penggiat literasi.
“Perpustakaan ini merupakan rumah bersama kita,” kata Moh Hasan dalam sambutannya.
PIC (person in charge) acara pembukaan pameran, Rusdin Tompo, mengatakan, sengaja menduetkan Zaenal Beta dan Lady untuk memberi kesempatan dan pengalaman bagi murid SD itu. Anak pertama dari dua bersaudara itu, di mata Rusdin Tompo, yang juga dikenal sebagai aktivis anak, punya banyak bakat.
Menurut orangtuanya, Lady punya hobi bernyanyi, model, bercerita, akting, musik seperti ukulele, gitar dan keyboard. Dia juga sarat prestasi, di antaranya juara lomba menyanyi FLS2N tingkat kota, juara lomba cipta lagu, juara lomba nyanyi mandarin, dan juara lomba bercerita.
Lady menyampaikan bahwa dia pernah bermain film di Anak Indonesia produksi TVRI Sulsel, dan film Air Mata Takdir sebagai pemeran utama.
“saya juga sebagai Putri Citra mewakili Sulawesi di Batam, dan sebagai Duta Budaya di sekolah,” kata gadis cilik kelahiran Makassar ini.(*)
