KESAN saling jegal hingga mencari simpati pada pertemuan alumni mendapat tanggapan beragam dari pengamat politik Universitas Hasanuddin seperti Dr A Ali Armunanto.”Saya rasa temu alumni Unhas bukan ajang politik, sehingga semua kandidat yang merupakan alumni Unhas tidak datang dengan kepentingan politik, namun dengan semangat persaudaraan alumni Unhas,” jelas Ali Armunanto.
Meskipun, ujar Ali, tidak bisa dipungkiri juga bahwa dukungan personal tentu ada dari para alumni.Tetapi Unhas sebagai lembaga pendidikan tentu harus netral dan lebih berperan dalam pendidikan politik masyarakat yang mencerahkan.
Pengamat politik asal Unhas Dr Andi Haris juga berpendapat hampir sama.”Saya kira soal jegal menjegal di Pilwali Makassar merupakan hal yang biasa, sekalipun diantara para kandidat yang ikut bertarung merupakan sesama alumni perguruan tinggi yang sama,” kata Andi Haris.
Apalagi, tambah Haris, urusan pilwali merupakan urusan rakyat dan siapa pun dia yang terpilih tentu harus memiliki kapabilitas dan kredibilitas yang baik di mata publik.
Pernyataan yang sama juga disampaikan guru besar Unhas, Prof Aminuddin Ilmar. Ia yang mengingatkan agar di pilwali ini sesama alumni tidak menimbulkan kebencian. “Tentu saja kita berharap bahwa pilwali ini tidak melahirkan kebencian namun persahabatan tetap terjalin mesra,”jelas Aminuddin Ilmar.
Menurutnya, kompetisi boleh berjalan alot namun dalam kompetisi yang sehat dan damai.”Kita berharap siapapun yang terpilih alumni Unhas tetap terdepan dan terpercaya oleh rakyat,” pungkas Ilmar. (rif)
Pengamat: Unhas Harus Netral
