Site icon Berita Kota Makassar

Unggul Survei Belum Tentu Menang

MAKASSAR, BKM — Pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Makassar yang kerap unggul dalam survei diminta untuk tidak terlena. Karena keunggulan tersebut bukan jaminan mereka akan memenangkan pertarungan di pilwali.
Pengamat politik dari Unismuh Makassar Samsir Rahim, menyebut bahwa publikasi hasil survei menjelang pilwali merupakan hal biasa. Tidak masalah sepanjang dilakukan sesuai kaidah penelitian yang baik dan benar. Dan yang paling penting bahwa hasil survei disajikan dengan jujur sesuai fakta di lapangan.
“Ya, publikasi hasil survei menjelang pemilihan adalah hal biasa. Dan itu tidak jadi soal, sepanjang dilakukan dengan cara-cara jujur. Artinya, data yang dipublikasi adalah data apa adanya,” ujar Samsir Rahim, Selasa (6/10).
Ia mengurai sekaligus mengingatkan paslon, bahwa hasil survei menjelang pemilihan memunculkan bandwagon effect dan underdog effect. Bandwagon effect atau efek ikut-ikutan yang diharapkan muncul atas hasil survei keunggulan kerap kali tidak efektif. Malah kadang menjadi serangan balik, di mana yang muncul adalah underdog effect. Publik simpati dan mendukung kandidat yang surveinya rendah.
“Hasil survei tak hanya menimbulkan bandwagon effect tapi juga underdog effect. Teori bandwagon effect tidak selamanya bisa bekerja efektif. Itu sudah terbukti dalam sejumlah gelaran pilkada,” terang dia.
Samsir mencontohkan pilgub DKI Jakarta 2012. Kala itu Fauzi Bowo alias Foke yang berpasangan Nachrowi Ramli kerap unggul pada hasil survei. Namun ternyata yang tampil sebagai pemenang adalah pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Di level Sulsel, ada pilkada Gowa 2015, pilkada Takalar 2017 dan pilkada Wajo 2018. Semuanya juga menunjukkan teori bandwagon effect tidaklah efektif.
“Pilkada Gowa 2015, kita masih ingat ada lembaga survei yang berani pastikan Tenri Olle-Hairil Muin unggul dari rivalnya. Tapi yang menang adalah Adnan-Kio. Lalu, ada Pilkada Takalar 2017, di mana ada lembaga survei ternama unggulkan petahana, tapi yang menang malah rivalnya yakni Syamsari Kitta-Achmad (Dg Serre). Begitu juga di Pilkada Wajo 2018, hasil survei unggulkan Barakka, tapi yang menang adalah Pammase,” bebernya.
“Dari situ bisa disimpulkan bahwa hasil survei bukanlah jaminan, dan teori bandwagon effect kerap kali tidak bekerja efektif. Seringkali kita dapati ada pasangan yang unggul di hasil survei tapi malah keok di TPS, di pemilihan sesungguhnya,” sambung wakil Dekan III Fisipol Unismuh Makassar ini.
Dari pengalaman itu, ia berpendapat kemungkinan keoknya pasangan jagoan lembaga survei sangat terbuka. Terlebih juga sudah ada kejadian terdahulu saat pilwali Makassar 2013. Kala itu, paslon yang dijagokan menang adalah almarhum Supomo Guntur berpasangan Kadir Halid. Namun, di TPS yang menang adalah Danny Pomanto berpaket dengan Deng Ical, sapaan akrab Syamsu Rizal.
“Makanya saya mau bilang, jika tidak hati-hati menjalankan teori bandwagon effect, malah bisa berujung malapetaka bagi pasangan calon. Bukan bandwagon effect yang didapat dari publikasi survei, tapi underdog effect. Orang justru iba kepada figur yang selalu dikabarkan kalah melalui publikasi data survei,” tandas mantan komisioner KPU Sulsel ini.

Appi-Rahman Unggul

Tingkat penerimaan masyarakat terhadap pasangan calon wali kota dan wakil Wali kota Makassar Munafri Arifuddin-Abd Rahman Bando (Appi-Rahman) terus meningkat. Selain dibuktikan dengan terus melebarnya dukungan yang diterima dari ratusan komunitas relawan yang sudah bergabung dan yang masih antre untuk dikukuhkan, juga terjadinya kenaiknya tren dukungan pasangan yang memiliki tagline ‘Makassar Bangkit’ ini pun bisa dilihat hasil survei terbaru yang dilakukan oleh lembaga General Survei Indonesia (GSI).
Survei yang dilakukan GSI juga menempatkan pasangan Appi – Rahman unggul dari pasangan Mohammad Ramdhan (Danny) Pomanto-Hj Fatmawati Rusdi (Adama).
Appi-Rahman menempati elektoral 33,82 persen. Sementara Danny-Fatma stagnan di kisaran angka 33,18 persen. Adapun pasangan Syamsu Rizal MI-Fadli Ananda (Dilan) berada pada kisaran 14,42 persen. Sedangkan pasangan Irman Yasin Limpo-Andi Zunnun Armin Halid (Imun) mengalami kenaikan yakni 5,75 persen.
“Adapun responden yang belum menentukan pilihan masih cukup tinggi hingga mencapai 12,83 persen,” ujar Direktur PT GSI Herman Lilo, Selasa (6/10).
Herman mengakui, tidak hanya Appi-Rahman yang elektoralnya naik. Tapi juga pasangan Dilan dan Imun juga terjadi kenaikan.
Sebelumnya, lembaga Profetik Institute (PI) juga memaparkan hasil surveinya yang menempatkan Appi-Rahman di atas angin dengan menyalib pasangan Danny-Fatma. Pasangan Appi-Rahman menempati posisi tertinggi dengan elektabilitas 35,8 persen, sementara Danny-Fatma 34,5 persen.
Menyikapi hasil survei terakhir, Fadli Noor selaku juru bicara Appi-Rahman, mengaku pihaknya biasa saja. Bahkan fakta itu semakin memompa semangat tim untuk lebih bekerja cerdas, kreatif, inovatif dan tulus sebagaimana dilakukan relawan selama ini.
“Tren ini sangat menggembirakan, sekaligus membuktikan bahwa apa yang dikerjakan Appi-Rahman diterima secara luas oleh masyarakat. Bukan sekadar mengobral janji, tapi ada bukti konkret yang sejalan dengan program, yakni pembentukan Satgas Kesehatan dan Duta Sehat yang konsen dalam penanggulangan covid-19,” papar Fadli Noor.
Koordinator relawan internal tim pusat Appi-Rahman, H Baharuddin Rachim mengatakan sejauh ini sudah ada 305 tim relawan yang sudah dikukuhkan. “Data aktual relawan yang sudah dikukuhkan sampai saat ini, yakni relawan internal lima kelompok sedangkan relawan eksternal 305 kelompok,” katanya.
Sejumlah lembaga nasional maupun regional yang diminta hasil surveinya belum memberikan keterangan. Di antaranya dari LSI Danny JA, Jaringan Suara Indonesia (JSI), Parameter Politik Indonesia (PPI), Adhyaksa Supporting House hingga Batu Putih Sindycate. (rif)

Exit mobile version