GOWA, BKM — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat melakukan simulasi Latihan Kesiapsiagaan Menghadapi Tsunami di Samudera Hindia. Latihan yang diikuti sekira 700-an peserta simulasi se Indonesia yang dilakukan secara virtual zoom, Selasa (6/10) ini dibuka Kepala BMKG IOWave 2020, Dwikorita Karnawati.
Khusus di Kabupaten Gowa, virtual simulasi kebencanaan ini dilakukan di ruang operasional WRS BPBD Kabupaten Gowa dihadiri Kepala BPBD Gowa, Ikhsan Parawansa bersama Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas II Gowa, Gandamada Matondang.
Kepala BMKG IOWave 2020, Dwikorita Karnawati, dalam virtualnya mengatakan, 315 alat Warning Receiver System (WRS) ini sudah disebar ke seluruh kabupaten kota atau pada 315 lokasi.
”WRS ini adalah alat untuk mendeteksi kemungkinan titik-titik rawan bencana dan juga teraplikasi secara online untuk mengetahui peristiwa-peristiwa bencana yang ada di provinsi lain,” kata Dwikorita.
Dikatakan Dwikorita, pada tahun 2019 jumlah kasus gempa sebanyak 11.588 kali. Hal ini turun dari tahun 2018 yang mencapai 11.920 kali gempa. Sementara pada 2017 kejadian gempa yang terjadi hanya 7.169 kali gempa. Dari 2017 ke 2018 ini diakui ada lonjakan gempa bumi.
”Daripada kita spekulasi dan menebak-nebak kondisi bencana, maka kita harus menerapkan sistem mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami. Jadi kita harus selalu waspada jika sewaktu-waktu akan terjadi gempa dan tsunami. Inilah manfaatnya pelatihan kesiapsiagaan ini untuk menguji kesiapan kita termasuk peralatan lokal yang kita punya. Jadi kalau ada kerusakan dan kesalahan lebih baik kita ketahui sekarang sehingga tidak panik ketika kondisi gempa benar-benar terjadi. Dan apakah kita benar-benar siaga 24 jam,” kata Dwikorita.
Dikatakan Dwikorita, BMKG sekarang punya WRS dan sudah disebarkan 315 lokasi (daerah rawan gempa) di wilayah Indonesia. ”Jadi alat WRS inilah yang kita test hari ini secara virtual, apakah berfungsi baik atau tidak. WRS ini mendeteksi 315 lokasi dan dapat menyajikan info dalam waktu kurang dari 3 menit bahkan bisa dalam waktu 2 menit setelah terjadi gempa bumi. Alat ini menjamin stakeholder menerima informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami yang dapat digunakan untuk segera mengambil respon cepat guna melakukan langkah-langkah upaya mitigasi sehingga diharapkan dapat mengurangi korban jiwa dan dampak gempa lainnya secara dini,” jelas Dwikorita.
Sementara Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas II Gowa, Gandamada Matondang, di sela virtual di kantor BPBD Gowa, menjelaskan, WRS sangat realtime. Akurasi datanya 2 menit sudah diolah dan disebarkan ke daerah-daerah yang ada.
”Jadi kita harapkan kinerja ini bisa berkesinambungan. Kita harapkan juga tahun depan di seluruh Indonesia ada penambahan 100 WRS lagi. Kalau di Sulsel saat ini sudah ada 14 WRS dan disebar di kabupaten kota. Dan tahun 2021 nanti, kita akan ada penambahan 5 unit lagi, yakni 3 untuk Sulsel dan 2 unit WRS untuk Sulbar. Simulasi ini kita lakukan dua tahun sekali. Ini WRS New atau generasi terbaru dan dalam operasionalnya, pusat gempanya sudah bisa langsung dimonitor. Nilai akurasinya lebih tinggi dan cepat. Gempa di seluruh Indonesia yang terjadi akan terbaca dalam sekejap. Makanya, petugas operasional dari WRS ini bertugas selama 24 jam,” jelas Gandamada.
Sementara, Kepala BPBD Gowa, Ikhsan Parawansa, mengatakan, pihaknya sangat bersyukur karena BMKG sudah memfasilitasi BPBD Gowa dengan alat deteksi WRS ini.
”Kita tidak minta-minta bencana terjadi. Tapi paling tidak kita sudah punya kesiapan lebih baik menghadapi bencana. Alat ini sangat bermanfaat. Paling tidak, info gempa akan cepat, sehingga kita bisa minimalisasi risiko bencana. Dan operatornya juga sudah ada dan alat ini standby 24 jam,” jelas Ikhsan.
Di Gowa, tambah Ikhsan, WRS disimulasikan operasionalnya oleh tim reaksi cepat penanggulangan bencana (TRC-PB) sebanyak 12 orang relawan. Para relawan ini bertugas 1×24 jam secara shift. (sar)
