MAKASSAR, BKM — Pelarian pria berinisial KM yang merupakan peneror Video Call Sex (VCS) ke sejumlah mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, akhirnya kandas. Setelah tim Cyber Crime Polda Sulsel berhasil mengidentifikasi serta mengetahui keberadaannya.
Setelah KM tertangkap, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulsel, Irjen Pol Merdisyam didampingi Kabid Humas, Kombes Pol Ibrahim Tompo dan Kasubdit V Cyber, AKBP Jamaluddin, merilis kasus ini di Mapolda Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kamis (8/10)
.
Kapolda mengatakan, pengungkapan kasus VCS ini berdasarkan laporan dari korbannya mahasiswi UIN yang didampingi lembaga APIK, beberapa waktu lalu. Laporan itu ditindaklanjuti tim Cyber Crime Polda Sulsel.
”Proses penyelidikan berbuah hasil. Orang yang melakukan video call sex terhadap sejumlah Mahasiswi UIN akhirnya teridentifikasi serta keberadaannya diketahui pada hari Selasa (6/10). Terduga pelaku sedang berada di Kabupaten Bulukumba. Tanpa menunggu lama, tim Cyber langsung mengepung sebuah rumah di sana. Hasilnya, orang yang diuber pun berhasil dibekuk saat sedang terbaring di sebuah kamar. Dia adalah pria yang dalam kondisi pincang akibat kakinya patah,” beber Kapolda.
Lebih lanjut Kapolda menjelaskan, kaki KM patah setelah terlibat kecelakaan. Karena depresi dengan penyakit yang dideritanya, sehingga melakukan teror video call sex. Kata KM kalau kakinya telah dioperasi. Namun tak kunjung sembuh.
”Setelah diinterogasi, saat itu KM lalu digelandang ke Mapolda Sulsel untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Menurut KM, jika hal itu dilakukan karena frustrasi akibat penyakit yang dideritanya. Apalagi, katanya, dirinya masih muda,” jelas Kapolda menirukan keterangan KM.
Tak hanya itu, sambung Kapolda, KM juga sebelumnya berlatar belakang mahasiswa yang telah di drop out (DO). ”Jadi meski alasannya karena frustrasi, penyidik terus mendalami kasus ini untuk diketahui pasal yang menjerat bersangkutan,” kata Kapolda.
Diketahui, kasus ini terbongkar setelah 12 orang mahasiswi UIN mendapat teror video call sex. Terornya itu berupa panggilan lewat aplikasi Whatsaap. Saat itu para korban sedang melakukan pembelajaran online yang berlaku sejak awal Februari 2020.
Dari kejadian tersebut, para korban trauma. Pasalnya, pelaku teror saat korban menerima panggilan orang tak dikenalnya, pelaku memperlihatkan alat vitalnya. Para korban pun melapor ke LBH APIK Sulsel yang selanjutnya korban didampingi LBH APIK Sulsel melapor ke Mapolda Sulsel. (ish/b)
