MAKASSAR, BKM — Seruan untuk melakukan boikot terhadap produk asal Prancis yang mulai ramai dilakukan di berbagai daerah, tidak terjadi di Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar. Di kota metropolitan terbesar Indonesia bagian timur ini masih tenang dan tidak terpengaruh.
Aksi protes dan kecaman terhadap gambar kartun nabi, dan juga pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macro, yang dianggap telah menghina agama Islam, belum diekspresikan oleh massa berbagai organisasi masyarakat (ormas) Islam. Alasannya, Majelis Ulama Indonesia (MUI), baik provinsi dan kota tidak menyerukan secara resmi untuk menggelar aksi protes bersama dan boikot produk Prancis.
Dewan Syuro Front Pembela Islam (FPI) Sulsel Abu Thoriq, menyatakan tidak adanya gerakan yang dilakukan ormas Islam dari FPI Sulsel melakukan protes dan boikot produk Prancis lantaran belum adanya seruan resmi dikeluarkan dari MUI provinsi dan kota. Padahal massa dari FPI Sulsel telah siap.
“Kami dari teman-teman FPI Sulsel sudah beberapa hari belakangan siap. Tapi kan belum ada seruan secara resmi dari MUI provinsi dan kota. Harusnya sudah ada seperti daerah lain di Indonesia,” ungkap Abu Thoriq, Senin (2/11).
Untuk sekarang ini, lanjut Thoriq, FPI Sulsel perlahan mulai turun melakukan pemetaan toko-toko di wilayah Makassar yang banyak menjual produk Prancis. Itu dilakukan untuk mempermudah penyisiran pada saat dilakukannya boikot.
“Tim dari FPI Sulsel sudah turun melakukan pemetaan toko-toko yang banyak menjual produk Prancis. Begitu pula dengan merek. Pemetaan dilakukan di Sulsel, dan khususnya di Kota Makassar. Kami menunggu saja keputusan MUI provinsi dan kota,” terangnya.
Sama seperti FPI Sulsel, Brigade Muslim Indonesia (BMI) Sulsel juga telah siap menggelar seruan boikot produk-produk Prancis. Hanya saja masih menunggu petunjuk resmi MUI provinsi dan kota.
“Inilah yang kami pertanyakan juga yang sampai sekarang MUI, baik provinsi maupun kota belum mengeluarkan seruan untuk melakukan aksi damai,” jelas Ketua BMI Sulsel Muhammad Zulkifli.
Dia pun mendesak kepada MUI provinsi dan kota segera menyatakan sikap. Apakah ingin menggelar aksi boikot produk Prancis bersama atau tidak. Seperti halnya di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Aksi itu juga akan dipastikan tetap damai.
“Walaupun peristiwa ini tidak terjadi di Indonesia, tetapi kita berharap jangan sampai ini terjadi di Indonesia. Olehnya itu, beberapa ormas Islam menginginkan turun agar menjadi bukti bahwa kita Islam bersatu. MUI provinsi dan kota harus bersikap,” tegasnya.
Pernyataan Presiden Prancis Macron yang secara terbuka dinilai telah menghina ummat Islam seluruh dunia. Bahkan Presiden RI Joko Widodo juga ikut mengecam apa yang dilontarkan Macron.
Politisi Partai Golkar Sulsel Rahman Pina menyebut pernyataan Presiden Prancis itu sudah kelewatan. “Pernyataan Macron itu bodoh,” cetus Rahman Pina yang kini menjabat sebagai wakil ketua Komisi A DPRD Sulsel, Senin (2/11).
Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulsel Imam fauzan juga secara probadi mengecam Presiden Prancis Macron. “Saya secara pribadi mengecam pernyataan presiden Prancis. Tidak ada hal yang membenarkan untuk menghina salah satu agama. Ia seharusnya menyerukan persatuan apalagi dalam situasi pandemi saat ini,” kata ketua Fraksi PPP DPRD Sulsel ini. (arf-rif)
Boikot Produk Prancis, FPI-BMI Tunggu MUI
