Site icon Berita Kota Makassar

23 Poktan di Kanjilo Klaim Bisa Jadi Penyangga

GOWA, BKM — Sebanyak 23 kelompok tani (Poktan) di Desa Kanjilo, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, mengklaim diri bisa jadi penyangga pangan dan holtikultura di wilayah Gowa.
Alasannya, kelompok tani yang beranggotakan 25 anggota setiap kelompok itu telah mandiri. Karena mereka berhasil mengintervensi kesulitan air yang dihadapi tiap musim padi rendengan dan tanaman holtikultura.
Demikian diungkapkan juru bicara Komunitas Petani Padi dan Kacang-kacangan, Mahmud Dg Talli, di Bontomanai Desa Kanjilo, Minggu (1/11). Ia mengatakan, salah satu intervensi dilakukan adalah pembuatan sumur artetis (pompa dalam) setiap kelompok dan anggota guna mengantisipsi kebutuhan air pada musim rendengan seperti kemarau di bulan Oktobar-November.
Olehnya, tatanan puluhan sumur menggunakan pipa besar dipasang secara permanen di area masing-masing. Sedangkan mesin pompa yang dipindah-pindah ke tempat serupa. Sumur pompa tersebut dapat mengairi empat petak sawah setiap sumur.
”Sehingga sekitar 50 hektare dipanen tiga kali setahun. Termasuk tanaman kacang-kacangan di area ketinggian. Pada November ini panen ketiga kalinya,” tutur Mahmud Talli didampingi Ketua Kelompok Tani Selaras, Abdul Wahid serta Ketua Kelompok, Samiun Dg Mone.
Mahmud Talli mengatakan, pembuatan sumur artetis yang dilakukan merupakan terobosan atas intervensi akibat tidak tersedia air yang dibutuhkan dari irigasi limbung. Sehingga anggota menempuh suatu alternatif mencari dan menggali sumber air tanah dengan biaya mandiri. Hal itu membuahkan hasil, tuturnya.
Ketua Kelompok Tani Selaras, Abdul Wahid, menjelaskan, melalui teknologi industri para petani berpacu dalam menggarap sawahnya. Mereka tak lagi menggunakan bajak yang ditarik sapi atau kerbau.
Dengan sapi, bajak bergerak amat lamban. Sehingga petani modern di kawasan Desa Kanjilo, kini beralih ke traktor yang dengan cepat bergerak ke seluruh penampang sawah. Sebagai dampak dari teknologi itu para kelompok tani tak melibatkan banyak tenaga kerja (labor intensive) dengan modal uang yang relatif kecil.
Begitu pun saat panen, tak lagi memanfaatkan tenaga kerja. Kini tersedia traktor untuk memanen padi secara bagi hasil. Misalnya dalam 50 karung gabah jasanya satu karung, terang Abdul Wahid.
Sementara Kepala UPT Pertanian Limbung, Hartini, mengatakan, untuk lebih mengoptimalkan tatanan ketahanan pangan, pihaknya tak sebatas hanya memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada kelompok tani. Melainkan juga menyalurkan bibit, pupuk dan sejenisnya agar petani memperoleh pertumbuhan ekonomi yang dikehendaki sebagai indikator utamanya. (zai)

Exit mobile version