Site icon Berita Kota Makassar

Paslon Pasif dan Kurang Improvisasi

PENGAMAT politik dari Unismuh Dr Luhur A Prianto memberi nilai 20 untuk untuk debat pertama. Menurutnya, secara teknis opening acara sudah baik. Pihak KPU juga mengambil durasi secara proporsional.
Luhur menjelaskan bila di isu pendidikan, semua kontestan merupakan stakeholders kunci bidang pendidikan di jabatan sebelumnya. Seharusnya mereka punya sensivitas dan empati. Masing-masing paslon punya solusi berbeda. Pertama, sekolah satu atap SD-SMP, kedua penambahan gedung sekolah negeri dan kualitas guru. Ketika Bosara, kolaborasi sekolah negeri dan swasta. Keempat, mendorong 20 persen anggaran pendidikan.
Pada isu transportasi. Tidak semua paslon punya solusi kebijakan praktis dan berbasis kewenangan pemkot. Pertama, smart transportation. Kedua, pengaturan armada dan MRT. Ketiga, mengembangkan transportasi alternatif, laut dan sungai. Keempat AI dan digitalisasi transportasi.
Untuk isu lingkungan, pertama adalah lorong garden, liveable dan resiliensi kota. Kedua, penambahan RTH dan bebas iuran sampah. Ketiga, diawali dengan pemetaan, bebas iuran sampah untuk warga miskin dan penegakan aturan lingkungan yang konsisten. Keempat restorasi teknis, ekologis dan kelembagaan berbasis AI.
”Belumtampak solusi soal tata kelola sampah terintegrasi, mentransformasi pola open dumping, sanitary landfill hingga ke waste to energy. Paslon lebih tertarik pada isu-isu populis seperti pembebasan iuran sampah,” ungkap Luhur, kemarin.
Adapun di isu toleransi, pertama tentang program yang inklusif. Kedua, pemahaman toleransi dari pendidikan dasar. Ketiga, taman religi sebagai miniatur toleransi. Keepat edukasi, sosialisasi, dan literasi masing-masing pemeluk agama.
“Isu ini cukup soft dan kondusif. Terutama karena isu politik identitas tidak kuat di kota ini,” jelas Luhur.
Sementara di isu sosial-budaya, pertama budaya sebagai obat konflik. Juga tentang festival budaya. Kedua, membangun galeri seni dan budaya. Ketiga, kampung sombere, etalase budaya setempat. Keempat festival dari tingkat RT. “Pada isu ini, tidak semua respons dan program paslon tidak cukup menemukan solusi dari pertanyaan panelis soal strategi meretas konflik dan tawuran warga. Sayangnya, panelis tidak punya waktu mengejar solusi paslon dari permasalahan sosial seruis di kota ini,” ucap Luhur.
Ia kemudian memberikan catatan penting sisi teknis di debat sesi pertama ini. pertama, penggunaan durasi yang bermasalah di semua paslon. Durasi sepertinya kurang sekaligus berlebih. Paslon tidak cukup efektif menggunakan waktu yang tersedia.
Kedua, pembagian peran calon wali kota dan calon wakil wali kota tidak proporsional. Sudah kelihatan bibit-bibit dominasi dalam relasi paslon. Beberapa pasangan calon wakil cenderung pasif dan kurang improvisasi memanfaatkan waktu. (rif)

Exit mobile version