Site icon Berita Kota Makassar

Tim dan Relawan Diperintahkan Jaga Basis

MAKASSAR, BKM — Kontestasi pemilihan wali kota (pilwali) Makassar tersisa tiga pekan, atau 22 hari lagi. Dua pasangan calon saling klaim unggul dengan elektoral teratas. Mereka adalah paslon nomor urut satu Mohammad Ramdhan Pomanto-Fatmawati Rusdi dan pasangan nomor urut dua Munafri Arifuddin-Abd Rahman Bando (Appi-Rahman).
Walau begitu, pasangan calon nomor urut tiga Syamsu Rizal MI-dr Fadli Ananda, serta pasangan calon nomor urut empat Irman Yasin Limpo-Andi Zunnun Armin Halid mengaku tetap optimistis.
Untuk itu, setidaknya dua hingga tiga pasangan calon akan memperketat penjagaan basis dari upaya tim paslon lain untuk masuk memengaruhi dukungan warga.
Indira Mulyasari Paramastuti selaku juru bicara pasangan calon wali kota nomor urut satu Mohammad Ramdhan Pomanto-Fatmawati Rusdi (Danny-Fatma), mengakui jika seluruh tim dan relawan sudah diminta untuk menjaga basis masing-masing. “Iya, seluruh tim sudah diminta untuk menjaga basis masing-masing. Strategi tiga minggu terahir sudah harus dijalankan,” kata politisi Partai Nasdem Makassar ini, Senin (16/11)
Juru bicara pasangan calon nomor urut empat Irman Yasin Limpo-Andi Zunnun Armin Halid (Imun), Muwafiq menegaskan bila tim pemenangan Imun akan terus menjaga spirit perjuangan dan akan tetap solid. Termasuk menjaga basis massa yang menjadi lumbung suara mereka.
“Semua tim Insyaallah terus menjaga spirit perjuangannya, tetap solid. Persiapan teknisnya semua berjalan lancar ke depan,” tandasnya.
Sebelumnya, Ketua Tim Pemenangan Appi-Rahman, Erwin Aksa mengklaim elektabilitas paslon nomor urut dua ini sudah memimpin dari paslon lainnya. Meski enggan menyebut angka pastinya, namun ketua DPP Partai Golkar ini menilai kenaikannya cukup tajam pada November ini.
“Kenaikan kita secara eksplosif dan ada paslon yang secara eksplosif juga turun,” ujar Erwin Aksa, Minggu (15/11) malam.
Fakta itu, menurut Erwin, diperoleh dari survei berkala yang dilakukan lembaga yang bekerja secara internal untuk Appi-Rahman. “Tidak usah kami sebutkan angkanya, karena itu untuk kebutuhan internal kami dan itu bagian dari strategi,” kelitnya.
Akselerasi kenaikan elektabilitas Appi-Rahman ini, lanjut Erwin, tak terlepas dari kerja-kerja tim yang secara massif dan terstruktur di segala lini. Tim Appi-Rahman juga senantiasa menjaga cara-cara kampanye yang santun, kreatif sehingga menuai simpati dari masyarakat.
Hal inilah yang kemudian menurut dia harus terus dijaga hingga memasuki hari pencoblosan, 9 Desember 2020 mendatang.
“Konsolidisi tim terus kita lakukan secara intens. Saya juga tegaskan seluruh tim yang tergabung harus tetap kompak dalam menggalang suara. Paling penting jangan terpancing dengan upaya-upaya pihak tertentu yang ingin menjatuhkan Appi-Rahman,” tegasnya.
Kenaikan elektabilitas dan massifnya dukungan Appi-Rahman belakangan mulai terasa. Salah satu faktanya yakni adanya perpindahan pilihan komunitas dan tokoh masyarakat secara simultan dari paslon lain ke Appi-Rahman.
Semisal salah satu guru besar perguruan tinggi swasta Prof Tajuddin. Ia secara terang-terangan menyatakan sikapnya kini memilih Appi-Rahman. Padahal pada pilwali 2018 lalu, Prof Tajuddin mengaku sebagai salah satu sponsor yang memenangkan kotak kosong.
Tak hanya itu, tokoh perempuan Kampung Palopo Husniati Amirullah, warga yang belum menentukan pilihan juga sudah mulai menyatakan sikap memilih Appi-Rahman.

Tak Perlu Berlebihan

Pengamat politik Unhas Dr Ali Armunanto mengakui jika di tiga minggu terahir suhu politik semakin meninggi. Menurutnya, klaim basis suara menjadi bagian dari tingginya tensi politik tersebut. Demikian juga ketakutan para kandidat akan kehilangan suara di basisnya.
”Tentu saling jaga juga akan menjadi bagian dari strategi politik. Namun saya rasa tidak perlu berlebihan. Apalagi sampai mendirikan pos penjagaan atau melakukan sweeping. Yang terpenting saya rasa adalah dengan tetap menjaga hubungan baik dengan pemilih dan basis suara, toh menjelang hari-H preferensi pemilih akan terus mengerucut dan loyalitas pemilih akan semakin kuat, jadi tidak perlu cara-cara berlebihan untuk menjaganya,” terangnya, kemarin.
Pengamat politik dari Unibos Dr Arief Wicaksono, menilai penjagaan basis satu hal yang wajar. Jelang hari H, masing-masing paslon akan menjaga basis suaranya masing-masing.
“Malah menurut saya, kalau masih ada waktu 22 hari, masing-masing tim paslon masih bisa merekrut calon pemilih, tentunya dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan regulasi kepemiluan. Saling klaim unggul itu sebenarnya adalah strategi untuk mengaburkan situasi terakhir masing-masing paslon,” jelas Arief Wicaksono.
Dekan Fakultas Komunikasi dan Da’wah UIN Alauddin Makassar Dr Firdaus Muhammad, menggambarkan bila strategi pasangan calon tentu adalan mempertahankan basis dan berusaha merambah basis lawan harus dimainkan. “Antisipasi kecolongan, sebab biasa terjadi suara hilang,” pungkas Firdaus. (jun-rhm)

Exit mobile version