Site icon Berita Kota Makassar

Syarat Masih Ketat, Berharap Normal Tahun Depan

DI TENGAH pandemi covid-19, pemerintah Arab Saudi membuka kran pelaksanaan ibadah umrah. Walau dilakukan bertahap, sudah ada warga Indonesia yang menunaikannya. Termasuk dari Sulawesi Selatan.

WAKIL Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Muslim Penyelanggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) H Nurhayat, menjelaskan bahwa sejak 1 November merupakan pembukaan tahap tiga umrah Arab Saudi. Di tahapan ini, jamaah dari luar sudah diperbolehkan berkunjung. Dua negara yang sudah memasukkan jamaahnya, yaitu Indonesia dan Pakistan.
Jamaah asal Indonesia, menurut Nurhayat, sudah tiga kali diberangkatkan. Masing-masing 1, 3 dan 22 November. Mereka yang berangkat pada 22 November telah tiba di Jeddah dan mengikuti protokol kesehatan yang ketat. Salah satunya adalah melakukan swab test.
”Alhamdulillah, dua rombongan terakhir semuanya negatif berdasarkan hasil swab. Sebelumnya sempat ada jeda, karena ada 13 jamaah gelombang awal yang reaktif saat menjalani pemeriksaan,. Beberapa hari Saudi menutup kembali penerbitan visa umrah dan melakukan evaluasi pelaksanaan di masa new normal ini,” ungkap Nurhayat di kantornya, Rabu (25/11).
Karena pandemi, diakui Hayat, sejumlah pembatasan-pembatasan dilakukan oleh pemerintah Saudi. Misalnya, batasan usia yang boleh berangkat umrah, yaitu 18-50 tahun.
”Itu yang menjadi penyebab, bahwa sekalipun umrah bisa dilaksanakan, jamaah belum berbondong-bondong untuk berangkat umrah. Selain karena pandemi itu sendiri,” tuturnya.
Pembatasan usia tersebut cukup membawa dampak, karena rerata yang berangkat umrah selama ini sudah pernah melaksanakannya. Selanjutnya mereka bolak balik mengantar keluarga, seperti anaknya. Sementara yang biasa mengantar itu sudah berusia lanjut.
Yang kedua, lanjut Hayat, seseorang tidak boleh lagi berangkat umrah bila ada penyakit bawaan. ”Ini yang harus steril. Calon jamaah betul-betul sehat sebelum berangkat,” tambahnya.
Hayat juga menggambarkan kondisi penerbangan yang melayani jamaah umrah. Ia mencontohkan pada pemberangkatan 22 November lalu. Pesawat yang berkapasitas 400 kursi hanya diisi 76 orang. Kondisinya belum ideal sama sekali, karena memang kursi tidak boleh diisi penuh.
Demikian pula halnya dengan bus yang mengantar jamaah. Kendaraan berkapasitas 49 seat hanya bisa diisi 20 jamaah di dalamnya.
Pembatasan seperti ini, diakui Hayat, memicu terjadinya biaya paket umrah. Apalagi tidak diperbolehkan menggunakan hotel bintang tiga, karena kamarnya sempit sehingga penghuninya saling berdekatan. Karenanya, hotel yang ditempati minimal bintang empat atau lima.
Sebelum berangkat umrah, jamaah terlebih dahulu harus menjalani karantina selama dua atau tiga hari di Indonesia. Mereka juga wajib melakukan tes usap untuk memastikan posisinya negatif sebelum diterbangkan ke Saudi. Sesampainya di Saudi, mereka diswab lagi. ”Kasus yang terjadi di rombongan pertama 3 November lalu, mereka kan mengambil paket 10 hari. Tapi karena ada yang covid, semua harus menjalani karantina selama sembilan hari. Betapa ketatnya protokol kesehatan di sana. Jika ada satu atau dua yang positif, maka semua rombongan tidak boleh meninggalkan hotel. Mereka betul-betul harus berada di dalam kamar,” beber Hayat.
Namun, perkembangan terbaru yang diperoleh Hayat, jamaah terakhir sudah bisa ke Madinah. Hal yang tidak bisa dilakukan oleh rombongan jamaah sebelumnya.Yang kedua, makanan yang sebelumnya disiapkan disajikan di dalam boks sesuai protokol kesehatan, saat ini sudah ada model prasmanan.
Amphuri bekerja sama dengan Kementerian Agama dan pemangku kepentingan terkait, intens memberikan edukasi kepada calon jamaah untuk memastikan kondisinya sehat sebelum berangkat umrah. Selain itu, menjelaskan kepada mereka bahwa jika di Arab Saudi ada di antaranya yang terpapar, semua harus bersedia menjalani karantina bersama-sama. ”Jamaah sudah cukup paham dengan itu,” tandasnya.
Hayat yang juga CEO Biro Perjalanan Haji dan Umrah Al-Jaziyah, Makassar berharap situasi pandemi saat ini bisa segera teratasi. Keadaan dapat lebih baik lagi dengan adanya vaksin. ”Jadi kunci dari penanganan pandemi saat ini adalah vaksin. Dengan adanya vaksin, permbatasan-pembatasan yang ada selama ini bisa lebih fleksibel,” imbuhnya. (*/rus)

Exit mobile version