MAKASSAR, BKM — Perhelatan pemilihan wali kota Makassar kini menghitung hari. Empat pasangan calon (paslon) saling berkejaran dengan waktu guna mendapatkan simpati warga. Apalagi jadwal kampanye segera berakhir.
Hasil dari upaya menggalang dukungan selama ini tercermin dari survei yang dilakukan sejumlah lembaga. Salah satunya Roda Tiga Konsultan.
Melakukan penelitian 14-16 November, Roda Tiga Konsultan menempatkan pasangan calon wali kota dan wakil wali kota nomor urut dua Munafri Arifuddin-Abd Rahman Bando (Appi-Rahman) pada posisi teratas. Survei menunjukan elektabilitas atau tingkat keterpilihan Appi-Rahman di atas pasangan lainnya.
Paslon bertagline Makassar Bangkit ini teranyar mengantongi angka elektabilitas 33,6 persen. Kemudian disusul paslon nomor satu Mohammad Ramdhan Pomanto-Fatmawati Rusdi (Danny-Fatma) di posisi kedua dengan angka elektabilitas 33,2 persen. Sementara di posisi ketiga ditempati paslon nomor tiga Syamsu Rizal-Fadli Ananda (Dilan) dengan elektabilitas 10,7 persen. Adapun di posisi buncit ditempati paslon nomor empat Irman Yasin Limpo-Andi Zunnun Armin Halid (Imun) dengan elektabilitas 3,8 persen. Hasil survei tersebut merupakan hasil wawancara dengan melibatkan 820 responden.
Sementara hasil survei simulasi dengan mencoblos kertas suara, dengan jumlah responden yang sama (820), Appi-Rahman unggul 33,1 persen, Danny-Fatma 32,5 persen. Sementara Dilan 10,4 serta Imun 3,7 persen. Rahasia 12,7 dan tidak tahu atau tidak jawab 7,7 persen.
“Di atas kertas secara ilmiah Appi-Rahman yang akan memenangkan pilwali Makassar melihat dari tren linenya,” ucap Direktur Riset Roda Tiga Konsultan Muhammad Taufik, kemarin.
Survei yang dilakukan Roda Tiga Konsultan ini menggunakan metode Stratified Systemic Random dengan 820 respon yang tersebar di 15 kecamatan. Muhammad Taufik, kemenangan Appi-Rahman hanya bisa tergoyahkan jika di sisa waktu ini terjadi kejadian luar biasa.
Alasannya, dari empat kali survei yang digelar Roda Tiga Konsultan sejak September 2020 lalu, menunjukan tren elektabilitas yang menanjak untuk Appi-Rahman. Sementara paslon pesaingnya, Adama terus mengalami penurunan secara signifikan.
Data ini ditunjukan Roda Tiga Konsultan, di mana pada survei pertama saat belum ditetapkan secara resmi sebagai paslon oleh KPU, Appi-Rahman 14,7 persen. Survei kedua di pekan awal Oktober pascapenetapan Paslon, Appi-Rahman mulai menanjak di angka 25,1 persen. Selanjutnya, pada survei ketiga yang dilakukan 20-25 Oktober, Appi-Rahman 29,4 persen.
Meskipun pada survei pertama dan kedua menunjukan kenaikan, yakni 33,7 persen menjadi 38,6 persen, namun pada survei ketiga dan keempat, elektabilitasnya terus menurun yakni di angka 35,4 persen dan kini tersisa 33,2 persen.
“Fenomenanya ini menarik. Dilihat dari tren linenya empat kali survei ini, paslon nomor dua terus menanjak, dan paslon nomor satu terus menurun. Jadi kalau mau melihat hasil akhirnya, kita bisa lihat trennya ini,” tutur Taufik.
Meroketnya elektabilitas Appi-Rahman hingga menyalip pasangan dengan tagline Adama ini juga sebelumnya tergambar dari tiga lembaga survei lainnya yang melakukan rilis di waktu yang berbeda.
Data ini diambil dari lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Celebes Research Center (CRC), dan Script Survei Indonesia (SSI).
SMRC melakukan survei pada 21-25 September 2020, menunjukan elektabilitas Appi-Rahman 17,8 persen. Kemudian CRC yang melakukan survei pada 25 September hingga 5 Oktober 2020 menunjukan elektabilitas paslon nomor urut 2 itu di angka 23,5 persen. Selanjutnya rilis terbaru dari SSI yang melakukan survei pada 1-8 November 2020 menunjukan elektabilitas Appi-Rahman mencapai 30 persen.
Unggul Program
Roda Tiga Konsultan menilai secara umum, fakta kenaikan elektabilitas Appi-Rahman hingga menyalip Adama tak terlepas dari kerja-kerja tim. Muhammad Taufik menerangkan sejak awal, atau tepatnya di September 2020 lalu, warga Makassar masih menerka-nerka pilihan mereka. Adama yang masih dianggap sebagai petahana nyatanya tak bisa mengangkat elektabilitasnya.
“Waktu di awal kan masih banyak yang memilah-milah. Apalagi ada banyak bakal calon. Tetapi setelah ditetapkan, akhirnya beberapa yang sudah menyatakan pilihannya. Persoalannya adalah untuk paslon nomor urut satu yang notabene dianggap incumbet, kemungkinan enggan dipilih lagi karena program terdahulunya belum dirasakan,” ungkap Taufik.
Sementara para penantang, utamanya paslon nomor dua, kemungkinan kerja timnya lebih massif.
Apalagi diketahui sebelumnya, Appi-Rahman menghadirkan berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan saat ini, yakni fokus pada penanggulangan covid-19 dan membangkitkan perekonomian melalui berbagai program-program unggulan, seperti menghadirkan Duta Sehat dan Satgas Kesehatan, hingga membagikan 4 juta masker.
Tak hanya itu, Appi-rahman juga memiliki program relaksasi pajak yang berkeseuaian dengan kebutuhan masyarakat, utamanya pelaku usaha kecil menengah yang terdampak covid-19.
“Ini mungkin butuh riset lebih konprehensif lagi. Tapi secara umum, masyarakat menginginkan program yang dibutuhkan dan kemungkinan paslon nomor dua ini bisa menjangkau itu dan akhirnya elektabilitasnya meroket,” paparnya.
Di bagian akhir, Roda Tiga Konsultan menegaskan meroketnya elektabilitas Appi-Rahman ini lantaran merebut suara paling banyak dari swing voters, undecided voters, hingga suara paslon nomor satu.
“Tren linenya bisa dilihat dari survei awal hingga akhir. Jumlah swing voters dan undecided voters berkurang. Artinya sudah pindah, dan paling banyak itu ke paslon nomor dua. Tak hanya itu, suara paslon satu yang berkurang kemungkinan besar ke paslon dua,” pungkasnya. (rif)
