Site icon Berita Kota Makassar

Macet Diprediksi Kian Parah Tahun Depan

MAKASSAR, BKM — Kota Makassar diprediksi akan semakin macet ke depannya. Data dari Dinas Perhubungan (Dishub) Makassar, jumlah kendaraan saat ini lebih banyak dari jumlah penduduk. Menyentuh angka 2,1 juta unit. Dengan kendaraan roda dua 1,6 juta unit. Sisanya roda empat.
Persoalan lalu lintas di kota ini memang cukup kompleks. Volume kendaraan yang terus bertambah tak diimbangi dengan tersedianya ruas jalan. Penerapan kebijakan di jalan protokol, seperti penutupan u-turn turut memberi dampak.
Kepala Dinas Perhubungan Makassar Mario Said mengatakan, saat ini koordinasi lintas sektor atau sinergi perlu diperkuat. “Karena tidak semua jalan di Makassar masuk ranah kami. Ada dari pihak balai yang punya jalan nasional. Begitu pun dengan jalan provinsi, yang punya kewenangan Dishub Sulsel. Tentu saja kita mesti berkoordinasi,” ujarnya.
Bagi Mario, koordinasi saat ini menjadi hal yang fundamental. Sebab ruas jalan di Makassar saling terkoneksi. Jika persoalannya ada di jalan milik nasional, dampaknya bisa sampai di jalan milik pemkot.
“Inilah pentingnya kita bertemu. Karena pada dasarnya kita siap turunkan petugas untuk bantuan. Sisa koneksi itu diperkuat,” terangnya.
Masalah di jalan memang sangat banyak. Sumber kemacetan Makassar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seperti lahan parkir yang terbatas.
“Ini masalah parkir juga. Kalau ini tertata tentu memudahkan kita untuk mengambil kebijakan. Seperti kemarin kita mau bikin jalur sepeda di area Pantai Losari, namun susah karena kendaraan masih biasa parkir di badan jalan,” terang dia.
Pakar Transportasi Universitas Negeri Makassar (UNM) Qadriathi Dg Bau, mengatakan krisis lahan parkir jadi salah satu pemicu utama kemacetan. Disamping pertambahan volume kendaraan.
Kesalahan yang dilakukan sejak awal ketika Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dikeluarkan mengabaikan aspek Amdal Lalin.
“Saya sudah lakukan pertemuan dengan perwakilan pihak kepolisian, Dinas Perhubungan, dan Dinas Pekerjaan Umum. Ada miss yang terjadi. Salah satunya ketika ada pembangunan aspek Amdal Lalin kerap diabaikan,” terang dia.
Qadriathi menjelaskan, Amdal Lalin kerap tidak terlalu diperhitungkan. Bahkan ada yang tidak tahu jika Amdal Lalin jadi syarat penting jika IMB mau keluar.
“Dan kita lihat sekarang banyak pusat bisnis dari berbagai jenis tempat usaha yang tidak punya Amdal Lalin tetapi memiliki IMB. Inilah yang memicu kemacetan. Di Makassar, kita sangat berharap Amdal Lalin harus jadi perhatian utama. Jangan asal beri IMB,” ungkap dia. (rhm)

Exit mobile version