Site icon Berita Kota Makassar

Tiga Ditembak, Dua Tewas, 17 Diamankan

MAKASSAR, BKM — Subuh hari, Rabu (6/1). Jarum jam menunjuk pukul 05.00 Wita. Beberapa orang berbadan tegap sudah berada di dalam Kompleks Perumahan Villa Mutiara Klaster Biru. Kawasan ini berlokasi di Kelurahan Bulurokeng, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.
Tak lama berselang, suara tembakan yang saling berentetan terdengar di depan sebuah rumah berpagar cat warna hijau. Warga sekitar yang sebagian sudah terbangun dari lelapnya, cukup kaget dengan suara tersebut. Namun mereka tak bisa keluar, karena diminta untuk tetap berada di dalam rumah masing-masing.
Ternyata, personel berbadan tegap itu adalah aparat kepolisian dari Detasemen Khusus (Densus) Antiteror 88 Polri bersama Gegana Brimob Polda Sulsel dan Polrestabes Makassar. Mereka tengah melakukan operasi di sebuah rumah yang dicurigai menjadi markas terduga teroris. Kendaraan taktis yang mereka terparkir tak jauh dari lokasi.
Dalam penggerebekan itu, tiga orang ditembak aparat. Dua di antaranya menjemput ajal karena mencoba melawan petugas saat hendak diamankan. Mereka adalah Moh Rizaldy dan Sanjai Ajis. Keduanya masih memiliki hubungan darah, yakni bersepupu. Oleh tim Densus, mayatnya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara guna diotopsi.
Total ada 20 orang dalam rumah ketika polisi melakukan penyergapan. Satu lainnya yang juga tertembak dan kini mendapat perawatan medis di rumah sakit. Ia dihadiahi timah panas karena berusaha melarikan diri saat penggerebekan berlangsung. Sementara 17 orang lagi telah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Witnu Urip Laksana datang ke lokasi usai penggerebekan. Ia membenarkan ada dua orang yang masih bersepupu tewas di ujung pistol aparat. Mereka disebutkan sebagai jaringan kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD).
”Keduanya melakukan perlawanan terhadap anggota, sehingga diambil tindakan tegas dan terukur hingga keduanya meninggal. Kelompok ini merupakan jaringan JAD Sulsel,” terang Kombes Witnu, kemarin.

Kapolda Sulsel Irjen Pol Merdisyam juga datang ke tempat kejadian perkara (TKP). Kepada wartawan, ia menjelaskan bahwa saat dilakukan penangkapan, dua orang tersebut melakukan perlawanan. Mereka menggunakan senjata tajam jenis parang dan senapan angin PCP.
”Barang bukti yang berhasil diamankan berupa parang, senjata PCP, busur beserta anak panah dan beberapa dokumen,” terang Irjen Merdisyam.
Mereka yang ditembak dan diamankan, menurut kapolda, berada dalam satu rumah ketika dilakukan penggerebekan. Aktivitas di tempat memang sudah lama dipantau oleh polisi.
”Dari 20 orang yang ada di rumah tersebut, 17 di antaranya sudah diamankan. Sementara satu lainnya masih dalam proses perawatan karena luka tembak,” ujarnya.
Dijelaskan Irjen Merdisyam, mereka yang diamankan telah menyatakan baiat kepada khilafah ISIS pada tahun 2015 di Pondok Pesentren Ar Ridho pimpinan Ustaz Basri yang meninggal di Lapas Nusakambangan, ditahan dalam kasus teror. Kemudian melakukan kajian khusus pendukung khilafah di Yayasan Ar Ridho Villa Mutiara.
Pada tahun 2016, Rizaldy bersama keluarga bermaksud hijrah dan hendak bergabung dengan organisasi Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) di Suriah. Namun berhasil digagalkan saat berada di Bandara Soekarno-Hatta. Jaringan ini juga terlibat dalam pengiriman dana kepada pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Jolo, Filipina pada bulan Agustus 2020 lalu.
Terungkap pula, bahwa sejak Oktober 2020 lalu, kelompok ini telah secara rutin melakukan latihan menembak dan naik gunung atau idhat sejak bulan Oktober 2020.
”Tentunya penangkapan ini sudah melalui pendalaman oleh pihak Densus, dan sudah diambil langkah untuk penindakan. Mereka tinggal di situ. Satu rumah,” ujar Merdisyam.
Camat Biringkanaya Andi Syahrum Makkuradde, tidak menampik adanya penggerebekan rumah terduga teroris di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa hal itu merupakan ranah pihak kepolisian.
”Kami senantiasa berkoordinasi dengan tripika soal apa yang terjadi di wilayah kerja Kecamatan Biringkanaya,” imbuhnya.

Banyak yang Diintai

Ketua Forum Komunikasi Pencegahan Teroris (FKPT) Sulsel Muammar Bakry, mengatakan penggerebekan yang dilakukan Densus 88 bersama Gegana Brimob Polda Sulsel dan Polrestabes Makassar terhadap terduga teroris di Perumahan Villa Mutiara, memiliki SOP tersendiri. Mereka melakukan tegas demi menyelamatkan banyak orang.
“Densus ataupun kepolisian itu punya SOP tersendiri. Tentunya apa yang dilakukannya penuh dengan pertimbangan. Pertama, keamanan diri sendiri dan warga sekitar. Kemudian yang kedua, kalau dikhawatirkan membahayakan maka tindakan itu bisa saja dilakukan pihak kepolisian. Karena tindakan tegas itu pasti bukan hitungan menit, tapi sudah sudah lama dalam pantauan,” terang Muammar yang dihubungi, Rabu (6/1).
Selain itu, pertimbangan lainnya, ia menilai pihak kepolisian sudah mendeteksi jaringan-jaringan teroris di Sulsel. Sehingga yang mereka lakukan adalah membuntuti dan menelusuri rekam jejak teroris. “Jadi mereka pemikirannya itu, sudah akan hijrah. Tapi hijrah dalam tanda petik. Bukan hijrah dalam pandangan dan pemahaman keislaman. Yang sangat eksklusif itu meninggalkan Indonesia menuju ke daerah wilayah Syiria untuk perang,” jelas Muammar.
Ia juga membeberkan bahwa ada banyak jaringan dan komunitas yang dalam pengintaian Densus 88 serta kepolisian. “Jaringan-jaringan yang sesungguhnya ini masing-masing punya komunitas tersendiri, tapi mereka disatukan dalam satu paham radikal teroris. Mereka melakukan tindakan teror yang dianggap suci di jaringannya,” ujarnya lagi.
Upaya pencegahan yang dilakukan saat ini, menurut Muammar, bukan hanya dari aparat. Melainkan masyarakat juga berkewajiban bekerja sama dalam melakukan tindakan pencegahan.
“Untuk langkah pencegahan, sedapat mungkin semua komponen masyarakat terlibat aktif di tingkat kelurahan serta RT-RW. Mereka seharusnya melakukan pemantauan dan kewaspadaan dini,” imbuhnya. (mat-jul-jun-ita)

Eksklusif dan tak Punya Identitas

SIAPA sebenarnya Moh Rizaldy, pria paruh baya yang tewas di ujung bedil polisi saat dilakukan penggerebekan? Tak ada informasi detail tentangnya. Tidak ada yang mengetahuinya secara pasti. Termasuk para tetangga. Tak terkecuali ketua RT setempat.
Seorang ibu-ibu yang ditemui BKM, kemarin menuturkan kalau Rizaldy sudah lama bermukim di perumahan ini. Hanya saja, ia tergolong ‘ekslusif’. Bergaulnya hanya dengan kelompoknya. Tidak dengan warga sekitar. Anaknya juga tidak disekolahkan dan hanya belajar sendiri di rumah.
”Dia juga biasa salat di masjid. Curiganya warga di situ, karena tidak mau ikut salat berjamaah kalau imamnya bukan dari kelompoknya. Selain itu, tidak ada juga identitasnya. Tidak ada kartu keluarga. Karena saya ini kan dulu pernah ditugaskan melakukan pendataan. Saya minta identitasnya, katanya dia tidak punya,” tutur perempuan yang tak ingin ditulis namanya itu.
Warga lainnya menambahkan, biasanya setiap Minggu malam banyak yang berkumpul di rumah Rizaldy. Termasuk di malam pergantian tahun belum lama ini.
Tetangga sekitar mengaku pernah melihat jika di depan rumah Rizaldy dikibarkan bendera warna hitam. Tepatnya pada peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus
Sehari-harinya Rizaldy diketahui sebagai seorang wiraswasta. Ia menjual bensin eceran. Kadang pula berjualan bubur ayam di pagi hari dan mengantarnya langsung ke konsumen.
Iwan, ketua RT setempat menuturkan, Rizaldy merupakan penghuni lama di kompleks perumahan ini. Bahkan lebih duluan dari dirinya yang sudah 10 tahun bermukim.
”Dulunya biasa-biasa saja. Bergaul dengan warga sekitar. Nanti setelah masuk organisasi, dia kemudian menghindar. Sudah jarang bergaul. Interaksi hanya dengan kelompoknya,” terang Iwan. Ani, seorang warga lainnya, mengaku tidak pernah menyangka kalau tetangganya itu menjadi terduga teroris. Apalagi Rizaldy sudah lama tinggal di kompleks tersebut.
”Kami tidak curiga, karena dia cukup ramah. Tapi memang, akhir-akhir ini dia dan keluarganya cukup tertutup. Sering ada beberapa orang yang datang bertamu ke rumahnya,” ujar Ani.
Seorang petugas keamanan perumahan yang ditemui, mengatakan aktivitas di rumah Rizaldy sudah lama dipantau polisi. ”Saya sudah lama tahu kalau salah seorang warga di sini sudah dipantau petugas, karena diduga masuk kelompok teroris. Dan sekarang dilakukan penggerebekan,” tandasnya. (rul)

Exit mobile version