Site icon Berita Kota Makassar

Mengungsi ke Makassar, Harus Rapid Tes Antigen

IST TIBA DI MAKASSAR-Pengungsi asal Sulbar tiba di Makassar, Senin (18/1). Sebagian dari mereka kini ditampung di Aula Kantor Dinas Sosial Sulsel.

MAKASSAR, BKM — Duka Sulbar adalah duka Sulsel. Pernah menjadi bagian dari daerah ini, membuat seluruh warga, termasuk Pemprov Sulsel dan Pemkot Makassar merasa terpanggil untuk ambil bagian meringankan beban warga provinsi tetangga yang terkena musibah gempa.
Sebagai ibu kota Sulsel dengan fasilitas yang cukup memadai, Makassar menjadi salah satu lokasi strategis untuk menampung korban gempa Sulbar. Terutama yang membutuhkan penanganan kesehatan khusus.
Penjabat Wali Kota Makassar Rudy Djamaluddin mengatakan, tidak ada alasan untuk menolak korban gempa. “Jadi kita harus saling mendukung. Apalagi ini bencana. Kasihan saudara-saudara kita yang mengalami kesulitan di daerah lain,” ungkapnya.
Pihaknya malah mengaku menyiapkan fasilitas memadai agar pengungsi korban gempa asal Sulbar bisa tinggal nyaman dan sehat di Makassar. “Tentu masyarakat dari manapun itu artinya kalau menganggap bahwa Kota Makassar itu bisa membuat dia lebih baik, tentu kita tidak punya alasan bahwa kami tidak boleh menerima. Kita harus terima. Kita siapkan siapkan fasilitas untuk menjamin bahwa pengungsi itu bisa tinggal nyaman dan sehat,” ungkap Rudy di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Senin (18/1).
Namun, bagi korban gempa yang ingin mengungsi ke Makassar, ada satu catatan dari Rudy yang menjadi syarat. Pengungsi harus menjalani rapid tes antigen terlebih dahulu sebelum masuk ke Makassar. Selain itu, harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
“Yang terpenting protokol kesehatan harus kita jaga. Selain itu, skrining harus dilakukan. Misalnya rapid tes antigen bagi pengungsi yang masuk. Itu sebaiknya dilakukan untuk memastikan pengungsi masuk dalam kondisi bebas covid atau bebas dari terpapar covid,” tegasnya.
Saat ini, puluhan pengungsi gempa dari Sulbar telah tiba di Makassar. Mereka dievakuasi menggunakan pesawat Hercules dari Bandara Tampa Padang, Sulbar menuju Lanud Hasanuddin, Makassar. Walau Dinas Sosial Sulsel telah menyediakan tempat penampungan bagi mereka, para pengungsi lebih memilih tinggal di rumah keluarganya masing-masing yang ada di Makassar.

Tindaki Pelaku Pengadangan

Aksi penjarahan bantuan logistik untuk korban gempa di Sulbar yang beredar viral di media sosial menjadi perhatian serius aparat kepolisian. Tidak segan-segan lagi, tindakan tegas dan terukur diambil Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan jika aksi penjarahan masih terjadi.
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol E Zulpan mengatakan, ada sebanyak tiga kompi pasukan Brimob Polda Sulsel diterjunkan untuk membantu kegiatan Polda Sulbar memastikan dua hal penting. Pertama, memastikan arus bantuan logistik tidak terganggu, berjalan baik dan aman. Kedua, membantu melakukan pencarian korban gempa.
“Anjing pelacak diterjunkan untuk membantu mencari korban yang diperkirakan masih ada tertimbun di dalam reruntuhan bangunan,” sebut Kombes Pol E Zulpan saat melakukan kunjungan silaturahmi ke Gedung Graha Pena, Senin siang (18/1).
Disinggung aksi penjarahan bantuan logistik, Zulpan menjelaskan bahwa itu bukanlah penjarahan, tetapi hanya pengadangan. Itu terjadi lantaran tidak adanya pengawalan terhadap mobil-mobil yang membawa bantuan.
Oleh karena itu, diimbau kepada setiap orang atau kelompok yang ingin masuk menyalurkan bantuan logistik bagi korban gempa agar lebih dahulu berkoordinasi dengan polisi untuk mendapatkan pengawalan. “Pengadangan di jalan itu karena mobil yang membawa bantuan logistik masuk tanpa pengawalan kepolisian. Masyarakat setempat yang terdampak gempa juga turut khawatir tidak mendapat bantuan. Sehingga begitu tahu ada bantuan dari Sulsel yang masuk, mereka itu langsung mengadang dan diambil,” tambahnya.
Aksi pengadangan kendaraan pengangkut bantuan logistik yang dilakukan oleh masyarakat setempat dipastikan tidak berlangsung lama. Sudah cukup diberikan toleransi. Apabila masih terjadi, lagi maka akan disikapi secara tegas.
“Itu kami masih berikan toleransi, karena baru kejadian hari pertama dan kemudian kesalahan pemberi bantuan yang tidak berkoordinasi dengan kepolisian. Sekarang dipastikan dengan adanya Brimob Polda Sulsel di sana, semua jalur arus logistik dikawal. Siapapun yang coba menghalangi, apalagi merampas di tengah jalan maka dilakukan tindakan tegas dan terukur,” tandasnya. (rhm-arf)

Exit mobile version