MAKASSAR, BKM — Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Chapter Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menggelar diskusi publik. Kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya. Dilaksanakan 10 Januari 2021 melalui aplikasi virtual zoom. Hal ini sejalan dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan.
Presiden FPCI Chapter Unhas Annisa Apriliani, mengatakan diskusi publik kali ini merupakan dedikasi dari FPCI Chapter Unhas untuk menyebarkan dan memperluas wawasan, serta semangat para mahasiswa mengetahui bagaimana sebenarnya kebijakan luar negeri berjalan. Termasuk bagaimana dampaknya kepada seluruh aspek, serta sektor kesehatan publik secara khusus.
Kegiatan yang dilakukan oleh FPCI Chapter Unhas ini diapresiasi oleh Aswin Baharuddin, SIP,MA, dosen Departemen Hubungan Internasional Unhas yang juga konselor FPCI Chapter Unhas. Ia menilai bahwa diskusi publik ini merupakan wadah bertukar pikiran dan mencari potensi- potensi emansipatif dari posisi masing-masing.
Walaupun dilaksanakan secara virtual, kegiatan ini menghadirkan para pembicara hebat yang ahli pada bidangnya. Misalnya Dr Dino Patti Djalal yang merupakan Founder Foreign Policy Community of Indonesia dan Prof Dr Ridwan Amiruddin,SKM.MKes.MSc.PH selaku Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin serta ahli epidemiologi.
Mengusung tema Tribute To Its First Death Case: Lessons Learned From Covid-19 and The Way Forward, FPCI Chapter UNHAS mengajak para mahasiswa melakukan sharing session mengenai kebijakan luar negeri yang berdampak pada seluruh aspek, khususnya sektor kesehatan publik.
“Covid-19 secara global memang belum selesai. Bahkan di beberapa kawasan, termasuk di Amerika masih mengalami peningkatan kasus. Begitu pula dengan Inggris. Indonesia sendiri belum menemukan puncaknya,” ungkap Prof Ridwan Amiruddin.
Dengan adanya diskusi publik ini, FPCI Chapter UNHAS berharap mampu menjadi stimulan bagi mahasiswa untuk terus mempelajari lebih dalam lagi mengenai kebijakan luar negeri, dan melahirkan generasi-generasi yang melek terhadap hal tersebut. Khususnya bagi para mahasiswa disarankan untuk mengikuti diskusi publik selanjutnya agar dapat menambah wawasan, yang tentunya tidak akan didapatkan dalam ruang-ruang akademik secara langsung. (rls)
