MAKASSAR, BKM — Gelombang pengungsian dari wilayah Sulawesi Barat ke Sulawesi Selatan terus berlangsung. Mereka kini berada di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa.
Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan mendata, pada hari Selasa (19/1) telah tiba 79 orang yang diangkut dengan menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU. Mereka yang terdiri dari balita, anak-anak, dewasa serta lansia, kini ditampung di UPTD Pusat Pelayanan Sosial Taman Penitipan Anak Inang Matutu, Jalan Tamalate 1, Kota Makassar. Para pengungsi telah menjalani rapid test.
BKM mendatangi tempat pengungsian korban gempa, Rabu (20/1). Anak-anak kecil tampak bermain. Sebagian lagi yang sudah dewasa dan lansia terlihat tengah beristirahat.
Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Sulsel Herman, mengatakan pihaknya telah melakukan upaya assesmen terhadap kebutuhan dasar para pengungsi berdasarkan klasifikasi usia. Selain itu, berdasarkan instruksi gubernur, sebagian pengungsi akan diarahkan penempatannya di Asrama Haji Sudiang.
”Sampai saat ini belum bisa dipastikan berapa banyak jumlah dari masing-masing usia yang ada di lokasi pengungsian. Kita belum merekap data yang ada, karena masih banyak pengungsi yang belum sampai,” terang Herman, kemarin.
Terkait batas waktu untuk berada di lokasi pengungsian, lanjut Herman, pihaknya masih melakukan koordinasi dengan pemerintah di kampung halaman masing-masing pengungsi. Dari deteksi awal, sebagian besar pengungsi yang ditangani Dinsos Sulsel saat ini berasal dari Jawa Timur.
”Kita akan berusaha memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, seperti makanan, pakaian dan selimut. Termasuk mengatasi trauma yang mereka alami. Juga berkoordinasi mengenai pemulangan sebagian korban ke kampung halamannya,” jelas Herman.
Wanda, salah seorang pengungsi yang berasal dari Surabaya dan merantau di Mamuju, Sulbar, berbagi kisah tentang apa yang dialaminya saat gempar terjadi. Ketika gempa pertama dengan magnitudo 5,9 melanda pada pukul 13.30 Wita, ia tengah berada di dalam rumah. Saat itu ia sedang memasak.
”Tiba-tiba ada guncangan dan rumah bergoyang. Saya langsung menyelamatkan anak saya. Pada saat itu belum ada pemberitahuan bahwa kita harus mengungsi. Jadi kami tetap tinggal di dalam rumah,” ujarnya saat ditemui di tempat pengungsian milik Dinsos Sulsel, kemarin.
Sejak saat itu, lanjut Wanda, warga mulai waspada. Yang pria terus berjaga-jaga dan memilih untuk tidak tidur. Mereka trauma dengan peristiwa gempa yang melanda Palu beberapa waktu lalu, dan getarannya terasa hingga Mamuju. Hingga akhirnya kondisi yang dikhawatirkan terjadi. Pada Jumat dinihari (15/1) pukul 02.00 Wita, gempa dengan magnitudo 6,2 mengguncang Majene dan Mamuju.
Dalam situasi panik dan ketakutan, wanita 25 tahun ini bersama keluarganya menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan. Ia tak lagi berpikir untuk menyelamatkan dokumen penting miliknya, seperti kartu keluarga, buku nikah, ATM, serta akta kelahiran anaknya. Yang dipegangnya saat ini hanyalah KTP dan fotocopi kartu keluarga (KK). Anaknya yang masih berusia 11 bulan harus menderita luka ringan akibat tertimpa batu bata saat menyelamatkan diri.
”Rumah yang saya tinggalkan sudah dalam keadaan hancur. Saya takut untuk kembali ke rumah. Gempa ini membuat kami trauma. Rumah yang ada di Mamuju kami tinggalkan begitu saja,” terang ibu satu anak ini.
Sesaat pascagempa besar melanda, Wanda yang membawa anaknya kemudian menuju ke kawasan kantor gubernur dan Dinas Sosial. Di sana sudah banyak warga lainnya yang mengungsi.
Di saat bersamaan, di lokasi tersebut terjadi genangan dan hujan lebat serta angin kencang. Keluarga Wanda dan pengungsi yang lain terpaksa tidur di tengah kondisi cuaca buruk. Wanda akhirnya memutuskan mengungsi ke Makassar, untuk selanjutnya berangkat ke kampung halamannya di Jawa Timur.
”Alhamdulillah, tidak ada kendala selama pengungsian. Sejak gempa terjadi hingga saat ini bantuan sudah berdatangan. Yang awalnya kami berada di kantor Dinas Sosial Mamuju sampai kami berada di sini (Makassar), segala kebutuhan terpenuhi. Seperti makanan, popok bayi, susu dan pakaian untuk anak-anak. Di sini pun kami merasa aman,” jelas Wanda.
Pengungsi di Gowa
Di Kabupaten Gowa, sedikitnya ada 27 orang pengungsi asal Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat yang telah tiba. Mereka datang secara terpisah. 16 orang tiba menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU. Sementara 11 orang lainnya datang secara swadaya.
Sebanyak 16 orang yang datang difasilitasi menggunakan pesawat udara itu terdiri dari tiga kepala keluarga, masing-masing tujuh orang anak-anak, dan sembilan orang dewasa. Mereka tiba di Gowa dalam kondisi sehat pada Senin (18/1) malam.
Kepala Seksi Jaminan Sosial Dinas Sosial Gowa Sofyan, menjelaskan belasan pengungsi asal Sulbar ini menempati sebuah rumah milik keluarga salah satu korban di BTN Nusa Indah Blok D4 no 40, Desa Bontoala, Kecamatan Pallangga.
“Mereka tiba dari Mamuju kemarin siang di Makassar, dan tiba di Gowa malam. Sekarang mereka di BTN Nusa Indah Pallangga. Ada beberapa di rumah keluargamya juga. Para pengungsi ini berasal dari Kelurahan Sinyonyoi Selatan, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju,” jelas Sofyan, Selasa (19/1) siang.
Para pengungsi ini, lanjut Sofyan, tiba di Makassar menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU yang mengirim logistik bantuan ke Sulbar dan dijemput langsung oleh jajaran Dinsos Gowa.
“Para pengungsi dijemput oleh jajaran Dinas Sosial Gowa di kantor Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan tadi malam. Kemudian langsung kami fasilitasi ke Gowa tadi malam. Selama di Gowa, pemkab melalui Dinsos akan membantu secara bersama-sama dengan tetap mengkomunikasikan ke pihak pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan,” terang Sofyan.
Busriadi, salah seorang dari pengungsi asal Mamuju, menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Gowa atas bantuan yang diberikan selama penjemputan hingga sampai di lokasi tujuan.
“Alhamdulillah, tidak ada kendala dari bandara sampai di Gowa. Sebetulnya kami kaget, karena setelah sampai di bandara pihak Dinsos menjemput langsung ke rumah tujuan kita. Tapi kami dibawa dulu ke gedung Dinsos Gowa. Di sana ada pelayanan. Kami disediakan makanan. Setelah kami ingin meninggalkan tempat dijemput oleh keluarga, ada solusi dari Dinsos Gowa untuk mengantar kami sampai di tujuan. Di situ kami sangat bersyukur karena tidak ada biaya yang keluar,” tutur Busriadi.
Berdasarkan data Dinsos Gowa, 16 pengungsi asal Mamuju ini adalah Harba (31), Rusmia (29), Fahri (10), Fani (2), Busriadi (27), Nilansari (22), Sajida (40), Nurul Wahida (18), Akmal (17) , Nurfadila (10), Hikmal (4), Sadiah (60), Irman (27), Mawanni (14), Sarmila (18) dan Saira Atiaka (10).
Selain 16 pengungsi yang ada di Kecamatan Pallangga ini, juga terdapat 11 pengungsi Sulbar lainnya yang tiba secara swadaya dan kini ditampung keluarga masing-masing di Kelurahan Kalegowa, Kecamatan Somba Opu. Tepatnya di Jalan Seroja Kompleks Hasanuddin Blok D/4 sebanyak tujuh orang, terdiri dari tiga laki-laki dan empat perempuan. Sementara di Blok D/106 sebanyak lima orang, masing-masing tiga laki-laki dan dua perempuan. (pkl-sar)
