MAKASSAR, BKM — Seorang mahasiswa Unhas menggelas aksi solo Jalan Perintis Kemerdekaan, Kamis (28/1). Sambil membawa kertas berukuran besar, ia berdiri tepat di depan pintu satu. Di kertas itu bertuliskan; Pendidikan sangat mahal, saya #mogokbayar kuliah #pendidikantinggi gratis.”
Mahasiswa yang tidak ingin menyebutkan identitasnya itu, mengatakan aksi yang dilakukannya ini sebagai bentuk protes terhadap pendidikan yang semakin sulit diakses oleh masyarakat. Ia beraksi dengan mengenakan jas almamater warna merah, memakai topi, kacamata hitam, bersarung serta sendal.
“Protes ini saya tujukan untuk seluruh instansi pendidikan tinggi, terkhusus di Unhas. Naiknya batas kuota maksimal JNS/mandiri menjadi 50 persen adalah salah satu bentuknya,” ujarnya.
Semangat ini, lanjut dia, diratifikasi di Permendikbud Nomor 25 Tahun 2020 yang secara otomatis menghapus Permenristekdikti Nomor 39 tahun 2016 yang mengatur batas maksimal JNS 30 persen. Belum lagi di tengah pandemi, dan fasilitas yang tidak terpakai di sepanjang pembelajaran daring, tidak juga dipikirkan oleh instansi pendidikan untuk menggratiskan seluruh biaya pendidikan.
”Hal ini membuat beberapa kawan pada akhirnya mesti terseok-seok memikirkan pembayaran kuliah dan biaya hidup di tengah kondisi maraknya PHK orangtua/wali di sisi lain,” cetusnya.
Humas Unhas Ishaq Rahman, menilai wajar aksi demo yang dilakukan. Mahasiswa pada dasarnya boleh mengemukakan ekspresi dan pendapat, sepanjang memperhatikan hak orang lain. ”Dan juga penting untuk memperhatikan keselamatan diri sendiri. Apalagi ini dilakukan di jalan raya yang cukup padat,” ujarnya, kemarin.
Ishaq juga merepons isi tuntutannya. ”Saya kira itu relatif (soal mahal tidaknya uang kuliah). Di Unhas sendiri biaya kuliah relatif jauh lebih murah jika dibandingkan dengan kampus lain, Jika dibandingkan dengan kebutuhan biaya penyelenggaraan pendidikan yang normal, itu lebih murah kok,” terangnya.(ita-pkl)
