SATU lagi kisah legenda masyarakat Sulawesi Selatan diangkat ke layar lebar. Kali ini dari Kabupaten Jeneponto. Judul filmnya De Toeng Misteri Ayunan Nenek. Proses produksinya telah rampung dan segera tayang di bioskop.
BAGI masyarakat Sulsel, nama Asmin Amin tentu tak asing lagi. Ia dikenal sebagai seorang budayawan. Tidak salah bila kemudian mantan anggota DPR RI mengangkat legenda yang ada di tengah masyarakat menjadi sebuah film. Akhirnya lahirlah film De Toeng.
Tampil di podcast Berita Kota Makassar, Rabu (27/1), ia bercerita tentang latar belakang film yang diproduserinya. Asmin sekaligus menjadi pemain di dalamnya.
Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto menjadi titik lokasi produksi film ini. Toeng merupakan nama seorang nenek yang cukup melegenda bagi masyarakat setempat.
Menurut Asmin, proses penggarapan film ini dimulai dari dirinya melakukan observasi mengenai legenda Nenek Toeng. Meski sudah berlangsung enam bulan, Asmin yang merupakan putra Jeneponto tidak menemui hasil sedikitpun.
Walau begitu, ia tak patah arang. Asmin terus mencari cara bagaimana mendapatkan informasi tentang legenda ini. Aroma mistis mewarnai perjalanannya. Asmin lalu menempuh cara yang tak lazim guna menggali sebuah ide cerita di kalangan sineas. Agar bisa berkomunikasi dengan Nenek Toeng, ia menggunakan media berupa seseorang yang memiliki kemampuan supranatural atau biasa disebut indigo.
Percakapan tak lazim pun bermula. Nenek Toeng hadir dalam diri indigo tersebut. Ia bercerita bagaimana legenda Nenek Toeng melekat di Butta Turatea, Jeneponto.
”Legenda tersebut menceritakan bahwa seorang keturunan karaeng hanya boleh menikah dengan seorang yang keturunan karaeng pula. Ataukah hanya boleh menikah dengan tupanrita, tubaraniya, tucaradde, dan tau nikaluki nyawa,” tutur Asmin.
Singkat cerita, dikarenakan terdapat strata sosial yang berbeda sehingga seorang anak karaeng disembelih karena terlibat kisah asmara dan silariang dengan seseorang yang strata sosialnya bukanlah seorang karaeng. Ia hanya berstatus sebagai tubarani atau ksatria, namun tak dapat dibuktikan keberaniannya.
Menurut Asmin, dalam proses percakapan tak lazim tersebut dirinya kemudian meminta izin untuk membuat film mengenai Nenek Toeng. Dalam proses meminta izin tersebut, Nenek Toeng yang hadir melalui sang indigo, banyak meminta syarat. ”Kalau kau mau bikin ini acara, ada syaratnya.Seperti barazanjiko, a’rate’. Kemudian potong kambing untuk dimakan bersama. Yang ketiga, kasih saya sarungmu, karena itu karaengmu dulu saya minta sarung tapi tidak dikasi. Padahal untuk saya toeng (ayun) cucuku,” ucap Asmin Amin.
F
ilm ini dibintangi oleh beberapa artis ibu kota yang didatangkan langsung. Mereka adalah Kartika Waode, Sean Hasyim, Resyha Nafisa, dan Agung Iskandar. Dengan kru yang juga berasal dari Jakarta. Film tersebut juga mengangkat kebudayaan lain seperti pencak silat, bacaan-bacaan pengusir setan, a’rate serta prinsip-prinsip kebudayaan yang ada di Jeneponto. Selain itu, konflik yang hadir dalam film ini memperlihatkan bagaimana seorang ayah penjaga adat yang keras dibenturkan dengan cintanya seorang ayah terhadap putrinya.
Awalnya, proses produksi film ini ditarget selesai dalam 10 hari. Namun kemudian bertambah hingga 11 hari lamanya. Selain masalah teknis, ada pula hal-hal mistis yang terjadi. Termasuk berkah bagi pemeran film tersebut. ”Mereka terlibat cinlok (cinta lokasi), hingga akhirnya menikah,” terang Asmin.
Selain itu, editor film ini harus berganti tiga kali. ”Editornya kan bekerja di rumah. Saat proses editing berlangsung, istrinya tak sanggup mendengar suara a’royong hingga akhirnya berhenti. Hingga akhirnya di editor ketiga baru bisa rampung,” jelas Asmin lagi.
Rencananya, film ini akan tayang pada 11 Februari mendatang. Bahkan, Asmin menyebut film ini telah mendapatkan porsi 126 layar di seluruh Indonesia. Mulai dari Bitung, Sorong, hingga Aceh. Karenanya, dia pun mengajak masyarakat Indonesia untuk menonton film ini. Karena ada banyak pelajaran yang bisa diperoleh di dalamanya. (pkl)
