PARA penyandang disabilitas selalu berusaha untuk bisa bangkit. Kisah haru yang mengundang simpati pun menyertai upaya tersebut. Tak terkecuali dengan perjalanan hidup yang dilakoni Riska.
SEBUAH rumah di BTN Pepabri Blok D3 Nomor 4 Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. Ini kediaman Riska, perempuan yang kini berusia 24 tahun. Rumah ini pula dijadikan tempat usaha dengan nama Rumah Jahit Nini.
Jika dilihat sepintas, tak ada yang berbeda dengan Riska. Siapa sangka, wanita berhijab ini seorang penyandang disabilitas. Di tengah keterbatasan yang dimilikinya, ia mampu membuktikan bahwa dirinya bisa mandiri.
Sejak lahit, Riska kecil telah mengidap tumor yang menyerang kaki kirinya. Di tahun 1996 silam, ia pun harus merelakan kakinya itu diamputasi. Jadilah itu ditopang dengan satu kaki guna melakukan rutinitas keseharian.
Walau begitu, ia tetap lincah dalam urusan pekerjaan jahit menjahit. Kepada BKM yang berkunjung ke rumahnya, Riska dengan cekatan memperlihatkan caranya menyelesaikan jahitan.
Rumah Jahit Nini milik Riska menerima berbagai macam pesanan baju, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Termasuk gamis, kebaya, rok, celana, serta permak pakaian. Diapun telah memiliki pelanggan tetap.
Merintis usaha sebagai seorang disabilitas tidaklah mudah bagi Riska. Tapi ia beruntung mendapat bantuan dari Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BRSPDF) Wirajaya, Makassar. Ia memang menjadi salah satu penerima manfaat dari balai milik Kementerian Sosial yang beralamat di Jalan AP Petta Rani, Makassar itu selama dua tahun, yakni 2013-2015.
‘”Dari SD saya sudah ditawari untuk masuk di balai, tapi saya masih mau lanjut sekolah. Waktu mau lanjut di SMA, orangtua sudah tidak mampu untuk membiayai. Di situlah akhirnya saya berpikir untuk masuk balai,” terang Riska.
Selama berada di dalam balai sejak 2013, Riska mengaku banyak mendapatkan pelayanan. Di antaranya program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) yang bertujuan untuk memperkuat pelaksanaan rehabilitasi sosial berbasis keluarga, komunitas, dan residensial. Program ini dilaksanakan dalam bentuk temporary shelter, dukungan keluarga (family support), perawatan sosial, respons kasus, terapi psikososial, pelatihan keterampilan, kewirausahaan dan peningkatan kapasitas LKS mitra kerja.
Akhirnya, tahun 2015 Riska keluar dari balai. Ia bekerja dengan membuka usaha jahit di rumah selama dua bulan. Namun saat itu usaha jahitnya masi sepi. Diapun kembali berinisiatif untuk mencari pengalaman. Riskan bekerja di orang lain yang juga usaha rumah jahit selama enam bulan dengan dua titik lokasi berbeda. Masing-masing empat bulan di Jalan Landak, dan dua bulan di Jalan Kelapa III.
Usai menambah ilmu di tempat usaha orang lain, Riska memutuskan untuk kembali ke rumah dan fokus merintis usahanya sendiri. Dengan semangat hidup serta dukungan keluarga yang selalu mensupport, akhirnya usahanya berbuah hasil.
“Alhamdulillah, saya sagat bersyukur bisa masuk di balai. Karena berkat ilmu dari balai saya bisa seperti sekarang. Dulunya saya tidak tahu bagaimana masa depan saya dengan keterbatasan yang saya miliki. Bahkan sempat putus asa melihat kondisi saya waktu itu. Namun setelah keluar dari balai dan memiliki keterampilan, saya bisa membangun usaha jahit ini. Alhamdulillah saya bisa membantu perekonomian keluarga,” tuturnya. (pkl)
