MAROS, BKM — Kondisi jalan poros Maros-Bone, tepatnya di kilometer 8 (Km)Lingkungan Pakalu, Kelurahan Kalabirang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros dikeluhkan aparat kepolisian. Jalan poros ini amblas sepanjang sekitar 20 meter dengan dengan lebar 20 sampai 30 centimeter.
Kanit Lantas Polsek Bantimurung, Ipda Syarif, menjelaskan, amblasnya jalan tersebut diakibatkan terkuras air dengan intensitas hujan yang meningkat. Apalagi kondisi tanah di jalan tersebut labil. Sehingga dasar tanah di bawah irigasi mudah amblas.
”Ini sangat rawan bagi pengguna jalan baik kendaraan roda empat maupun motor. Karena bisa menimbulkan kecelakaan (out control). Apalagi dimalam hari,” jelasnya.
Ditambah lagi, di sekitar jalan tersebut tidak terdapat penerangan lampu jalan ataupun tanda-tanda lainnya. Sehingga jajaran Lalulintas Polsek Bantimurung, Polres Maros, melakukan pengaturan setiap jam-jam rawan atau padat kendaraan untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan.
Kanit Lantas Polsek Bantimurung, Ipda Syarif, mengatakan, jalan poros tersebut amblas sudah lama dan telah dilakukan koordinasi ke pihak terkait. Namun hingga saat ini belum ada tindak.
”Sudah dikoordinasikan dengan pihak terkait. Namun belum ada realisasi. Apalagi di jalan tersebut sudah pernah memakan korban,” sebut Syarif, akhir pekan lalu.
Diharapkan, semoga pihak terkait dapat sesegera mungkin melakukan perbaikan. Mengingat, jalur tersebut merupakan satu-satunya akses jalan yang menghubungkan Kabupaten Maros dan Bone, karena sangat rawan memakan korban kecelakaan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pemprov Sulsel, Rudy Djamaluddin, mengatakan, jalan provinsi itu sepanjang 2.009,13 KM. Sehingga pengerjaan dilakukan secara bertahap.
”Itu baru jalan provinsi. Belum jalan kabupaten, belum jalan nasional,” terangnya.
Lanjutnya, dimasa pemerintahan Nurdin Abdullah (NA), pada tahun 2018, pemantapan jalan sudah sekitar 58 persen. Itu artinya masih ada 42 persen jalan yang rusak di Sulawesi. Sekitar 280 Km masih jalan tanah, dan 180 Km jalan rusak berat. Termasuk jalan berlubang,
”Dan di tahun 2019, kita tingkatkan kemantapan jalan sesuai kemampuan anggaran, mencapai 62 persen. Sementara di 2020 kita tingkatkan lagi menjadi 70 persen. Jadi masih ada 30 persen,” jelasnya.
Perbaikannya pun dikerjakan secara bertahap mengingat anggaran yang digunakan terbatas. Dia pun menarget jika di tahun 2021 ini, peningkatan bisa kembali dilakukan, hingga 80 persen. ”Nanti kita programkan lagi. Tentu berdasarkan skala prioritas. Tidak mungkin jalan ini ditangani sekaligus. Mungkin bisa sampai 75 persen atau bahkan 80 persen,” tuturnya.
Dikatakan, PR masih banyak. Masih banyak masyarakat yang menggunakan jalan tanah. Jadi artinya, jalan lubang itu masyarakatnya sudah lihat aspal. ”Ada masyarakat lihat aspal kaget, apa ini jalan warna hitam,” tutupnya. (ari/c)
Polisi Keluhkan Jalan di Kilometer Delapan Pakalu
