Site icon Berita Kota Makassar

Program 100 Hari Sasar Pekerja yang Terdampak PHK

HAJI Andi Syafril Chaidir Syam atau yang akrab disapa HAS Chaidir Syam tak lama lagi dilantik menjadi bupati Maros. Bersama Wakil Bupati Hj Suhartini Bohari, pasangan ini terpilih dalam pemilihan serentak tahun 2020 lalu. Apa yang akan dilakukan kelak ketika menjabat? BKM menggalinya dari mantan ketua DPRD Maros itu pada sesi podcast, Selasa (9/2).

TAMPIL santai dengan kemeja lengan pendek dan celana jins, Chaidir mengawali penjelasannya dengan mengatakan bahwa program yang akan dilaksanakannya tidak terlepas dari visi misi yang disampaikan saat kampanye. Kata dia, di masa pandemi covid-19 saat ini, yang paling utama harus dilakukan adalah mendukung program-program penanganan covid 19 yang ada di Indonesia, khususnya di Kabupaten Maros.
Selain itu, program utama yang harus dilakukan ke depan adalah bagaimana bisa melihat potensi, baik pemuda dan masyarakat secara umum. ”Kita harus memberikan yang terbaik untuk mereka. Kami punya target bagaimana kita menciptakan ruang-ruang bagi pemuda kita di Maros, khususnya lapangan pekerjaan bagi mereka,” tutur Chaidir Syam.
Bagaimana caranya? ”Kita lihat potensinya. Alhamdulillah, saat berkeliling di masa kampanye saya melihat pemuda dan masyarakat di Maros memiliki potensi yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita memfasilitas peningkatan SDM dan keterampilan serta berbagai hal yang saling terkait. Bagaimana caranya mereka bisa mandiri dan berusaha sendiri,” terang Chaidiri yang merupakan politisi Partai Amanat Nasional (PAN).
Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas) ini menyebut, akan menyediakan 28 ribu lapangan pekerjaan di masa kepemimpinannya. Hal itu mengacu pada kenyataan bahwa saat ini Kabupaten Maros telah memiliki pondasi yang bagus.
”Inilah yang akan kita lanjutkan. Yang belum terselesaikan, semoga kami bisa selesaikan. Yang belum bisa diperbaiki, Insyaallah kami akan perbaiki. Hal-hal yang baik akan kami teruskan,” ujarnya.
Pandemi covid-19, diakui suami Hj Ulfiah Nur Yusuf ini, berpengaruh besar terhadap perekonomian masyarakat. Untuk itu, ia menawarkan untuk membantu dan memperbaiki kondisi tersebut. Pihaknya sudah mendiskusikan 100 hari apa yang harus dikerjakan.
Di sini terlebih dahulu akan dilihat database awal dari keseluruhan. Mendata secara ril di setiap desa, setiap RW, setiap dusun bagaimana kondisi masyarakatnya dan bagaimana pemudanya. Apakah mereka terdampak pandemi covid secara besar, seperti PHK (pemutusan hubungan kerja). Mereka yang memiliki keahlian khusus akan dibantu untuk meningkatkan keterampilannya. ”Empat hingga lima tahun ke depan kami akan melakukan kegiatan ril untuk kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.
Sebagai daerah satelit yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar, Gowa, dan Takalar, Kabupaten Maros membuka diri untuk memperkuat jalinan kerja sama serta sinergi yang baik. ”Kita berharap ke depan sinergi antarwilayah semakin diperkuat. Maros sebagai kota satelit tidak bisa berdiri sendiri. Provinsi bisa menyaksikan dengan baik hubungan ini,” terangnya.
Chaidir lalu memberi contoh tentang penyediaan air baku untuk PDAM Kota Makassar yang berasal dari Lekopancing. Selama ini, air baku tersebut telah dimanfaatkan oleh warga Makassar. Ia berharap, ke depan pemanfaatan tersebut bisa lebih dimaksimalkan lagi oleh kedua daerah. Misalnya, sumber air Lekopancing bisa pula digunakan oleh petani di Kabupaten Maros.
”Dengan adanya bendungan Nipa-nipa di Makassar bisa mengatasi kebutuhan air baku PDAM Makassar di musim kemarau. Dengan begitu, air dari Lekopancing nantinya bisa digunakan oleh petani di Maros. Ini salah satu target kita ke depan. Semoga hubungan baik yang terjalin selama ini bisa semakin baik lagi,” tandas Chaidir.
Saat ini, salah satu bidang yang cukup menonjol di Kabupaten Maros adalah sektor jasa. Karenanya, tak dipungkiri oleh Chaidir, bahwa hal tersebut berkorelasi terhadap pekerja serta karyawan yang terkena PHK. Tidak salah jika hal itu kemudian menjadi program prioritas untuk disentuh di 100 hari kerja pasangan yang dikenal dengan tagline Hatita Keren saat kampanya pilkada.
Sektor pertanian juga menjadi andalan di daerah ini. Menurut Chaidir, ada 12 program yang utama untuk peningkatan di bidang pertanian. ”Kita akan melanjutkan bagaimana membangun atau ‘menetaskan telur’ yang belum tuntas. Salah satu yang menjadi perhatian saat ini adalah terjadinya kelangkaan pupuk. Yang perlu dicari solusinya adalah bagiaman kelangkaan ini bisa segera teratasi. Saya dengar informasi, Kementerian Pertanian telah menyatakan komitmennya untuk membantu memajukan pertanian di daerah,” jelas magister hukum ini.
Di bagian akhir wawancara, Chaidir ditanya bagaimana ia bisa ‘merangkul’ rivalnya serta warga Maros yang tidak mendukungnya di pilkada lalu. ”Pilkada telah finish, Tidak ada lagi pertarungan. Tidak ada lagi nomor satu, dua atau tiga. Sekarang bagaimana kita bisa bersama-sama membangun Maros yang kita cintai. Bagaimana kita melihat potensi yang ada untuk dikembangkan,” terangnya.
”Terpilih bukan berarti lebih dari teman-teman di pilkada. Karena amanah yang diberikan, kami butuh dukungan dari semua pihak. Pemuda yang mempunyai potensi besar dan masyarakat secara keseluruhan, mari kita jama bersama-sama,” imbuhnya.
Menurut pria kelahiran Bone, 2 Februari 1977 ini, ada dua kesuksesan yang diraih Kabupaten Maros dari pelaksanaan pilkada 2020. Pertama, selama Maros berdiri, yang terpilih adalah bupati dan wakil bupati termuda. Kedua, Maros telah mencatatkan sejarah di mana seorang perempuan menduduki jabatan sebagai wakil bupati. Pada pilkada lalu, pasangan Hatita Keren meraup suara 82.770 suara atau 42 persen. (pkl)

Exit mobile version