Site icon Berita Kota Makassar

Danny Siapkan ‘Jurus’ Tangani Covid-19

int Moh Ramdhan Pomanto

MAKASSAR, BKM — Wali Kota Makassar terpilih Moh Ramdhan Pomanto dan wakilnya Hj Fatmawati Rusdi memang belum dilantik. Walau begitu, ia telah menyiapkan ‘jurus’ jitu untuk menangani kasus covid-19 yang cenderung terus mengalami peningkatan.
Konsep serta polanya telah dibuat. Dijadwalkan, lauching akan dilaksanakan setelah pelantikan pasangan Danny-Fatma.
Sebenarnya, Danny belum ingin membeber lebih detail programnya tersebut. Namun dalam sesi podcast di kanal Youtube Berita Kota Makassar, ia bersedia memberi sedikit bocoran tentang apa yang akan dilakukannya guna menekan laju penyebaran covid-19 di Makassar.
”Secara filosofi pemimpin itu hadir untuk menjawab kesulitan masyarakat. Yang menjadi kesulitan masyarakat saat ini adalah covid. Jadi, yang dijawab adalah covid dulu. Bukan yang dijawab itu hal-hal yang sifatnya jabatan, seperti lelang jabatan. Orang bertengkar soal pelantikan. Saya malu dengan pertengkaran seperti itu. Pada sisi lain pada masyarakat itu sangat menderita, baik terkena dampak maupun orang terkena penyakit sendiri. Apalagi saya sendiri mengalami itu dan paham betul,” ungkap Danny yang diwawancara, Jumat (12/2).
Ia berharap bisa dilantik pada 17 Februari mendatang. Jika hal itu terealisasi, maka sehari kemudian, atau pada 18 Februari ia akan lauching program ini.
”Ini penanganannya model yang tuntas. Seperti di sepakbola itu, man to man marking. Semua orang termarking, terkawal dengan baik riwayat kesehatan dan riwayat covidnya. Konsep ini membantu tugas-tugas Satgas, di mana banyak ruang-ruang kosong yang belum tertangani. Kita melengkapi itu,” terang Danny.
Terkait infrastruktur pendukungnya, Danny mengakui sudah siap. ”Bila memang tidak ada, kita adakan. Karena saya melihat dan coba mengukur penanganan covid di Pemkot Makassar, memang tidak ada yang dipersiapkan sama sekali. Obatnya tidak ada, ambulansnya tidak ada. Rumah sakitnya juga tidak siap. Bahkan nakes yang kena covid tidak tertangani dengan baik oleh pemerintah kota. Termasuk juga personel Satpol PP yang terpapar. Tapi tidak apa-apa, kondisi ini saya kira hal penting yang harus dihadapi tanpa menyalahkan siapa-siapa. Tapi masyarakat perlu tahu, karena jangan sampai ada orang bicara bahwa penanganannya luar biasa, sementara tidak ada sama sekali. Karena saya sudah bicara dengan banyak pihak di Pemerintah Kota Makassar,” jelasnya.
Program yang sudah disusun oleh Danny, diakui tidak hanya sebatas penanganan penyakitnya. Ia membagi konsepnya dalam tiga bingkai besar. Pertama dan yang menjadi program besar adalah menciptakan imunitas kelompok untuk kemudian menghasilkan imunitas kota yang kuat. Kedua adalah social adaptation atau adaptasi sosial. Ketiga, economic recovery (pemulihan ekonomi).
”Jadi saya hanya kasih sedikit bocoran dulu di sini. Contohnya, nanti semua orang yang masuk kafe harus mengikuti program monitoring. Di situ nanti dipasang alat, sehingga setiap kecamatan bisa memonitor semua. Termasuk penjual martabak, warung kopi, restoran besar, ataupun toko-toko besar. Di sini ada unsur pendidikan dan mengorganisasikan secara strategis. Artinya ekonomi tidak perlu dilockdown. Pelaku-pelaku ekonomi kita didik untuk melaksanakan program yang telah disusun oleh SDM nantinya,”
bebernya.

Guna melaksanakan program yang telah dibuatnya, Danny butuh relawan sebanyak 15.306 orang. Terdiri dari 10.000 relawan yang bertindak selaku detektor. Mereka ini disebutkan sudah ada. Sementara tenaga kesehatan (nakes) dibutuhkan 5.000 orang serta 306 tenaga dokter.
”Apa itu bisa dipenuhi? Bisa. Yang 10.000 relawan untuk detektor sudah ada. Kami punya bassi barani di bawah. Mirip-mirip dulu waktu blusukan. Untuk nakes, saya akan buka yang mau jadi relawan. Terutama dokter-dokter muda yang belum berpraktik, kita harap bisa terlibat di sini. Kita buka pastisipasi masyarakat yang seluas-luasnya. Saya bagi satu kelurahan itu dua dokter,” jelas Danny. (*/rus)

Exit mobile version