MAKASSAR, BKM — Pandemi covid-19 membuat kalangan pengusaha mencari alternatif agar bisnisnya tetap berputar. Tak terkecuali bagi Emi Firman. Pengusaha butik asal Makassar ini memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk melancarkan usahanya.
Emi hadir mengisi sesi podcast bisnis di studio mini BKM lantai tiga Gedung Graha Pena, Selasa (16/2). Inspirasi usaha dipaparkan perempuan berhijab ini.
Emi mengawali penjelasannya tentang bagaimana ia membangun usaha butik di tahun 1999. Sebagai orang yang lahir dari keluarga pedagang, bisnis pakaian tak lagi asing baginya.
”Di awal tahun 1999 usaha fashion busana blush dan atasan untuk wanita. Waktu itu rumah tempat tinggal sekalian dijadikan toko untuk berjualan. Teman-teman suka datang ke rumah untuk ngumpul-ngumpul. Melihat baju-baju yang kebetulah ada. Tempat kosong itulah yang kemudian dijadikan butik,” tuturnya.
Seiring waktu berjalan, usaha yang dirintis Emi terus berkembang. Selain membuka beberapa toko di Makassar dan mal, ia juga memiliki tempat usaha di Pasar Butung. Hanya saja, toko yang ada di pusat grosir tersebut kini telah ditutup. Terkendala karyawan dan dirinya kerepotan mesti bolak balik dengan jarak yang cukup jauh. Sebaliknya, toko yang ada di Pasar Sentral terus dikembangkannya.
Selain di Makassar, Emi memperlebar sayap usahanya. Di tahun 2013 ia membuka toko di Jakarta Metro lantai tiga Tanah Abang. Tempat tersebut beroperasi kurang lebih tiga tahun.
Era digital yang terus berkembang dan menawarkan sistem daring dalam proses jual beli, toko yang ada di Tanah Abang itupun ditutupnya. Langkah tersebut ditempuhnya sebagai bagian dari usaha meminimalkan biaya. Apalagi sewanya terus mengalami kenaikan setiap tahun.
Pada tahun 2010 Emi mulai memproduksi sendiri busana yang dijualnya. Hasilnya, cukup banyak peminat. Omzetnya dari toko di Tanah Abang berkisar Rp1 miliar hingga Rp2 miliar setiap bulan. Anak-anak yang masih kecil sementara ia harus bolak balik Makassar-Jakarta, Emi pun memutuskan untuk fokus di Makassar. Akhirnya toko di Tanah Abang ia tutup di tahun 2016. Ia lalu membangun jaringan dengan sistem daring.
Penjualan secara daring dilakoni sejak tahun 2017, selepas dari Tanah Abang hingga sekarang. Hanya saja, pandemi covid-19 telah memengaruhi penjualannya.
”Terjadi penurunan yang cukup drastis. Mudah-mudahan Maret mendatang sudah ada peningkatan penjualan,” harapnya.
Untuk menjalankan usahanya, Emi dibantu 13 orang karyawan. Mereka bertugas di toko dan butik. Selain itu, ada 30 orang penjahit dan tukang potong kain.
Emi tak memungkiri ada tantangan berat yang dihadapinya selama menggeluti bisnis ini. Salah satunya konsumen selalu ingin model baru. Karena itu perlu ada kreasi untuk memikirkan model apa yang bisa dipasarkan ke konsumen.
”Kita sendiri yang desain dengan melihat model baju yang sedang tren. Di situ kita lakukan modifikasi sedikit demi sedikit agar berbeda dengan orang lain,” terangnya.
Ia kemudian berbagi sedikit tips dalam membangun bisnis fashion. ”Harus banyak melihat perkembangan model saat ini. Karena yang namanya perempuan, harus selalu update. Mana yang terjual lebih banyak melalui online,” imbuhnya. (pkl)
Emi Firman, Desain Busana dan Jual secara Daring
