LANGIT di Jalan Urip Sumoharjo kota Makassar masih hitam, Selasa (23/4). Berbagai aktivitas tetap dilakukan warga kota di pagi itu, sejumlah ruas jalan masih ramai dilalui kendaraan. Dari sudut kota tersebut nampak Karaeng Limpo yang berharap rezeki di hari itu datang kepadanya.
Laporan: MUH FACHRIZAL
Penulis sempat menemui pria paruh baya berumur (65 tahun) di tempat ia biasa mangkal di Jalan Urip Sumoharjo. Wajah menua itu tak segan membagi kisah hidupnya selama menganyuh becak.
Ia sudah menjadi pengemudi becak sejak 2010 lalu dan syukur karena becak yang dikayuhnya adalah miliknya sendiri.
Di era teknologi digital saat ini, Karaeng Limpo mengaku pendapatannya menurun drastis. Pria yang merantau dari Kabupaten Jeneponto tersebut mengakui era kejayaan becak sudah habis. Selain trayeknya dibatasi, gempuran transportasi online membuat jasanya makin sedikit yang melirik.
Berbagai aturan seperti becak dilarang melewati jalan protokol, membuat Karaeng Limpo mendapatkan sedikit wilayah untuk dilewati mencari nafkah.“Sekarang sepi ki nak, gara-gara ojek daring atau online,” keluh Karaeng Limpo yang berdialeg Makassar yang kental ini.
“Sebelum ada ojek online pendapatannya lumayan, sehari paling sedikit Rp50 ribu. Itu juga sudah sama makan. Tapi sekarang hanya pendapatan Rp10 ribu sampai Rp5 ribu saja mulai pagi hingga menjelang magrib. ” kata Limpo.
Selain keterbatasan wilayah, minat orang-orang untuk menggunakan becak juga menurun.“Ojek online sekarang sudah banyak sekali, belum lagi becak motor (bentor) yang juga merajalela. Orang sudah tidak mau naik becak,” katanya.
Ia mengaku sangat sulit menyisihkan uang untuk simpanan. Hasil mengayuh becak hanya cukup untuk biaya makannya sehari bersama istri dan anaknya.“Sekarang susah kumpul uang, hanya bisa untuk kebutuhan sehari-hari,” keluhnya.
Meski mengeluh akan nasib pengemudi becak seperti dirinya, Karaeng Limpo yakin Allah telah menentukan rezeki seluruh hamba-Nya.“Hidup kan telah diatur oleh Allah, maka kita sebagai hambanya tetap bersyukur,” katanya.
Ditanya tempat tinggalnya, ia mengaku ia bersama istri dan dua anaknya menempati rumah kecil di Jalan Maccini Baru.”Saya punya anak tujuh orang nak, tapi lima orang sudah meninggal karena sakit. Tinggal saya mami berempat di rumah. Kalau ada waktu ta bisa ki ke rumah jalan-jalan,”ujarnya.(*)
