TANAMAN porang kini jadi primadona baru. Banyak orang yang membudidayakannya. Tak terkecuali petani di Sulawesi Selatan. Syaharuddin Alrif yang saat ini tercatat sebagai wakil ketua DPRD Provinsi Sulsel menjadi pencetusnya. BKM mewawancarai Sahar –sapaan akrabnya– dalam sesi Podcast, Selasa (16/3).
MENGENAKAN baju batik warna biru lengan panjang, Sahar berkisah panjang tentang porang. Mulai dari alasannya memilih tanaman ini untuk dibudidayakan, usahanya memberdayakan petani, hingga hasil yang bisa diperoleh. Dari kalkulasi dan apa yang diperolehnya, jumlah uang yang dihasilkan dari menaman porang begitu fantastis.
Politisi Partai Nasdem ini mengawali penjelasannya dengan menerangkan kenapa dirinya mesti bersusah payah untuk menjadi seorang petani, padahal ia sudah menjadi anggota dewan. Bahkan sudah dua periode duduk sebagai wakil rakyat, yakni periode 2014-2019 dan 2019-2024.
Nah, karena alasan dua periode itulah Sahar tidak ingin menjadi anggota dewan biasa. Ada sesuatu yang mesti diperbuatnya untuk dapat menjadi anggota dewan luar biasa di periode kedua. ”Harus ada legacy, kegiatan yang luar biasa untuk mengedukasi, memberi motivasi serta inovasi bagi masyarakat,” begitu alasan yang diutarakannya.
Ia lalu menyebut angka 9 juta orang yang ada di Sulsel, 72 persen di antaranya bergelut di sektor pertanian dan perkebunan. Karena pada umumnya bekerja di dua bidang itu, Sahar lalu memilih untuk masuk ke dalamnya.
”Yang normatif itu kan biasanya, anggota dewan kalau pulang ke dapil masing-masing bertemu dan menerima keluhan dari masyarakat, lalu membantu mencari halan keluarnya. Kalau hanya melakukan hal itu, saya hanya anggota dewan biasa. Tidak ada yang berbeda dengan periode pertama. Karena itu dibutuhkan inovasi guna mengubah mindset masyarakat kita, yang sebagian besar di antaranya adalah petani. Kalau saya berhasil melakukan itu, berarti saya bisa masuk kategori luar biasa,” terangnya.
Tidak mudah untuk masuk memberi inovasi pada pekerjaan yang digeluti masyarakat banyak. Sahar terlebih dahulu harus mencari komoditi yang cocok untuk ditawarkan. Syaratnya, komoditi tersebut cocok untuk dikembangkan, tidak ribet, bisa cepat laku, penanamannya tidak butuh waktu lama untuk panen, serta bernilai ekspor.
Akhirnya, upaya pencarian itu berbuah hasil. Di tahun 2019 Sahar mencari bibit tanaman yang ada di hutan Bulukumba, Gowa, Sinjai, serta Takalar. Tanaman porang menjadi pilihan. Bibit yang awalnya tak bernilai ekonomi itu dibawa oleh ke Sahar Sidrap, kampung halamannya.
”Jadi porang ini tanaman yang tumbuh liar di hutan. Masyarakat lebih banyak mengetahui kalau ini makanan ular. Di Bugis Bone, Soppeng dan Wajo mengenal tanaman ini dengan nama sikapa. Kalau di Sidrap, Pinrang dan Enrekang menyebutnya siapa. Sementara di Luwu Raya namanya buti. Maros, Pangkep, dan Gowa ke atas itu tire,” jelas Sahar.
Di Indonesia, ada tiga provinsi yang menjadi basis tanaman porang dan tumbuh liar di wilayah tersebut. Masing-masing Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak lama, warga Korea, Jepang, dan Cina sudah mengonsumsi porang.
Belakangan, penduduk Indonesia, terutama di Jakarta juga sudah banyak yang beralih untuk mengonsumsi makanan olahan berbahan dasar porang. Karena rendah gula, dapat menurunkan diabetes, dan kalau dikonsumsi tidak membuat gendut.
Bibit porang yang oleh Sahar diambil dari hutan, kemudian ditanam di kawasan lahan tidur yang merupakan peninggalan orangtuanya. Namun, prosesnya tidak asal-asalan. Melainkan dilakukan secara modern. Salah satunya dengan mengolah tanah dicampur dengan arang sekam padi yang banyak terdapat di Sidrap.
”Selama ini kan petani Sidrap sudah dikenal telah memanfaatkan mekanisasi pertanian, sehingga pengolahan areal pertanian dilakukan secara modern dan sempurna. Tapi itu baru sebatas di lahan pertanian untuk padi. Lahan tidur belum dimanfaatkan. Dari niat saya awalnya ingin memberi motivasi dan inovasi, lahan padang ilalang yang tidak bermanfaat, tandus, serta marginal langsung kita manfaatkan. Semuanya disertai dengan kesungguhan,” tuturnya.
Tak ada usaha rintisan yang tidak menemui cobaan. Demikian pula yang dilakoni Sahar. Ketika ia melakukan uji coba menanam porang, dirinya sempat diketawai. Banyak yang menyebut kalau tanaman porang tidak akan tumbuh di Sidrap karena berasal dari hutan. Tanahnya tidak cocok.
Hal itu tak membuat Sahar patah semangat. Ia kemudian melakukan inovasi dalam pengolahan lahan dan optimalisasi lahan tidur. Bulan Desember 2019 menjadi tonggak sejarah itu. Sahar mulai menanam bibit porang.
Ternyata, usaha budidaya porang yang dilakukan Sahar berbuah hasil. Perhatian pun tertuju padanya. Bulan Mei 2020, Kementerian Pertanian mengetahui pengembangan porang di Sidrap. Seorang petinggi Kementan diutus untuk datang ke Bumi Nene’ Mallomo.
”Direktur dari Kementan itu kaget, kenapa porang bisa tumbuh dengan baik. Dia bertanya siapa konsultannya. Apalagi saya bukan sarjana pertanian. Saya jelaskan, saya belajar secara otodidak dan kesungguhuan sehingga ada berkah,” terangnya.
Empat hari kemudian, giliran dirjen Kementan yang datang untuk melakukan panen perdana. Hasil panen dari bibit yang diambil dari hutan itu cukup mengagetkan. Satu pohon bisa menghasilkan umbi porang seberat 3 kg. Sementara dalam satu hektare yang ditanami terdapat 20.000 hingga 40.000 pohon.
”Setelah dirjen datang, disampaikan ke Mentan. Mentan kemudian datang dan melakukan kunjungan resmi untuk panen raya. Mentan juga kaget dan bertanya, bagaimana caranya bisa budidaya porang dan menghasilkan berat 3 kg per pohon,” jelas Sahar.
Atas keberhasilannya itu, Sahar mendapat apresiasi dari Kementan. Ia dianugerahi penghargaan sebagai Petani Porang Inspiratif 2020. Penyerahannya dilakukan bertepatan dengan peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 2020. ”Harusnya penghargaan diterima di Istana, tapi terkendala corona,” ucapnya.
Seusai kunjungan Mentan, tempat budadaya porang yang dikelola Sahar ramai dikunjungi. Bukan hanya dari Sulsel, namun dari berbagai daerah di Indonesia. Ia pun kerap diundang untuk menjadi pembicara terkait pengembangan porang.
”Tempat saya kan jadi lokasi pemberdayaan dan inti. Sabtu dan Minggu orang yang datang bisa sampai 100 orang. Kunjungannya dibagi dua. Pagi 40 orang, siang 60 orang,” bebernya.
Di tempat milik Sahar juga disiapkan sekolah budidaya. Jika di Jawa dipungut pembayaran Rp300 ribu, di tempatnya Sahar menggratiskannya. Bahkan disiapkan makanan dan minuman.
Tentang analisa usaha tani, Sahar dengan gamblang merincinya. Diakuinya, untuk saat ini bibit porang masih tergolong mahal. Walau begitu, petani hanya satu kali investasi.
”Contohnya saya. Awalnya beli bibit Rp50 juta untuk satu hektare. Desember 2019 saya menanam umbi sebesar bila pimpong. Bulan lima saya panen katak (buah yang dihasilkan di sela-sela daun) dan kemudian saya jadikan bibit lagi. Beli bibit yang harganya Rp5.000 per biji, tapi hasilnya bisa minimal lima dan maksimal 10 biji bibit baru. Anggaplah lima bibit saja yang terkecil, kalau menanam satu hektare sebanyak 20.000 biji umbi, akan menghasilkan bibit baru 100 ribu biji. 100 ribu biji naik per kilonya 200 biji. Maka akan menghasilkan biji katak 500 kg. Harga per kilo bibibtnya Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Paling rendah Rp150 ribu. Bisa dapat Rp350 juta dari hasil katak. Modal sudah kembali,” terangnya.
Untuk hasil yang optimal, umbi porang bisa dipanen sempurna jika pohonnya sudah menguning dan mengering. Namun yang terjadi sebelumnya, masyarakat di Bulukumba, Sinjai, Gowa, dan Takalar biasanya panen lebih cepat, walau batangnya masih muda. Hal seperti ini menjadi bagian dari upaya edukasi yang dilakukan Sahar.
”Panen di bulan ke delapan akan menghasilkan umbi yang bagus. Paling rendah 1 kg per phon. Kalau 20 ribu pohon, akan menghasilkan 20 ton. Harga per kilonya Rp8.000. Jadi bisa dapat Rp160 juta. Tapi yang di Sidrap, beratnya 3 kg per pohon. Bisa didapat Rp460-an juta. Ditambah lagi biji katak tadi yang harganya bisa sampai Rp75 juta,” terangnya.
Sistem budidaya porang, diakui Sahar, bisa dilakukan dengan tumpang sari, seperti mangga, sambutan, durian, sawit atapun karet. Karena asalnya tanaman hutan, porang bisa bebas tumbuh di mana saja. Beda dengan jagung, yang media tanamnya harus dibersihkan. Cost untuk pengolahan tanah sampai panen untuk porang hanya Rp60 juta per hektarenya.
Sebagai orang yang mendorong budidaya porang, Sahar mengakui telah banyak kelompok tani (poktan) yang ikut. Di Sidrap saja, sudah ada 480 hektare luasan pertanaman porang yang dikelola. Sahar sendiri memiliki 80 hektare.
”Kalau untuk plasma, sudah ada luasan 2.160 hektare yang menyebar di Sulsel. Kami bentuk kemitraan. Selain memberikan ilmu, juga fasilitasi modal bekerja sama dengan Bank Sulselbar lewat KUR. Kalau sudah ada modal, cukup beli bibit yang bagus lalu ditanam. Hasilnya bawa ke kami,” jelasnya.. Pasar porang, diakui Sahar sangatlah besar. Sejak 2017 di Sulsel sudah ada berdiri lima pabrik pengolahan umbi porang. Kebutuhan bahan bakunya hanya bisa dipenuhi selama satu bulan dari keseluruhan hasil produksi petani porang di daerah ini. Belum pabrik yang ada di Jawa Timur, Jawa Tengah dan NTT.
”Bahan baku untuk pabrik porang masih sangat kurang. Dalam satu bulan saja sudah habis. Jadi masih terbuka peluang pasar yang cukup besar. Porang ini adalah ‘emas’ baru yang sangat cocok untuk dikembangkan. Kalau petani mau kaya, tanamlah porang,” tandasnya. (*/rus)
