Site icon Berita Kota Makassar

Armada Tangkasaki Sudah Tidak Maksimal Hingga Jadi Mobil Wisata

ARMADA pengangkut sampah milik Pemerintah Kota Makassar, Tangkasaki, sudah tidak berfungsi maksimal. Sejumlah armada tak bisa lagi digunakan. Malah ada yang dimodifikasi menjadi mobil wisata.

laporan: RAHMA AMRI

Kondisi ini sudah menjadi perhatian yang cukup serius oleh Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto.
Namun sayang, karena keterbatasan anggaran yang dimiliki Pemkot Makassar, tahun ini, pengadaan armada yang baru belum bisa direalisasikan.
“Memang mobil tangkasaki sudah tidak maksimal. Banyak yang rusak. Memang karena sudah tujuh tahun,” ungkapnya saat ditemui di Balaikota Makassar, Kamis (25/3).
Dia mengatakan, saat rapat soal anggaran, pengadaan armada sampah baru sudah menjadi salah satu pembicaraan.
“Kita butuh armada sampah yang baru. Tapi karena anggaran terbatas, pengadaannya mungkin tahun depan pi, ” ungkap Danny.
Dia menambahkan, pihaknya sudah berencana menyiapkan mobil tangkasaki yang lebih fleksibel. Dimana bisa digerakkan (tongkang) sehingga memudahkan untuk membuang sampah.
“Yang ada saat ini kan tidak bisa digerakkan. Makanya saya akan bikin tangkasaki model baru dimana mobil dump truck tapi bisa digerakkan untuk membuang sampah. Memang sedikit mahal tapi tidak masalah. Modelnya tangkasaki tapi sudah modifikasi,” jelas Danny.
Dia mengaku pihaknya sudah mengantongi ijin rancang bangun sehingga jika anggarannya sudah siap, tinggal pengadaannya direalisasikan.
Di era Pj Wali Kota Makassar, Rudy Djamaluddin, Pemerintah Kota Makassar mengusulkan pembelian truk sampah jenis compactor sebanyak 20 unit.
Alasan pembelian itu menurut Rudy, truk sampah compactor lebih efektif dan efisien dari pada pada truk sampah yang digunakan sebelumnya. Mengingat, daya angkut truk sampah compactor yaitu 1:3 atau bisa tiga kali lebih banyak dari truk konvensional. Sebab, truk ini sudah menggunakan sistem press yang dapat memadatkan sampah yang dimuat.
Para petugas juga tidak kelelahan lagi dalam memindahkan sampah ke TPA. Kalau sebelumnyakan sistem manual, dicangkul yang memakan waktu. Kalau truk ini, sudah sistem dorong. Jadi dari segi kesehatan juga terjamin. Kedepannya juga, tidak ada lagi kita melihat truk-truk antri di TPA karena proses pemindahan sampahnya,” katanya.
Saat ini, Pemkot Makassar telah mengoperasikan lima truk sampah jenis compactor milik Pemerintah Kota Makassar disebar di lima kacamatan sebagai percontohan, di antaranya Kacamatan Ujung Pandang, Tamalate, Wajo, Mariso, dan Makassar.
Namun, di era Danny kembali menjabat sebagai wali kota Makassar, pengadaan truk compactor itu tidak akan dilanjutkan.
Alasan Danny, harganya terlalu mahal. Satu unit compactor bisa digunakan untuk membeli 10 armada tangkasaki.
Selain itu, compactor tidak efektif mengolah sampah. Karena rata-rata sampah yang diangkut kebanyak sampah basah rumah tangga, seperti sampah makanan.
“Jadi compactor tidak terlalu banyak berguna bagi Makassar karena sampah kita kebanyakan sampah makanan. Apa yang mau dikompress. Selain itu satu harga compactor sama harganya 12 unit mobil biasa-biasa. Jadi buang-buang uang. Saya tidak butuh itu. Masak kita mau compact bekas makanan yang busuk-busuk. Itu kalau digunakan beli Tangkasaki, kita bisa dapat 10,” tandasnya. (rhm)

Exit mobile version