BONE, BKM — Peringatan Hari Jadi Bone (HJB) ke-691 tahun 2021, Selasa (6/4), selain tidak diselenggarakan secara meriah seperti tahun-tahun sebelumnya, juga diselimuti duka. Sebuah peristiwa kebakaran terjadi di dekat Pasar Desa Lamurukung, Kecamatan Tellu Siattingngnge, Selasa dini hari.
Peristiwa nahas tersebut berlangsung pada pukul 02.00 Wita, di saat warga tengah tertidur pulas. Selain 10 rumah yang habis dilalap si jago merah, ada dua korban jiwa serta satu orang luka bakar dalam kejadian ini. Mereka satu keluarga. Yang meninggal adalah seorang nenek bersama cucunya. Sementara korban luka adalah suami dari nenek tersebut.
Kepala Desa Lamurukung Andi Wendi, mengatakan korban bernama Siti Hawa meregang nyawa ketika hendak menolong cucunya Dilla (10) yang berada di dalam rumah yang sedang terbakar. ”Suami Siti Hawa bernama Patiroi mengalami luka bakar,” ujar Andi Wendy, kemarin.
Patiroi ikut terbakar dalam peristiwa ini, karena ia mencoba menyelamatkan itsri dan cucunya yang tengah berada dalam kobaran api. Namun apa daya, api yang begitu cepat membesar membuat istri dan cucunya tak mampu diselamatkan. Saat ini Patiroi masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Kebakaran yang terjadi di kompleks Pasar Lamurukung merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, peristiwa serupa juga pernah terjadi dan menghanguskan tujuh rumah.
Dalam kebakaran kemarin, 10 rumah yang terbakar masing-masing milik Patiroi (65), Ambo Asse (52), Halwiah (54), Siti (53), Haeruddin (54), Muchlis (37), Baco tang (60), Firman(39), Rahmatia (67), dan Natang (41). Rerata pemilik rumah bekerja sebagai nelayan.
“Kebakaran yang terjadi dini hari tadi (kemarin) itu sebelah utara pasar Lamurukung. Dugaan sementara, kebakaran disebabkan korsleting (arus pendek listrik),” ujar Andi Wendy.
Selain dua korban jiwa dan satu luka bakar, api juga menghanguskan semua harta benda pemilik rumah. Tak ada yang bisa diselamatkan. Termasuk sejumlah kendaraan roda dua dan beberapa perahu milik warga. Api dengan cepat membesar dan langsung merambat, karena angin bertiup cukup kencang saat kebakaran berlangsung. Ditambah dengan kondisi bangunan rumah yang mudah terbakar karena terbuat dari kayu.
Seorang warga setempat yang melihat kejadian itu, Ardy menuturkan bahwa saat kebekaran berlangsung, semua warga berhamburan keluar dari rumah. Mereka panik dan berusaha menyelamatkan diri masing-masing tanpa menghiraukan barang berharga miliknya.
Awalnya, menurut Ardy, warga sempat mencoba hendak melakukan pemadaman api menggunakan air yang diambil dari sungai. Namun usaha itu urung dilakukan, karena kondisi air sedang surut. Tapi ada warga lain yang tetap melakukan penyiraman dengan menggunakan air seadanya. Hanya saja upaya tersebut tak mampu membendung kobaran api yang begitu cepat membesar.
“Kami sempat mencoba memadamkan api dengan air, tapi kondisi sungai sedang surut. Api baru bisa dipadamkan sekitar satu jam setelah tujuh armada kebakaran datang ke lokasi kejadian,” terang Ardy.
Menyusul peristiwa ini, warga yang menjadi korban berharap kepada pemerintah Kabupaten Bone untuk segera menyalurkan bantuan. Miniman tenda darurat untuk tempat tinggal sementara. (man/b)
10 Rumah Terbakar, Nenek dan Cucunya tak Bisa Diselamatkan
