MAKASSAR, BKM — Munir kini berstatus sebagai kandidat doktor di Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (PPs UNM). Ia mengajukan gagasan awal riset disertasi berjudul Blended Learning Approach in Teaching Critical Reading in Indonesian Higher Education. Disampaikan di depan tim penguji via daring menggunakan aplikasi zoom meeting, Selasa (6/4).
Tim penguji gagasan awal atau ujian prelium lisan diketuai Prof Drs Muhammad Basri,MA,PhD. Beranggotakan Prof Dr Nurdin Noni,MHum, Prof M Asfah Rahman,MEd,PhD, dan Prof Dr Baso Jabu,MHum.
Dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) ini ingin melakukan kajian pembelajaran bahasa Inggris dalam konteks blended learning (kombinasi daring dan tatap muka), sebagai respons terhadap popularitas pengintegrasian teknologi dalam dunia pendidikan. Munir akan menelusuri persepsi dosen dan mahasiswa terhadap penerapan blended learning approach dalam pembelajaran critical reading.
Dari riset ini, Munir berharap dapat menemukan inovasi baru dalam pembelajaran critical reading menggunakan blended learning approach. Dia juga akan menguji efektivitas pendekatan ini sehingga dapat digunakan dosen dalam pembelajaran critical reading.
Lokasi riset direncanakan di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar, Jurusan Bahasa Inggris. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2020/2021 Program Studi pendidikan Bahasa Inggris. Dosen sebanyak empat orang sebagai pengajar mata kuliah critical reading.
Karena Munir dapat meyakinkan kelayakan gagasan awal risetnya, tim penguji menyatakan lulus dengan nilai sangat memuaskan. Dengan demikian, statusnya berubah menjadi kandidat doktor.
Kaprodi S3 Pendidikan Bahasa Inggris PPs UNM Prof Drs Muhammad Basri,MA,PhD mengajak para mahasiswanya untuk melakukan kajian yang aktual dan futuristik. Apa yang ingin dikaji Munir, menurut Prof Muhammad Basri, menjadi contoh riset yang sesuai konteks kekinian.
“Di masa pandemi covid-19 dan orientasi pendidikan di masa depan, justru riset berbasis teknologi sangat prospektif. Ketika pembatasan kuliah tatap muka diterapkan, kuliah via daring (online) terbuka lebar dimanfaatkan,” tegas mantan staf ahli UNESCO di Dili, Timor Leste ini. (rls)
