SEMENTARA ITU, Wakil Ketua Komisi D Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) DPRD Kota Makassar, Fatma Wahyuddin mengatakan guru diharapkan selalu berinovasi serta memanfaatkan berbagai macam perangkat dalam proses belajar tatap muka.
“Memanfaatkan bermacam digital tools, menyelenggarakan kelas daring serta penerapan kurikulum yang memperkuat model multidisiplin dan kolaboratif dalam belajar mengajar serta kemampuan menata ulang akuntabilitas dan menentukan metode dalam proses asesmen,” katanya.
Dalam menyelenggarakan pendidikan, jelas Fatma, guru harus bisa membantu peserta didik berkembang secara akademis, fisik, dan psikis, dengan menyeimbangkan antara old knowledge dengan mekanisme digital.
Tak hanya itu, kata Fatma lagi, bagi para tenaga pengajar di masa pandemi agar tidak terlalu banyak memberikan tugas pada siswa.
“Sebaiknya mencari metode pembelajaran yang lebih efektif agar tercapainya tujuan pendidikan dan pemenuhan target akademis dan non-akademis serta mempersiapkan materi dan hasil evaluasi pembelajaran,” paparnya.
Lebih jauh Fatma menekankan, peran guru memiliki tanggung jawab besar guna memastikan keselamatan peserta didik secara fisik maupun psikis.
Selain itu, komunikasi dan koordinasi antara orang tua siswa harus serta pihak sekolah harus terbangun dengan baik. Tujuannya untuk membangun kepercayaan dan mendukung proses pendidikan yang berkualitas.
Ketua Komisi D DPRD Kota Makassar, Abdul Wahab Tahir, sejak awal menginginkan Kecamatan Sangkarrang menjadi percontohan untuk sekolah luring.
“Offline mereka (Kepulauan Sangkarrang) sudah siap. Sangkarrang itu mereka paling siap sekolah offline. Karena sampai hari ini, Sangkkarang sudah masuk wilayah yang hijau. Mereka sudah siap dan saya berharap mudah-mudahan kita segera keluar dari tekanan ini,” kata Wahab.
Legislator Golkar itu menambahkan proses percontohan itu rencananya akan digelar oleh Pemkot Makassar pada April ini.
Lokasi tersebut dinilai tepat oleh Wahab, beberapa pertimbangan selain guru telah melakukan proses Vaksinasi Covid-19, ialah skema belajar dinilai telah matang untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
“Saya berharap uji coba itu dipulau, sehingga kalau ada apa-apa kita bisa cepat lakukan isolasi. Kedua, kita juga menguji coba SOP sekolah offline tadi. Kan ada SOP sekolah offline, kita bisa uji coba di pulau. Paling tidak, uji cobanya disitu,” ungkap Wahab.
Terpisah, Ketua PGRI Kepulauan Sangkarrang Hasanuddin Yafid, menambahkan pihaknya sangat siap menerapkan sistem belajar luring.
Alasan belajar tatap muka segera dilaksanakan, katanya, sinyal disana masih kurang, hingga sejumlah sarana dan prasarana yang kurang memadai.
“Pertama, sinyal kurang kemudian listrik hanya siang hari kemudian tingkat pendidikan orang tua itu kurang dipulau, sehingga untuk pembelajaran jarak jauh agak susah. karena orang tua susah untuk membimbing anak karena tingkat pendidikan nya rendah untuk itu. Kami setuju sekali apabila sekolah tatap muka itu bisa segera dilakukan,” kata Hasanuddin.
Sementara, untuk skema pembelajaran tatap muka bakal dibatasi. Skema pembelajaran setiap rombel berjumlah 15 orang dan tidak boleh lebih dari jumlah yang ditentukan.
“Kemudian, orang tua juga sudah siap mendukung kegiatan sekolah tatap muka, mengingat bahwa ortu di pulau itu mereka sibuk sebagai nelayan. Kemudian Ibu Rumah Tangga (IRT) tidak terpelajar atau pendidikannya rendah, sehingga mereka sangat menginginkan tatap muka,” tutupnya.(nug)
Guru Harus Berinovasi
