MAKASSAR, BKM– Anak jalanan, gelandangan, dan pengemis (anjal dan gepeng) menjadi salah satu persoalan serius yang harus ditangani Pemerintah Kota Makassar.
Apalagi dalam situasi seperti sekarang ini. Momen Ramadan selalu dimanfaatkan para anjal dan gepeng untuk berharap belas kasih dari para darmawan.
Namun sayang, kehadiran mereka di jalan-jalan kerap meresahkan, utamanya bagi pengguna jalan.
Para anjal dan gepeng tersebar di beberapa pusat keramaian. Paling sering mangkal di area traffic light fly over.
Menyikapi kondisi tersebut, Plt Kepala Dissos Makassar, Asvira Anwar, mengatakan, Dinas Sosial (Dissos) Makassar telah membentuk tim gabungan yang terdiri Satpol PP dan kepolisian. Tim berjumlah 25 orang yang dibagi dalam tiga tim.
“Kalau kami mau lakukan sidak, mereka juga langsung bergerak cepat. Biasa tim baru sampai, sudah ada yang bergerser di area AP Pettarani di area Masjid HM Asyik. Jadi kalau mau ditindak kita harus senyap,” katanya.
Vira menambahkan, ragam modus yang dilancarkan para pengemis atau pun sejenisnya.
Senjata utamanya, yakni memanfaatkan rasa iba atau belas kasihan. Temuan tim gabungan Dissos yakni para pengemis memanfaatkan anak-anak. Begitu pun juga balita.”Apapun itu, yang penting orang kasihan,” ucapnya.
Karena pundi-pundi uang yang mengalir dari aktivitas mengemis, Vira menilai aktivitas ini dijadikan ladang bisnis. Timnya pun sempat mengungkap seorang wanita tertangkap basah tengah mengendarai sepeda motor.
Mereka bersama anak kecil yang kerap mangkal meminta-meminta” itu beberapa contoh. Kalau masalah di lapangan kita memang cukup kompleks,” terang dia.
Para kaum lanjut usai (lansia), lanjut Vira juga tak luput dari hasil sidak timnya di lapangan. Mereka juga kerap dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas pengemis.
Tak hanya sampai di situ, modus baru terus dilancarkan. Temuan lainnya yakni, beberapa oknum juga meminta uang dengan kedok sumbangan. “Katanya untuk bantuan, nyatanya itu digunakan untuk pribadinya,” sesal Vira.
Dinsos Makassar sendiri masih belum menemukan solusi tepat untuk meredam aktivitas anjal dan gepeng. Vira menjelaskan, pihaknya memiliki keterbatasan. “Kita tidak ada tempat khusus untuk lakukan pembinaan. Ada tempat yang kita siapkan namun hanya bisa muat delapan orang maksimal,” ucapnya.
Sebelumnya, Dinsos Makassar sempat merencanakan untuk membangun lingkungan pondok sosial (liposos). Hanya saja, rencana itu belum mendapat respons positif dari Pemkot Makassar.
Vira menerangkan, liposos bisa jadi salah satu solusi untuk mengatasi penyakit masyarakat. Seperti meminta-meminta.
“Harapan kami dengan adanya liposos ini mentalitas mereka kita bisa benahi. Mindset berpikir harus diubah,” terang dia.
Sementara itu, Wali Kota Makasar, Moh Ramdhan Pomanto mengatakan, penanganan anjal dan gepeng dan yang serupa tetap akan jadi atensi. Salah satu hambatan yang terjadi, kata dia, efektifita kinerja dinas belum optimal.
“Kita benahi dahulu organisasi perangkat daerah (OPD). Internal dissos kita benahi,” jawabnya.
Danny juga menilai aktivita anjal dan gepeng yang bekerja secara terorganisir harus bisa diurai. “Sudah jadi bisnis. Seperti ada calonya,” ucap dia.
Jika resetting pemerintahan sudah jalan, kata Danny, program kerja yang terukur mesti harus berjalan. Untuk saat ini, lanjut, penindakan atau penertiban untuk meredam aktivitas anjal dan gepeng harus dilakukan. (rhm)
Tim Gabungan Tertibkan Anjal dan Gepeng
