MALILI, BKM — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Luwu Timur melaksanakan pertemuan koordinasi, intervensi, dan integrasi (Konvergensi) Stunting di Aula Hotel I Lagaligo, Rabu (19/5). Pertemuan dibuka Asisten Pemerintahan, Dohri As’ari.
Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Kabupaten Luwu Timur, Balobo Abbas mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi terkait upaya untuk menekan jumlah kasus stunting di Kabupaten Luwu Timur.
“Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 19-20 Mei 2021 dengan peserta dari 17 Puskesmas, Camat dan Kepala OPD terkait,” jelasnya.
Asisten Pemerintahan, Dohri As’ari mengatakan, stunting atau sering disebut kerdil atau pendek merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak usia dibawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang pada periode 1000 hari pertama kehidupan (HPK) yaitu mulai dari dalam kandungan hingga berumur dua tahun.
“Sangat diperlukan upaya pencegahan secara komprehensif mulai dari pelayanan standar ibu hamil, ibu bersalin di fasilitas kesehatan, bayi baru lahir dan balita mendapatkan pelayanan sesuai standar,” katanya.
Kekurangan gizi kronis pada 1000 HPK, tidak hanya berdampak pada tinggi badan balita tapi juga berdampak pada tingkat kecerdasan dan kesehatan dalam jangka panjang.
“Makanya upaya percepatan penurunan stunting merupakan program prioritas Pemerintah sesuai lampiran Perpres Nomor 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024 dengan target penurunan stunting sebesar 14 persen,” jelasnya.
Untuk Kabupaten Luwu Timur, persentase balita stunting tahun 2019 sebesar 7,12 persen dan menurun pada tahun 2020 sebesar 6,2 persen. “Meski dibawah angka nasional tapi bukan berarti kita bisa berhenti melakukan upaya pencegahan stunting. Upaya ini harus tetap digalakkan bersama,” katanya. (rls)
