MAKASSAR, BKM — Setelah sempat nyaris vakum selama lebih dari setahun, akibat terdampak pandemi Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19, dunia pariwisata Indonesia mulai bergerak. Pemerintah pun telah membuka kran Pariwisata tersebut, meski secara bertahap.
Bahkan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah membuat sebuah perencanaan membuat pariwisata terintegrasi dan terhubung. Yakni untuk Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Bali (Denpasar) dengan Lombok (NTB) yang termasuk zona hijau dari virus Corona.
Pada masa pandemi, pariwisata alam menjadi pilihan utama masyarakat yang ingin melakukan refreshing. Karena berisiko rendah berdasarkan rekomendasi Satgas Covid-19. Tentu saja hal yang harus dipastikan bahwa di lokasi tempat pengelolaan pariwisata memenuhi persyaratan. Terutama dalam rangka perlindungan terhadap para pengunjung.
Badan Standardisasi Nasional (BSN) dalam hal ini memegang tanggung jawab untuk membina, mengembangkan, serta mengkoordinasikan kegiatan dibidang standardisasi secara nasional. BSN selain mengutamakan protokol kesehatan, juga tetap melakukan diseminasi atau pembinaan untuk penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berkaitan dengan terutama pemulihan ekonomi nasional. Salah satunya adalah dengan penerapan SNI 8013:2014 Pengelolaan Pariwisata Alam.
Seperti dikemukakan Kepala BSN, Kukuh S Achmad, melalui penerapan SNI 8013:2014 Pengelolaan Pariwisata Alam, BSN mendorong agar pengelolaan pariwisata alam tetap menerapkan prinsip sustainability atau kesinambungan serta manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
”Jadi alam tidak dirusak, masyarakat bisa menikmati, tetapi mereka (pengunjung) juga aman di dalam melakukan kegiatan pariwisatanya. Penerapan SNI Pengelolaan Pariwisata Alam menjadi sangat penting untuk memberikan branding kepada lokasi-lokasi pariwisata alam yang selama pandemi ini menjadi primadona untuk dikunjungi masyarakat dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” kata Kukuh S Achmad.
Jadi walau selama masa pandemi BSN melakukan pembinaan secara virtual tetapi juga harus memastikan di lapangan, apa yang diseminasikan, apa yang dibimbingkan kepada para pelaku pengelola pariwisata alam itu bisa diwujudkan sesuai dengan cita-cita semua pihak.
”Program pembinaan penerapan SNI Pengelolaan Pariwisata Alam menjadi salah satu kebijakan strategis BSN. Target kebijakan ini adalah role model penerapan SNI Pengelolaan Pariwisata Alam,” tambah Kukuh.
Beberapa di antaranya adalah di Kawasan Wisata Curug Cilember Bogor, Kawasan Wisata Ciwidey Bandung, Kawasan Wisata Cikole Bandung ketiga kawasan ini dikelola perhutani. Selain itu, juga Taman Nasional Wisata Way Kambas, Lampung yang dikelola
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Role model penerapan SNI pariwisata alam tersebut diharapkan bisa ditiru kawasan pengelola pariwisata alam lainnya.
Dalam mengembangkan sektor pariwisata alam, selain melakukan pembinaan terhadap pengelola wisata alam, BSN segera akan menyelesaikan pengembangan skema sertifikasi dan akreditasi SNI 8013:2014 Pengelolaan Pariwisata Alam serta menyiapkan Lembaga Penilaian Kesesuaian (Lembaga Sertifikasi) untuk pariwisata alam.
Berdampak Besar pada Sektor Lain
Mengutip pernyataan dari peneliti bidang ekonomi The Indonesian Institute, Muhamad Rifki Fadilah, menyebutkan, penurunan di sektor pariwisata ini sangat berdampak besar ke sektor-sektor lain yang bergerak dibidang pariwisata seperti sektor perhotelan, penerbangan serta sektor makanan dan minuman milik UMKM.
Sejumlah sektor industri pun alami kerugian akibat pandemi virus Covid-19 ini. Tidak terkecuali industri pariwisata. Pemerintah Indonesia berupaya untuk memulihkan pariwisata Indonesia.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bekerja sama dengan pelaku usaha dibidang pariwisata berkomitmen untuk kembali meraih kepercayaan wisatawan dan meningkatkan pariwisata Indonesia.
Kemenparekraf sendiri telah menyusun protokol berbentuk video edukasi dan handbook bernama Cleanliness, Health and Safety (CHS). Selain pemerintah, perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang pariwisata juga harus melakukan upaya untuk membantu meningkatkan devisa negara di sektor pariwisata.
Tentunya untuk mempertahankan kinerja bisnis di tengah kondisi perekonomian yang masih belum stabil ini. Pelaku usaha bisa memanfaatkan tiga strategi yaitu optimizing digital platform, wait and see strategy, dan bundling products.
”Pariwisata merupakan salah satu sektor terpenting dalam menopang perekonomian Indonesia, maka diperlukan partisipasi dari berbagai pihak untuk dapat meningkatkan kembali devisa sektor pariwisata Indonesia yang anjlok akibat pandemi Covid-19,” tutur Rifki Fadilah.
Pemerintah harus bisa meningkatkan kembali kepercayaan wisatawan baik domestik maupun mancanegara karena Indonesia mengalami lack of trust. Sehingga semua pihak yang berada di bidang pariwisata harus berupaya bersama meningkatkan kepercayaan terhadap wisatawan.
Selain itu, perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata harus bisa melakukan strategi bisnis. Salah satunya dengan memanfaatkan platform digital. Masyarakat juga berperan penting dalam proses ini sehingga pariwisata Indonesia bisa kembali normal dan devisa sektor pariwisata bisa kembali melambung serta mengembalikan keproduktivitasan dan efisiensi di sektor pariwisata.
Namun, untuk meningkatkan kembali pariwisata Indonesia harus tetap mengimplementasikan protokol kesehatan dan memperhatikan kenaikan kasus Covid-19.
Terapkan SNI Pengelolaan Pariwisata Alam
Saat ini Curug Cilember yang merupakan salah satu anak usaha dari PT Perhutani telah meraih SNI ISO 9001:2015 Sistem Manajemen Mutu dan juga menerapkan standar pengelolaan wisata CANOPY yang diadopsi dari Peraturan Menteri Pariwisata.
Cluster Manager Curug Cilember, Rully Priana, menyampaikan, saat ini pihaknya telah mengikuti pembinaan penerapan SNI Pengelolaan Pariwisata Alam dari BSN secara daring.
Rully berharap, dengan penerapan SNI Pengelolaan Pariwisata Alam, dapat meningkatkan mutu dari Kawasan Wisata Curug Cilember dalam memberikan layanan yang aman, nyaman serta memuaskan dan tetap menjamin kelestarian lingkungan yang meliputi pusat konservasi kupu-kupu endemik yang dilindungi (konservasi) dan objek daya tarik berupa curug (air terjun). (amiruddin nur)
