MAKASSAR, BKM — Dua agenda penting di Sulsel bisa dikaitkan dengan kontestasi pemilihan gubernur (pilgub) Sulsel yang akan dihelat 2024 mendatang. Masing-masing Musyawarah Wilayah (Muswil) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat.
Jika merujuk pada pilgub 2018 lalu, PPP mengusung pasangan Agus Arifin Nu’mang yang menggandeng Ahmad Tabribali Lamo, sedangkan Demokrat berada di barisan pasangan (alm) Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar.
Pada muswil PPP kali ini, petahana Dr HM Aras akan ditantang oleh Imam Fauzan. Aras yang juga anggota Fraksi PPP DPR RI mendapat dukungan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP, sedangkan Imam Fauzan yang juga ketua Fraksi PPP DPRD Sulsel diklaim telah mendapat dukungan mayoritas pengurus DPC di kisaran 19 hingga 21 pemilik suara.
Pada muktamar yang digelar di Makassar, HM Aras masuk dalam tim formatur yang telah menetapkan Suharso Monoarfah sebagai ketua umum DPP PPP.
Atas pertimbangan mayoritas pengurus DPC meminta agar HM Aras jangan meninggalkan Sulsel dengan masuk dalam struktur kepengurusan DPP. Usul serta saran inilah sehingga HM Aras tidak masuk pengurus DPP dan kembali ingin maju memimpin PPP Sulsel di muswil nanti.
Hanya saja, dukungan mayoritas DPC lalu berubah dan mendorong Imam untuk maju di muswil yang akan dihelat di Fourt Point By Sheraton Makassar, Sabtu (22/5) hingga Minggu (23/5) besok.
Agenda muswil akan dibuka oleh Ketua Umum DPP PPP, Suharso Monoarfa yang juga Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus kepala Bappenas.
Sementara pada musda Demokrat sang petahana Ni’matullah Erbe akan mendapat lawan tangguh, yakni Ilham Arief Sirajuddin (IAS). IAS yang pernah tercatat sebagai ketua DPD Demokrat Sulsel sudah bertemu dengan belasan pengurus DPC. Mantan wali kota Makassar ini menyatakan bila dirinya siap maju untuk membesarkan partai berlambang bintang mercy ini.
“Saya siap maju dengan niat untuk membesarkan Partai Demokrat,” ujar IAS yang pernah juga diusung Demokrat sebagai calon gubernur Sulsel.
Jika merujuk pada sejarah, maka PPP berpeluang kembali mengusung Agus atau melihat perkembangan konstelasi politik yang berkembang. Sedangkan IAS bisa juga kembali diusung Demokrat di pilgub manakala terpilih sebagai ketua DPD.
Ulla -panggilan akrab Ni’matullah Erbe yang dimintai tanggapannya soal musda Demokrat, enggan bicara banyak. “Kami masih fokus menyelesaikan masalah gugatan setelah KLB di Deli Serdang. Soal musda, tunggu petunjuk DPP,” ujar wakil ketua DPRD Sulsel ini.
Pengamat politik Dr Arief Wicaksono, mengemukakan bila kebanyakan pergeseran gerbong di partai-partai politik pasti mengarah kepada sebuah momentum politik tertentu. Pada level daerah misalnya, momentum yang ingin dicapai atau bahkan diciptakan adalah pilkada. Sedangkan pada level nasional, mobilitas politik hampir pasti mengarah kepada pilpres.
“Nah, karena alasan yang sama, maka parpol-parpol itu seringkali tidak merasa terbebani oleh konstituennya, ketika mereka tidak memiliki figur calon pemimpin yang berasal dari internal. Sangat jarang ada figur calon kepala daerah yang elektabilitasnya bagus berasal dari parpol,” ujar Arief Wicaksono, Kamis (20/5).
Untuk itu, idealnya rotasi kepemimpinan di tubuh parpol tidak menjadikan pilpres/pilkada sebagai satu-satunya orientasi. Karena yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kepentingan konstituen dapat mereka wakili dan perjuangkan.
“Oleh karena itu, dalam konteks muswil PPP dan musda Demokrat di Sulsel, atau parpol-parpol lain ke depan, orientasi beraroma pilgub ini harus diperbaiki dan diletakkan pada tempatnya. Adalah benar bahwa kepentingan dalam arena pilkada mesti jadi bahan pertimbangan, tapi jangan dijadikan yang utama. Karena kepentingan konstituen adalah penentu bagi parpol-parpol itu, apakah daya tahan politik mereka akan teruji oleh angka treshold parlemen atau tidak,” tandasnya.
Karantina Pemilik Suara
Menjelang pelaksanaan muswil PPP Sulsel, para pemilik suara, khususnya yang akan memberikan dukungan ke Imam Fauzan dikarantina alias diinapkan di Grand Claro Hotel. Ketua DPC PPP Gowa Nursyam Amin bahkan yang turun langsung membooking kamar hotel. Dari tangannya terlihat puluhan kartu kamar hotel yang sudah dipesan.
Nursyam tak membantah kamar hotel ini dipesan untuk para pemilik suara di muswil PPP Sulsel. Lebih tepatnya bagi DPC yang sudah komitmen sejak awal mendukung Imam Fauzan.
“Kira-kira 20 DPC-lah. Ketua dan sekretaris. Belum hari ini (kemarin), besok (hari ini) baru datang semua,” kata Nursyam.
Nursyam tak bisa menyebutkan satu persatu DPC mana saja yang dipesankan kamar. Namun dia bisa memastikan beberapa DPC yang memang tak dipesankan kamar.
“Makassar, Gowa dan Maros pasti menginap di sini. Dan yang lainnya, yang sudah mendukung Imam. Tapi yang tidak (dipesankan) itu seperti Enrekang dan Sinjai,” beber Nursyam.
Diprediksi, ada 20 DPC yang memberikan dukungan seperti Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Kepulauan Selayar, Bulukumba, Makassar, Maros, Pangkep dan Barru. Selanjutnya Parepare, Sidrap, Toraja, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Wajo, Bone dan Pinrang.
“Bukanji karantina. Cuma ini kita siapkan hotel kepada DPC agar tidak terlalu capek. Kan mereka juga pasti capek karena perjalanan dari daerahnya. Intinya kita siapkan hotel untuk refreshing bagi DPC jelang muswil. Kita santai-santai dulu, sebelum muswil. Tapi memang ada pertemuan nanti,” sambungnya.
Ketua Angkatan Muda Ka’bah Sulsel Rahmat Taqwa Qurais, mengakui bila mayoritas organisasi sayap PPP Sulsel juga sudah bulat mendukung Imam Fauzan. Tiga dari empat organisasi, solid memberikan suara kepada putra Amir Uskara itu.
“AMK sudah pasti, ditambah dua, yakni Gerakan Pemuda Kakbah (GPK) Sulsel dan Generasi Muda Pembangunan Indonesia (GMPI) Sulsel. Sementara Persaudaraan Muslim Seluruh Indonesia (Parmusi) ke Pak Aras,” kata Rahmat, kemarin.
Sesuai peraturan organisasi, organisasi sayap partai PPP Sulsel hanya memiliki satu suara di muswil. Sehingga keempatnya harus bersatu agar suaranya tidak pecah.
Terkait hal itu, Rahmat menegaskan tak ada masalah. “Kan mayoritas organisasi sayap mendukung Imam, jadi suaranya itu ke Imam. Ini komposisinya tiga berbanding satu. Jadi menang yang tiga,” kunci legislator DPRD Makassar ini. (rif)
