Site icon Berita Kota Makassar

Auditor Inspektorat Dituntut Pahami Manajemen Risiko

GOWA, BKM — Sebanyak 45 auditor lingkup Inspektorat Gowa mengikuti workshop manajemen risiko. Workshop ini berlangsung selama tiga hari atau dari tanggal 19 sampai 21 Mei 2021, di Travellers Hotel Phinisi Point Makassar, Rabu (19/5).

Penjabat Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Gowa, Kamsina, saat membuka kegiatan ini mengatakan, manajemen risiko ini digelar untuk memback up Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang ada di Inspektorat Gowa saat menjalankan fungsinya di lapangan. Dimana, APIP merupakan instansi pemerintah yang mempunyai tugas dan fungsi pokok dalam melakukan pengawasan.
”Berbicara manajemen risiko, ini sangat penting. Karena manajemen risiko banyak memengaruhi kegiatan lain. Salah satunya peningkatan APIP tersebut,” kata Kamsina yang juga adalah Inspektur Inspektorat Gowa.
Untuk menaikkan level APIP, kata Kamsina, seluruh auditor perlu dibekali dengan manajemen risiko. Mengingat, seluruh kegiatan apapun pasti memiliki risiko.
”Seluruh auditor harus dibekali dengan kehati-hatian dalam mengambil langkah dan memperhatikan objek apapun dalam melakukan pengawasan. Jangan sampai sudah dikeluarkan keputusan, tapi manajemen yang digunakan tidak bagus. Sehingga salah dalam hal menentukan manajemen risiko,” jelasnya.

Ia berharap, melalui workshop ini seluruh peserta dapat memperhatikan dengan jelas para pemateri agar setelah workhsop terus ada hasil yang bisa diterapkan.
”Selama ini penerapan manajemen risiko di Kabupaten Gowa sudah berjalan baik. Hanya perlu dibekali lagi dengan ilmu yang lebih sempurna melalui kegiatan ini,” harap Kamsina.
Sementara, Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Sulawesi Selatan, Arman Sahri Harahap, pada materinya, mengungkapkan, seluruh pemangku kepentingan memiliki peran dalam menyusun manajemen risiko. Terlebih dalam suatu pemerintahan yang dibutuhkan adalah kolaboratif.
”Manajemen risiko ini bukan hanya terletak pada pimpinan. Tetapi seluruh pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab sama dalam artian kolaboratif sangat dibutuhkan,” katanya.

Arman menjelaskan, risiko merupakan kejadian yang mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi salah satunya permasalahan penyimpangan pengelolaan keuangan sehingga perlu dilakukan tindakan mitigasi di dalamnya.
”Jadi, seluruh kegiatan harus mempertimbangkan aspek risiko lalu dilakukan mitigasi untuk pengendalian risiko tersebut. Manajemen risiko inilah nantinya yang bisa menjadi pengendali dari risiko itu sendiri, karena kualitas yang utama dalam managemen risiko ini adalah bagaimana mencapai tujuan visi misi kepala daerah dan pengamanan aset,”jelasnya. (sar)

Exit mobile version