MAKASSAR, BKM — Beberapa waktu lalu marak di media sosial praktik menepuk lengan orang yang mengalami henti jantung. Termasuk memukul bagian pipi kiri dan kanan. Hal tersebut tidak direkomendasikan untuk dilakukan karena tidak bisa membantu apapun.
”Ada empat cara yang dapat dilakukan kepada mereka yang mengalami henti jantung atau serangan jantung,” kata Moh Syafar Sangkala, tim dari Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin.
Ia bersama tim dari Hipgabi (Himpunan Perawat Gawat Darurat Indonesia) Sulsel memberikan materi tentang pengenalan tindakan bantuan hidup dasar pada korban henti jantung di Masjid Darussalam, Kompleks Bumi Bosowa Permai Minasa Upa, Selasa malam (25/5) ba’da salat Isya. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat.
Empat cara tersebut adalah, pertama pastikan tidak ada gangguan keamanan pada penolong dan korban. Kedua, periksa respons dan kesadaran korban. Pemeriksaan dilakukan dengan memanggil korban disertai tepukan pada bahu. Jika tidak ada respons, segera hubungi layanan gawat darurat di call center 119.
Selanjutnya, telentangkan korban pada permukaan datar dan keras. Periksa tanda kehidupan selama 10 detik. Untuk memastikan napas korban, dekatkan penolong pada muka korban. Mata penolong melihat dada korban untuk mengetahui gerakan naik turun dada pasien sebagai tanda napas. Telinga penolong berada di atas hidung dan mulut korban, agar mudah mendengar maupun merasakan napas korban. Cek pula denyut nadi di leher.
Bila tidak ada pernapasan atau tanda kehidupan lain, mulainya melakukan RJP/PCPR. Posisikan satu telapak tangan di atas dada pasien. Letakkan tangan lain di atasnya. Kunci siku dan luruskan lengkan. Condongkan tubuh dan tekan dada korban selama 30 kali. Lanjutkan siklus 30 kompresi/dua napas. Cek nadi dan napas setiap lima kali siklus.
”Untuk di tempat-tempat umum, seperti bandara yang memiliki alat henti jantung AED (automated external defibrillator), bisa digunakan memberi pertolongan. Ikuti petunjuk suara yang ada di dalamnya,” ujar Syafar. AED adalah alat media yang dapat menganalisis irama jantung secara otomatis dan memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung yang dibutuhkan.
Untuk call center 199, diakui Syafar saat ini belum ada di Makassar. Baru beroperasi di Kabupaten Bantaeng dan Kota Parepare.
Pemateri lainnya, Suradi Efendi menjelaskan tentang pengalamannya dalam menangani pasien henti jantung. Pria yang pernah 15 tahun bertugas di Unit Gawat Darurat (UGD) ini mengaku kerap menghadapi pasien yang terkena serangan jantung.
”Kami sengaja memberikan materi seperti ini, agar kita semua tahu apa yang mesti dilakukan ketika menghadapi orang yang mengalami henti jantung. Pertolongan pertama diharapkan bisa mengurangi risiko fatal terhadap orang yang henti jantung. Bisa saja kejadian ini dialami keluarga terdekat kita. Atau ketika kita sedang berkendara,” terangnya.
Dalam acara yang dihadiri langsung Dekan Fakultas Keperawatan Unhas Dr Ariyanti Saleh dan disaksikan Ketua ORW 015 Minasa Upa Zainal Arifin ini, jamaah Masjid Darussalam tampak begitu antusias mempraktikkan cara penanganan orang henti jantung. Salah satunya Ketua Pengurus Masjid H Abdul Karim. Sambil duduk di samping manekin yang telah disiapkan, ia mengawali dari memastikan situasi sekitar aman, meminta bantuan kepada orang terdekat, pengecekan respons, hingga menekan dada korban sebagai pertolongan pertama. Ibu-ibu pengurus Majelis Taklim Darussalam juga melakukan praktik langsung.
Wakil Ketua Pengurus Masjid Darussalam Dr Lasunra di akhir acara, memberi apresiasi dan menyampaikan terima kasih kepada tim Fakultas Keperawatan Unhas dan Hipgabi yang telah memberikan materi di depan jamaah. Ia berharap kegiatan pengabdian pada masyarakat seperti ini bisa terus dilakukan, khususnya bagi jamaah masjid di Kompleks Bumi Bosowa Permai. Karena hal tersebut sangat bermanfaat dan memberi pemahaman tambahan bagi warga. (*/rus)
