GOWA, BKM–Kontestasi musyawarah daerah (musda) Partai Golkar Kabupaten Gowa yang akan rencananya digelar di Grand Town Hotel, Pengayoman Makassar Sabtu (5/6) semakin memanas.
Selain karena tiga dari empat bakal calon ketua DPD II Golkar Gowa belum mendapat diskresi dari ketua umum DPP Golkar Airlangga Hartarto, juga karena adanya pemindahan lokasi musda dari Kabupaten Gowa ke Makassar. Tak hanya itu, juga bersoal adanya upaya penggiringan peserta agar dilakukan aklamasi untuk menetapkan Ambas Syam sebagai ketua.
Yang terahir, yakni ketua DPD I Golkar Sulsel Taufan Pawe (TP) membuat pernyataan jika tiga bakal calon tidak pernah memohon untuk meminta diskresi.
Pernyataan TP inilah lalu memicu reaksi sedikitnya dari dua bakal calon. Jika Hoist Zulkarnain Bachtiar pernah meminta secara lisan, maka Andi Ishak pernah meminta, baik secara lisan maupun secara tertulis.
“Saya kirim surat itu pada tanggal 3 februari lalu. Surat saya itu diterima oleh staf sekretariat Golkar Sulsel yakni Ibu Sukmawati”ujar Andi Ishak, Kamis (3/6).
Andi Ishak menambahkan bila surat yang diterima dibuktikan dengan adanya tanda terima surat. “Ada bukti tanda terima yang saya pegang. Pertanyaannya jika TP mengatakan bahwa ketiga calon belum meminta diskresi secara lisan maupun tertulis dapat saya katakan bahwa DPD I Golkar Sulawesi selatan dalam kondisi ‘Tidak baik baik saja’, “ujar mantan Ketua DPRD Kabupaten Gowa ini.
Olehnya itu, Andi Ishak yang juga kakak ipar mantan Ketua DPD I Golkar Sulsel Syahrul Yasin Limpo ini meminta agar TP sebaiknya tak asal komentar, apalagi jika ingin memaksakan kehendak untuk memilih salah satu calon yang belum jelas orientasinya dalam memimpin DPD II Golkar Gowa.
Pertanyaan selanjutnya apakah calon tersebut punya niat untuk menjadi salah satu Caleg potensial untuk menduduki salah satu kursi di DPRD provinsi sulawesi selatan dan mengembalikan marwah Golkar di Butta Bersejarah Gowa.
Target calon harus dapat mengembalikan posisi Golkar sebagai pemenang Pemilu legislatif di 2024 adalah salah satu harapan semua pengurus maupun kader . Sebab posisi Golkar sangat terpuruk dimana yang pernah meraih sembilan kursi kini tersisa menjadi 3 kursi hasil pemilu 2019 lalu.
