MAROS, BKM — Kasus penyalahgunaan Narkotiba masih marak di Kabupaten Maros. Tercatat, sejak Januari hingga Juni 2021, Polres Maros telah menangani 26 kasus dengan 35 orang tersangka. Sebanyak 22 kasus di antaranya telah diselesaikan. Sisanya masih penyelidikan.
Hal itu disampaikan Kasat Narkoba Polres Maros, AKP Irvan Arfandi. Ia mengatakan, pandemi Covid tidak berdampak pada penurunan jumlah kasus Narkoba di Maros.
”Tahun ini kita sudah tangani 26 kasus. Rerata itu 4 sampai 6 kasus dalam satu bulan. Jumlah tersangkanya itu 35 orang dan kasus yang telah selesai itu sebanyak 22,” katanya, Minggu (27/6).
Selanjutnya, Irvan mengungkapkan, dari data tahun 2007 hingga 2020, jumlah kasus Narkoba di Maros sudah mencapai 385 kasus, dengan tersangka sebanyak 593 orang. Dari total kasus itu, ada sekitar 377 kasus yang diselesaikan hingga ke pengadilan.
”Lumayan banyak. Karena jumlah kasus dari tahun 2007 sampai 2020 itu mencapai 385 dengan tersangka 593 orang. Yah, kami juga sangat setuju kalau gerakan pencegahan ini harus terus digalakkan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2021, diperingati puluhan penggiat anti Narkoba dari berbagai organisasi di Maros, mulai dari Granat Maros, Ikanara dan FABS Maros. Mereka menggelar kampanye lawan Narkoba dua hari berturut-turut.
Ketua Ikatan Duta Anti Narkotika (Ikanara) Maros, Muh Ikram, mengatakan, kampanye yang mereka lakukan itu, juga untuk mengingatkan masyarakat tentang bahaya Covid-19 yang masih mengancam hingga kini.
”Narkoba dan Covid-19 ini sama bahayanya. Kami turun melakukan kampanye hari ini memang niatnya untuk mengingatkan masyarakat kita, jangan sampai lengah dengan dua hal ini,” katanya.
Selama ini, kata dia, perhatian pemerintah dan aparat penegak hukum hanya terpusat pada pemberantasan dan terkesan menyepelekan upaya pencegahan di tengah masyarakat. Alhasil, menurut dia, kasus Narkoba di Indonesia bukannya malah berkurang justru makin besar.
”Selama ini mungkin semua pihak hanya tertuju pada penindakan saja. Padahal, hulunya itu ada di pencegahan. Dan ini yang tidak berjalan massif di tengah masyarakat kita. Kita bisa lihat saat ini kasus Narkoba bukan malah berkurang malah makin banyak,” sebutnya.
Ia pun berharap agar pemerintah ke depan bisa mengedepankan upaya pencegahan dengan menggandeng setiap komponen masyarakat untuk terlibat dalam upaya pencegahan Narkoba ini. Pasalnya, gerakan pencegahan Narkotika masih minoritas.
”Iya harapan kita agar pemerintah ke depan menyeimbangkan antara pencegahan dan pemberantasan. Seluruh lapisan masyarakat harus dilibatkan penuh. Soalnya, gerakan pencegahan seperti ini itu masih menjadi isu terbelakang dan minoritas,” pungkasnya.(ari/c)
