MAKASSAR, BKM — Politisi Partai Demokrat yang pernah tercatat sebagai wali kota Makassar dua periode, lham Arief Sirajuddin (IAS) mengunjungi redaksi Harian Berita Kota Makassar (BKM) di lantai II Gedung Graha Pena, Jalan Urip Sumiharjo Makassar, Senin (5/7). Ia didampingi sejumlah tim dan kerabat. IAS melihat seperti apa perkembangan BKM yang baru saja merayakan HUT yang ke-24 pada 28 Juni lalu.
“Hebat dan mantap BKM selalu memiliki inovasi untuk terus berkembang,” puji IAS saat melihat dua studio yang kini dimiliki BKM.
Ia pun diwawancarai di studi pada sesi podcast untuk Youtube BKM. Dalam penjelasannya, IAS yang pernah tercatat sebagai ketua DPD Partai Demokrat Sulsel ini tidak membantah bila banyak dorongan dari yang meminta dirinya kembali maju di pemilihan gubernur (pilgub) Sulsel 2024 mendatang. “Iya, masih banyak dorongan dari masyarakat yang meminta saya untuk maju di pilgub Sulsel mendatang,” ujar IAS.
Hanya saja, IAS mengaku bila untuk maju, maka dirinya harus memenangkan Partai Demokrat pada pemilu legislatif mendatang. “Kalau Demokrat menang, maka kita bisa masuk lebih mudah atau jalan tol,” jelasnya.
Pada pilgub 2017 lalu, IAS maju bersama Abd Aziz Qahhar Mudzakkar. “Saat itu saya bersama Pak Azis mendapat pendukung lebih 1,7 juta pemilih,” sebutnya.
IAS punya strategi agar suara dan kursi Demokrat bisa meningkat. “Saya punya strategi, namun untuk langkah awal harus mengikuti musyawarah daerah (musda) Demokrat Sulsel lebih dulu,” jelasnya.
Menurutnya, dirinya bersama ketua Ni’matullah sama-sama punya visi untuk memenangkan partai dalam setiap kontestasi. Ke depan, Demokrat akan menjadi kekuatan yang jauh lebih diperhitungkan.
Terkait dukungan belasan pengurus DPC agar dirinya juga maju di musda, IAS meluruskan bila bukan soal dukung mendukung, tapi bagaimana agar Demokrat semakin kuat dan berjaya. Suami anggota Fraksi Demokrat DPR RI Aliyah Mustika ini dikabarkan telah mendapat respon positif dari 14 DPC. Masing-masing Maros, Pinrang, Parepare, Soppeng, Wajo, Luwu, Bulukumba, Sinjai, Barru, Toraja Utara, Jeneponto, Bantaeng, Luwu Utara, dan Palopo.
Soal niat IAS untuk ikut kontestasi pilgub Sulsel, pengamat politik dari Universitas Bosowa (Unibos) Dr Arief Wicaksono menilai jika secara normatif, demokrasi tidak menghendaki adanya diskriminasi terhadap hak-hak warga negara untuk ikut berpolitik, dipilih, dan memilih. Jadi dalam konteks normatif itu, IAS bisa saja hadir berkontestasi memanfaatkan peluang tersebut.
Namun demikian, tidak semua hal yang berkaitan dengan demokrasi, realitasnya adalah realitas normatif. Karena di dalamnya terdapat juga realitas lain yang lebih chaotik dan lebih brutal, yaitu banalitas politik.
“Sebagian publik Sulsel, tidak mungkin lupa juga bahwa IAS adalah mantan calon gubernur bersama Azis Kahar Mudzakar sebagai wakil gubernur. Dan sebagian yang lain juga pasti tidak lupa, bahwa IAS juga punya celah hukum yang dapat memengaruhi pencalonannya. Beliau pernah menjalani hidup beberapa tahun di ‘pesantren’ KPK atas kasus PDAM yang disangkakan kepada beliau saat itu,” ujar Arief Wicaksono.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ini, menilai jika celah itu kemungkinan besar tetap akan digunakan lawan politiknya sebagai senjata untuk menghadapi IAS di level manapun ia berada. Salah satu level yang sekarang menjadi bagian dari upayanya untuk membuka peluang politik adalah merebut kursi ketua Partai Demokrat Sulsel. Namun hal itu nampaknya juga akan terganjal oleh aktivitasnya yang disebut-sebut mendukung munas KLB Partai Demokrat versi Moeldoko.
Pengamat komunikasi politik dari UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad, menilai IAS sosok politisi sehingga realistis maju pilgub, apalagi sudah pernah maju. “Peluang maju pilgub bergantung pada upayanya mendapatkan kendaraan partai. Lebih strategis kalau jadi ketua partai serta tim yang kuat dengan dukungan finansial yang memadai,” jelas Firdaus. (rif)
