Site icon Berita Kota Makassar

Saya Pernah Dirawat karena Covid, Sakitnya Perih

PANDEMI covid-19 masih tengah berlangsung hingga saat ini. Bahkan kondisinya kian memprihatinkan. Berbagai kalangan menyerukan untuk saling membantu di tengah situasi ini. Khususnya terhadap pasien yang terinfeksi virus corona melalui donor plasma konvalesen.

DOKTER Wahyudi Muchsin merupakan salah satu penyintas (orang yang pernah terpapar) covid. Ia bahkan sempat menjalani perawatan medis secara intensif di rumah sakit. Pada saat itulah, pria yang juga Humas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar ini merasakan bagaimana nikmatnya saling membantu. Ya, dr Yudi mendapatkan donor plasma konvalesen dari penyintas covid.

”Waktu saya dirawat di rumah sakit karena covid, banyak beredar ajakan untuk membantu saya dengan cara donor plasma konvalens. Alhamdulillah, ada banyak yang mendonorkan plasmanya waktu itu. Saya dapat dua kantong, dan selebihnya untuk pasien lain. Karena saya memang minta untuk tidak menutup akses bagi yang ingin mendonorkan plasmanya,” terang dr Wahyudi ketika tampil pada podcast untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Selasa (13/7).
Ia juga berkisah bagaimana perihnya ketika dirinya terpapar virus corona. Dokter Yudi mengibaratkan seperti diiris.
Tidak mengherankan jika kemudian pria yang karib disapa Dokter Koboi ini massif menyuarakan ajakan untuk donor plasma konvalesen guna membantu sesama. Apalagi, menurutnya, cukup mudah melakukannya, yang penting memenuhi syarat. Terutama pernah terpapar covid-19.
”Plasma konvalesen ini merupakan cairan darah yang paling steril berwarna kuning keputihan, sebab memiliki tahap sterilisasi yang berbeda. Untuk menjadi pendonor, cukup datang ke PMI atau rumah sakit yang memiliki alat transfusi khusus plasma konvalens. Kalaupun tidak memenuhi syarat untuk mendonor plasma, bisa donor darah bagi pasien DBD (demam berdarah dengue),” jelas dr Yudi.
Adapun syarat untuk melakukan donor plasma kovalesen, yakni tidak memiliki riwayat penyakit bawaan, bagi wanita tidak hamil, usia 18-60, berat badan minimal 55 kg. Termasuk kandungan imunitas pendonor juga harus memenuhi syarat.
Dalam catatan IDI Kota Makassar melalui PMI, daftar tunggu orang yang membutuhkan plasma kovalesen di Kota Makassar saat ini berkisar di angka 30 sampai 40 orang. Sementara untuk di Indonesia, ada 3.000 orang yang antre untuk mendapatkan pendonor.
Lalu, apakah dr Yudi sudah donor plasma konvalesen? Ternyata belum. Alasannya, ia belum memenuhi syarat untuk melakukannya.

”Penyintas yang bisa donor konvalens itu enam bulan setelah dinyatakan sembuh dari covid. Sementara saya belum cukup. Saya sudah pernah datang ke PMI untuk donor, tapi tidak bisapi,” tuturnya.
Selain melakukan kampanya, sebelumnya PMI dan juga IDI Kota Makassar telah bekerjasama dalam membantu penanggulangan pandemi. Di antaranya memberikan sumbangan APD ke tenaga medis yang ada di Makassar. Sebab, PMI dan IDI memiliki peran yang kuat serta keterkaitan yang erat dalam membantu pencegahan penularan pandemi covid di Indonesia, khususnya di kota Makassar. Lembaga ini konsen pada sesuatu yang berhubungan dengan kemanusiaan dengan cara saling support.
Ditanya soal kondisi penyebaran covid-19 di Makassar saat ini, dr Yudi menyatakan keprihatinannya. Sebab rumah sakit yang merawat pasien covid sudah penuh. Karenanya, ia mengimbau agar masyarakat terus meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjauhi kerumunan, ditambah melakukan vaksinasi.

Apalagi sekarang terus bermunculan covid varian baru, seperti delta dari India dan terakhir varian lamda yang ditemukan di Peru. Varian lamda ini disebutkan dr Yudi 70 kali lebih ganas dari varian delta. (*/rus)

Exit mobile version