MENINGKATNYA penggunaan masker di tengah pandemi covid-19 menjadikan alat pelindung diri ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Kewajiban memakai masker merupakan salah satu protokol kesehatan yang harus dipatuhi.
Namun, seiring peningkatan pemakaian masker justru menimbulkan masalah baru. Lingkungan menjadi tercemar akibat limbah masker yang sulit terurai. Hal inilah yang mendorong empat mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) membuat sebuah inovasi.
Mereka tergabung dalam satu tim. Alifiah Alfaniah Alfattah Putri selaku ketua tim. Tiga anggotanya masing-masing Mutia Salsabila Syaifuddin, Dina Amelia Ahmad serta Ririn Febriani Val.
Alifiah, Mutia, dan Dina berasal dari prodi Pendidikan Kimia ICP angkatan 2018. Sementara Ririn berasal dari prodi Pendidikan Biologi ICP angkatan 2019. Mereka dibimbing oleh Dr Eng Sulfikar,SSi,MT yang merupakan dosen jurusan Kimia FMIPA UNM.
Dua dari empat mahasiswi inspiratif itu hadir dalam sesi podcast untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Kamis (15/7). Mereka adalah Alifiah dan Dina.
“Masker yang umum dipakai oleh masyarakat sekarang itu sulit terurai dan dapat mencemari lingkungan. Oleh sebab itu, kami berinisiatif membuat masker yang mudah terurai dan tidak menimbulkan masalah yang cukup serius untuk lingkungan,” terang Alifia.
Inovasi masker berbahan eceng gondok ini dirancang oleh empat mahasiswi, yang mempunyai kesamaan keinginan untuk mencoba mengikuti salah satu program, yaitu PKM (Program Kreatif Mahasiswa) dari Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenritekdikti). Alifia mengatakan, “Kami membuat proposal mengenai inovasi masker eceng gondok dan Alhamdulillah diterima. Pengajuan kami lolos dan mendapat pendanaan.”
Pada awalnya, eceng gondok menjadi salah satu dari tiga bahan utama yang sempat menjadi pilihan. Dua lainnya adalah limbah tongkol jagung dan tebu. ,Ketiga bahan tersebut diklaim mempunyai kandungan selulosa. Namun limbah tongkol jagung dan limbah tebu sudah umum digunakan, sehingga eceng gondok menjadi pilihan yang menarik untuk inovasi ini.
“Eceng gondok rupanya memiliki kandungan selusoa sekita 50 persen. Dan kebetulan, kampus kami, UNM Parangtambung itu berdekatan dengan sungai Je’ne Berang yang di sana terdapat banyak tumbuhan eceng gondok. Jadi, untuk masalah bahan baku, kami memilih eceng gondok,” terang Alifia.
Dina menambahkan, “Sebelum mengambil selulosanya, kami preparasi dulu eceng gondoknya. Pertama-tama, kita kumpulkan dulu eceng gondoknya. Kemudian kita keringkan dengan cara dijemur di bawah terik matahari selama tujuh hari. Gunanya untuk menghilangkan kandungan airnya. Kemudian kami haluskan menggunakan blender dan ayakan. Setelah itu, barulah kami ekstraksi menggunakan metode soft lab untuk menghilangkan kandungan-kandungan yang tidak dibutuhkkan dalam eceng gondok. Ampas yang sudah diekstraksi tersebut kemudian direaksikan dengan pereaksi-pereaksi tertentu sehingga menghasilkan selulosa.”
Sejauh ini, perkembangan pembuatan masker berbahan dasar eceng gondok masih dalam proses pembuatan mikrofilter. Ditargetkan, akhir bulan Juli 2021, masker eceng gondok ini sudah bisa diselesaikan. Setelah itu akan diadakan uji coba mengenai keefektifitasannya, serta melihat perbandingannya dengan masker yang umum digunakan masyarakat.
Seperti yang umum diketahui, UNM dikenal sebagai kampus pencetak guru di Makassar, sementara keempat mahasiswa ini cenderung meenghasilkan sebuah penemuan baru. Alifa menjelaskan bahwa dirinya lebih suka melihat efek langsung yang terlihat. Karena pendidikan tolok ukurnya hanya ke murid, sementara lingkungan hasilnya lebih cepat kelihatan.
“Kami berharap, inovasi ini dapat dikembangkan dan diproduksi dalam skala yang lebih besar. Kami juga berharap dapat membantu pemerintah dan pihak-pihak lainnya dalam menyelesaikan masalah lingkungan ini. Tapi, sebenarnya target kami untuk saat ini adalah pembuatan hak paten. Setelah itu, mungkin kami akan merancang untuk produksi massalnya,” terangnya.
Mengenai hak paten, tentunya sudah dipikirkan, namun fokusnya masih dalam proses pembuatan resep dari mikrofilter tersebut. Sebab masih melakukan pengujian terhadap beberapa komposisi maskernya. “Untuk syarat pengajuan hak paten tentunya kami akan membuat jurnal ilmiah yang akan diajukan ke pihak pemerintah, sehingga bisa dipatenkan. Namun untuk saat ini kami fokusnya ke tahap pembuatan terlebih dahulu,” tambah Dina.
Alifia mengatakan, inovasinya ini akan diikutkan lomba PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) setelah tahapan penerimaan dana diwajibkan ikut manuvei. Kemudian membuat laporan kegiatan apa saja yang dilakukan sampai akhir dan akan dinilai, apabila hasilnya bagus pasti akan diikutkan lomba. (*/rus)
