MAKASSAR, BKM — Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional di Indonesia. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar Tenri A Palallo bersama Wali Kota Mohammad Ramdhan Pomanto memperingatinya dengan mengikuti secara virtual bersama Presiden Joko Widodo dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati.
Dari prosesi tersebut, anak-anak menyampaikan harapan mereka kepada Presiden RI. “Mereka ingin sekolah. Mereka rindu sekolah tapi mereka diminta ‘sabar dulu yah’ sekolahnya,” tutur Tenri yang hadir dalam program RanahRus untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Rabu (23/7) usai mengikuti peringatan HAN.
Menurut Tenri, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memita semua untuk kreatif dalam hal bekerja. Kreatif dalam hal memberi dukungan kepada anak-anak, terutama kepada keluarga agar mereka memberikan waktunya menemani anak-anak mereka pada masa pandemi seperti sekarang ini.
Di bagian lain penjelasannya, Tenri juga memaparkan beberapa hal mengenai program P3A. “Dinas P3A Makassar itu konsentrasi kepada layanan. Unit layanan terpadu, unit pelaksana teknis perlindungan perempuan dan anak itu tidak pernah tutup. Masa pandemi ini kita terus buka dan kita berusaha memberi perlindungan kepada anak-anak kita. Anak-anak dan perempuan korban kekerasan. Karena itu, kantor terus dibuka,” ujarnya.
Diakui Tenri, hingga saat ini kasus rudapaksa masih terjadi di Makassar. Booking online juga menjadi salah satu hal yang meresahkan di era digital saat ini. Masih banyak anak-anak yang menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Bahkan sering ditemukan bahwa pelaku kekerasan seksual rerata adalah kerabat dekat korban, seperti paman dan ayah kandung.
Kasus lain seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), kekerasan psikis dan pemukulan, hingga ditinggal kawin juga masih didapati. Selain itu, di masa pandemi ini, ada banyak kasus kehamilan anak usia dini di luar nikah. “Kalau untuk anak-anak, akses menikah di usia anak (muda) karena kehamilan. Jadi banyak anak-anak yang hamil di masa pandemi ini, terpaksa kami beri rekomendasi menikah di usia muda,” ungkapnya.
Bisa dikatakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kasus kehamilan di usia muda adalah pengaruh penggunaan gawai. “Jadi sekarang ada kecenderungan baru. Ibu atau ayah, orang tua menenangkan anaknya dengan memberikan mereka handphone. Nontonlah dia macam-macam. Karena dia pandai akhirnya terbuka konten-konten porno. Konten itu kemudian dilihat, dipraktikkan ke temannya, jadilah satu kasus lagi,” terangnya.
Untuk itu, lanjut Tenri, orang tua sebaiknya tidak terlau membiarkan anak-anak memegang gadget terlalu lama. Optimalnya hanya dua jam. Namun, karena proses belajar mengajar di sekolah saat ini membutuhkan gawai sebagai medianya, maka orang tua wajib mengawasi anak-anaknya setiap kali harus menggunakan alat tersebut.
”Orang tua jangan menjadi pelaku. Anaknya marah atau rewel langsung diberi gadget agar tenang, sementara orang tuanya ngerumpi,” jelasnya.
Diakui Tenri, jika dibandingkan dengan daerah lain, jumlah kasus yang ada di Makassar termasuk rendah. Walaupun demikian, kasus tersebut tetap ada. Untuk itu P3A senantiasa waspada.
“Waspada itu bagaimana? Kita ingatkan kepada seluruh keluarga agar menjaga anaknya. Sementara untuk pusat pembelajaran keluarga (puspaga) kita ingatkan agar meredefinisi kembali keadaan ekonomi keluarga. Harus bisa menyesuaikan antara kebutuhan dan keinginan,” paparnya.
Selain PPA, Shelter Warga ikut membantu dalam mensosialisasikan pentingnya menjaga perempuan dan anak-anak. Makassar pernah mencatat kasus lebih dari 750-1.000. Bahkan mencapai puncaknya di angka 1.300 lebih. Tahun ini tersisa 1.000-an. Ada penurunan sebanyak 300 kasus. Jika dilihat angka-angka ini, terkontribusi dari shelter warga melakukan sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Itu mereka lakukan di tingkat shelter dengan sumber daya yang dimiliki. Misalnya saat ada kegiatan atau acara orang lain, dia ikut, menggunakan jaket. Karena memang para aktivis ini direkrut. Dan ini yang menurut kami berkontribusi terhadap penurunan angka kekerasan terhadap perempuan dan perlindungan anak,” terangnya.
Selain aktivis Shelter Warga, Forum Peduli Anak Kota Makassar juga menjadi salah satu yang berkontibusi membantu DP3A. Forum anak itu sebagai pelapor dan pelopor. Di Hari Anak Nasional ini, forum anak ini yang berperan. Mereka mengambil gambar, bertemu, negosiasi, termasuk vaksinasi terhadap anak-anak juga dimotori oleh mereka itu yang berusia 18 ke bawah. Mereka adalah pengurus Forum Anak Peduli Kota Makassar.
Sebagai penutup, Tenri A Palallo menggingatkan kepada semua orang tua yang ada di Makassar. “Ibu atau ayah tolong anaknya dijaga. Mari jagai anakta, kerena kalau kita tidak menjaga anakta, itu sama saja dengan kita matikan masa depan kita sama-sama. Anak itu pemilik masa depan, karena anak harus dijaga dari sekarang. Disiapkan agar mereka menjadi penerus bangsa, menjadi kebanggan kita bersama dan bermanfaat bagi orang lain,” tandasnya. (pkl)
