Site icon Berita Kota Makassar

Awalnya Dibayar Rp125 Ribu, Cacian Jadi Motivasi

SINTA Putri Trisya namanya. Ia mengawali karir sebagai seorang pemain sinetron di tahun 2016. Bermodalkan nekat, ia hijrah dari Makassar ke Jakarta untuk mengejar mimpinya. Wanita berhijab ini membagikan kisahnya dalam program podcast Diary Putri yang tayang di kanal Youtube Berita Kota Makassar.

AWALNYA, kala duduk di bangun SMA tahun 2010, Sinta terjun ke dunia modelling. Seiring berjalannya waktu, ia mulai melirik dunia akting. “Setiap kali saya menonton televisi, saya selalu bilang; kapan ya saya bisa bermain sinetron,” tuturnya kepada host Putri Sasongko.
Ia percaya dengan ungkapan ‘ucapan adalah doa’. Dan benar saja, pada tahun 2016, wanita yang sudah mantap berhijab ini akhirnya memberanikan diri mengikuti casting-casting pada semua stasiun televisi di ibu kota. Hingga akhirnya dirinya berkesempatan mendapatkan sebuah peran. “Jadi, untuk yang ingin sukses, perbaikilah tutur kata kita,” begitu pesannya.

Namun, hidup tentu saja tidak begitu mudah dijalani. Terlebih di kota besar seperti Jakarta. Sebagai permulaan karirnya, Sinta mendapatkan peran sebaga figuran. “Bulan pertama di sana, saya mendapat peran figuran. Yang jalan-jalan. Waktu itu saya dibayar Rp125 ribu per episode dan nasi kotak,” kenangnya.
Di Jakarta, ia tinggal seorang diri. Tidak punya kerabat maupun keluarga. Sinta mesti berjuang sendirian demi masa depannya. Prinsipnya, ia harus sukses. Harus bisa membuat bangga kedua orang tuanya. Membuktikan bahwa sebagai seorang wanita yang lahir di luar Jakarta, ia juga mempunyai potensi dan bisa mewujudkan keinginannya.
Setelah perannya sebagai figuran selesai, sebulan kemudian ia kembali mendapat tawaran bermain sinetron. “Alhamdulillah, di situ saya diberi peran yang bagus dan langsung dikontrak,” imbuhnya dengan mimik bahagia.
Meski mendapatkan peningkatan, namun itu tetap bukan hal yang mudah baginya. Ia diberi tanggung jawab untuk dapat melakonkan perannya dengan baik. “Sampai di sana saya diberi peran dan scanenya banyak. Disuruh cepat-cepat,” ujarnya.

Sebagai pemula, tentu saja ada rasa grogi. Begitu pun yang dialami gadis kelahrian Pinrang, Sulawesi Selatan ini. Grogi membuat actingnya menjadi tidak maksimal. “Sutradaranya bilang, kamu bisa acting ngga sih? Saya digituin dengan bahasa kasar. Dikata-katain,” akunya.
Hal tersebut membuatnya berpikir betapa susahnya mencari uang. Namun, Sinta Putri tidak menyerah dalam meraih impiannya. Ia adalah perempuan yang gigih dan punya tekad yang kuat. “Sampai di kos saya nangis. Saya bilang kepada diri saya sendiri. Saya harus belajar, saya harus pintar, saya tidak boleh begini terus. Saya harus maju!”
Mendapati pengalaman seperti itu, lalu apa yang membuatnya tetap bertahan dengan kerasnya kehidupan di ibu kota? “Menurut saya, cacian adalah motivasi,” tegasnya.
“Hidup ini, jika jalannya lurus-lurus saja, tidak istimewa. Tidak ada tantangannya. Jadi tidak apalah. Itulah sebagai pembelajaran buat saya ke depannya,” tambahnya.
Ia bertahan selama tiga tahun di Jakarta. Tanggapan orang tuanya yang antusias ketika melihat wajahnya muncul di televisi membuatnya semangat untuk tetap berjuang di ‘kota orang’. “Keluarga dan orang tua bangga melihat saya ada di TV. Ya… sudah, walaupun saya dikasari, hidup seadanya, tidak apa,” tandasnya.
Sinta percaya proses tidak akan mengkhianati hasil. “Saya bisa dibilang orang yang mau menjalani proses. Saya tidak mau yang instan. Seandainya pun saya mau, saya bisa. Tapi saya memilih untuk berproses,” katanya.
Selain bermain sinetron, Sinta juga merupakan seorang host pada salah satu acara di stasiun televisi swasta. Dengan basic modelling dan akting, lantas apa yang membuatnya berani mengambil peran sebagai host?
Sekali lagi ia menjawab, “Ya itu, nekat! Semuanya saya sapu rata. Karena begini, saya ditawari menjadi host di salah satu acara TV, why not? Kesempatan tidak datang dua kali. Jadi, menurut saya, ketika saya mampu, saya bisa, ya kenapa tidak?. Ketika mendapatkan sebuah kesempatan yang memang dapat dijalankan, jangan disia-siakan,” jelasnya.

Selain host dan pertelevisian, Sinta juga pernah menjadi bintang iklan. Namun sekarang, ia sedang sibuk kuliah dan menjadi seorang freelancer.
Sebagai penutup, Sinta berpesan untuk semua orang yang mungkin sedang down, sedang berada di posisi bimbang antara terus maju atau berhenti. “Sabar, semua butuh proses. Artis saja yang filmnya sudah banyak, pasti pernah berada di posisi terendah. Jadi manusia itu, menurut saya harus pandai-pandai melihat situasi. Apalagi sekarang pandemi. Kita kan anak muda, anak milenial. Kita harus berpikir, oh iya, karena pandemi seperti ini saya harus berbuat apa. Berkarya boleh, lewat sosial media sepeti Youtube, Instagram, Tiktok, yang ada penghasilannya sebenarnya banyak peluangnya.”
Di masa pandemi ini, kata Sinta, kita tidak bisa diam saja. Kita harus bertindak. Walau di rumah saja, harus tetap bisa berkreasi dan berkarya. (pkl)

Exit mobile version